
Berbeda dengan hari biasanya, pagi ini bukan supir yang mengantarkan Jingga berangkat ke kampusnya, tapi Lucas, walaupun banyak perdebatan panjang sebelum berangkat, Jingga yang bersikeras tidak ingin Lucas mengantarnya, karena hari ini gadis itu jam kuliahnya cukup siang, tapi Lucas masih bersikeras ingin mengantarkan istri kecilnya itu.
Dengan berat hati Jingga akhirnya menyetujuinya, mereka berdua berangkat bersama, Tapi Jingga tidak ingin Lucas mengantarnya sampai depan kampus, gadis itu tidak ingin menjadi pusat perhatian, karena mobil mewah yang mereka kendarai saat ini.
Gadis itu ingin Lucas menurunkannya di tepi jalan agak jauh dari kampusnya. Sontak Lucas tidak menyetujuinya, pria itu ingin mengantarkan Jingga sampai didepan Kampusnya.
Hingga Jingga mengatakan, jika Lucas menurunkannya sebelum kampusnya, Jingga akan memberinya sebuah hadiah sekarang juga untuk pria itu.
Dan Jingga memberinya sebuah ciuman, sebuah ciuman yanh seharusnya menjadi sangat singkat, malah menjadi ciuman yang panjang dan panas, beruntung di dalam mobik tersebut, terdapat sebuah sekat yang akan memisahkan bagian depan dan belakang, itu artinya orang yang berada di depan tidak akan tahu apa yang dilakukan mereka di kursi samping.
Namun, saat menyudahi ciuman itu, bukannya Jingga turun, Lucas malah kembali memerintahlan supirnya untuk melanjutkan perjalanan.
Dan di sinilah Jingga sekarang, terjebak dalam satu mobil bersama Lucas. Mereka sudah sampai di depan perusahaan, hanya saja Jingga tidak ingin mengambil resiko dengan dia yang turun dari mobil Lucas, entah kenapa gadis itu mereka canggung, karena setiap dia datang bersama Lucas, setiap pasang mata akan melihatnya dengan tatapan aneh, seakan mereka bertanya-tanya bagaimana gadis sepertinya bisa bersama Lucas. Apalagi masih banyak orang berkeliaran di lobby. Bisa-bisa dia akab menjadi pembicaraan hangat di sana, dan gadis itu tidak menyukai itu, menjadi pusat perhatian. Maka dari itu Jingga memiloh diam di mobil, seraya memainkan ponselnya. Menunggu hingga keadaan lobby sepi. Merasa marah pada Lucas, bahkan dia mengabaikan pria itu. Jingga tidak peduli, karena Lucas telah membawanya ke kantornya bukan ke kampusnya. Saat keadaan sepi, barulah Jingga keluar mobil, tanpa memedulikan Lucas lagi.
Lucas sebenarnya mempunyai tujuan sendiri, dia tidak berniat untuk mengingkari janjinya, tadi saat mereka selesai dengan ciuman mereka, ia melihat bagaimana kacaunya Jingga dan Lucas tidak ingin istrinya pergi ke kampusnya dalam keadaan seperti ini. Selain itu pula, dia ingin agar Jingga selalu bersamanya, tidak ingin jauh darinya, karena sejujurnya Lucas sudah meminta Jingga untuk berhenti kuliah, tapi gadis itu bersekeras, dia ingin kuliah hingga mendapat gelas S1 nya. Dia ingin menjadi wanita modern yang berpedidikan walaupun sudah menikah, karena baginya pendidikan itu nomer satu baginya.
Tapi nyatanya wanita itu tampaknya memang sangat marah.
" Apa kamu masih padaku ?" Ucap Lucas manja seraya memeluk istrinya itu.
" Kamu tahu, bisa-bisa aku di DO jika sering bolos jam kuliah." Ucap Jingga marah.
" Bagus dong, kamu jadi lebih fokus mengurus suamimu ini."
" Lucas, aku akan menjalankan kewajibanku padamu, tapi aku juga ingin mengejar cita-citaku."
" Cita-cita ? Bukankah sudah tercapai, punya suami tampan kaya raya, itu sudah menjadi cita-cita banyak wanita."
" Itu bukan cita-citaku."
__ADS_1
" Jadi kamu tidak suka memilikiku ?" Tanya Lucas dengan manjannya.
" Tidak sama sekali." Goda Jingga.
" Beraninya ya, coba katakan lagi, aku akan menghukummu." Ucap Lucas seraya mencubit dengan gemas pipi istrinya itu.
" Awh..... sakit." Ucap Jingga pura-pura kesakitan.
" Mana yang sakit, sini aku obatin." Ucap Lucas, lalu diciumnya pipi istrinya itu.
" Ok udah sembuh." Ucap Lucas gemas.
Jingga merasa malu dengan sikap Lucas, gadis itu tidak menyangka Lucas bisa bersikap seperti ini.
" Sekarang antarkan aku ke kampus ." Ucap Jingga.
" Kenapa memang ?" Tanya Jingga ganti.
Lucas tidak menjawab pria itu hanya fokus pada tubuh yang paling menonjol dari istrinya itu.
Jingga yang menyadari itu, segera menutupi dadanya dengan kedua tangannya.
" Itu kancing bajumu lepas, kamu mau berangkat ke kampus seperti ini, apa kamu sengaja memamerkan tubuhmu ?" Goda Lucas, pria itu kali ini berjalan mendekat kearah Jingga, dan gadis itu malah melangkah mundur.
Dia mau ngapain , nggak mungkin sekarang dia ingin melakukan itu di sini kan ?
Jingga terus melangkah mundur, hingga sebuah tembok dinding di ruang itu, menghentikan langkahnya. Seakan gadis itu menemukan jalan buntu yang membuatnya tidak bisa bergerak lagi.
" Lucas, ini masih pagi." Ucap Jingga takut.
__ADS_1
" Pagi, lihatlah jam di tanganmu, sekarang jam berapa ?"
Di lihatnya jam di tangannya, jarum jam menunjukkan pukul 10.00 WIB.
" Lucas, bagaimana kalau kita makan, aku lapar." Ucap Jingga mencoba mengalihkan.
" Makan ? Sepertinya waktunya tepat untuk aku memakanmu." Goda Lucas.
Hingga tangan Lucas mencoba menarik kancing di bajunya yang hampir lepas.
" Tidak mungkinkan, kamu pergi kekampus dengan memakai kemeja seperti ini."
Jingga kaget, bagaimana bisa kancing kemejanya lepas, apakah saat berciuman dengan Lucas di dalam mobil, kenapa dia tidak menyadarinya ?
Dengan cepat Jingga menutupinya.
" Makanya jangan mikir mesum terus." Ucap Lucas, sambil menyentil pelan dahi istrinya itu.
" Mesum, hahaha bukanya kamu ya ?" Goda Jingga.
" Aku, bukannya kamu, yang langsung memikirkan itu saat aku mendekatimu ?"
" Tidak, aku hanya wasapada aja." Ucap Jingga berdalih.
" Wasapada ? Apakah seperti ini."
Lucas langsung mengecup bibir istrnya itu.
" Lucas !" Teriak Jingga kesal. Dan Lucas malah tertawa bahagia dengan penuh kemenangan.
__ADS_1