CEO Dingin Yang Bucin

CEO Dingin Yang Bucin
Jimmy dan Lucas


__ADS_3

Akibat pesta yang di buat Lucas kemarin, dan banyak wartawan dan media disana, secara otomatis hampir semua media memberitakan mereka berdua.


Jingga duduk di sofa ruang tengah, matanya menatap serius tayangan di televisi dan jangan lupa remote TV yang berada di gemgamannya, katakan dia lebay, tetapi Jingga merasa harus memantau pemberitaan mengenai dirinya di televisi, ia ingin mengukur, seberapa penting berita pernikahan Lucas di berbagai media pemberitaan pun menayangkan kebar tersebut.


Bagaimana aku kuliah besok ? Mau ditaruh mana muka ku ini ? Aaa aku belum siap, dengan tatapan aneh semua orang, yang menatapku seakan aku tidak pantas untuk Lucas. Aku belum siap untuk itu !


" Tumben kamu nonton Tv ?"


Jingga tersentak kaget saat Lucas tiba-tiba melompati punggung sofa dan menyelinap duduk di belakang tubuhnya. Pria itu bahkan sudah memeluk perutnya dan menyandarkan dagu diatas bahunya.


" Besok aku kuliah gimana ?"


" Aku antar."


" Lucas, bukan itu maksudku ?"


" Terus ?"


" Semua orang akan menatapku, kamu lihat di TV sekarang, muka ku dimana-mana, keluar rumah aja aku ngrasa nggak sanggup, gimana mau kuliah ?"


" Terus ?"


" Terus-terus, Lucas aku serius ?"


" Apa kamu malu menikah denganku ?"


Malu ? Seharusnya aku yang bertanya seperti itu !


" Bukan begitu, aku yang malu, merasa tidak pantas untukmu." Ucap Jingga sedih, ditundukkannya kepalanya dalam-dalam.


Bukannya mengeluarkan kalimat hiburan atau solusi, Jingga malah mendengar kekehan dari Lucas yang berada di belakangnya.


" Berhenti kuliah ? Mau ? Kamu nggak usah kuliah, di rumah aja duduk manis atau jalan-jalan habiskan uangku, atau merawat anak kita ? Bagaimana ?"

__ADS_1


Jingga mengernyitkan dahi. Lalu di cubitnya perut suaminya itu, Hingga membuat Lucas pura-pura kesakitan.


" Sudah aku bilang, aku mau menyelesaikan kuliahku, dan lagi aku ingin menunda dulu punya anak."


Mendengar itu, secara perlahan Lucas melepas pelukkannya. Raut wajahnya tiba-tiba menjadi dingin tak berekspresi.


" Kamu tidak mau mengandung anakku ?" Tanya Lucas dingin.


" Bukan begitu, menunda bukan berarti tidak mau." Ucap Jingga, gadis itu membalik badannya hingga dia bisa melihat dengan jelas wajah Lucas.


" Aku ingin memiliki anak darimu, tapi tidak sekarang, aku masih punya cita-cita yang ingin aku gapai, dan lagi umurku masih 24 tahun, bukankah terlalu muda untuk memilki anak ?" Tambah Jingga


Lucas tidak menjawab, raut wajahnya masih dingin tak berekspresi.


" Lucas, apa kamu marah padaku ?" Tanya Jingga hati-hati, ia bisa merasakan rasa marah yang di pendam dari pria itu.


" Tidak, aku tidak marah, kamu tahu aku tidak bisa marah padamu ." Ucap Lucas, senyum palsu tercipta di bibirnya.


Jingga merasa aneh dengan senyuman itu, ia bisa tahu senyuman itu palsu.


Rumah Jimmy


Ya Lucas saat ini berada di rumah Jimmy, saat ini pria itu sedang kacau dengan pikirannya, ucapan Jingga yang mengatakan belum siap memiliki anak membuatnya kecewa.


Pria itu hanya bisa diam sambil menikmati minuman beralkhol yang ada di tangannya tanpa berucap, apa lagi cerita tentang penyebab kegundahan hatinya pada Jimmy. Dan Jimmy hanya bisa diam menemani tuannya minum, tanpa banyak bertanya.


Lucas memainkan gelasnya, memutarnya dengan pelan, hingga dia bisa melihat air di dalam gelas itu bergerak mengikuti irama yang di buatnya. Entah sudah berapa banyak minuman yang ia habisnya, tapi yang terlihat jelas adalah banyak botol kosong di meja itu.


" Apa tuan mau makan ?" Tanya Jimmy, mencoba memecah keheningan.


" Makan ? Tidak ? Aku mau anak !"


Anak ? Kenapa dia bilang padaku , Katakan pada istrimu tuan !

__ADS_1


" Jingga bilang dia belum siap memiliki anak ?"


Oh, jadi ini alasanya , dia kemari ! Menghinghindari istrinya !


" Dia bilang banyak hal yang ingin dia kejar ." Ucap Lucas kecewa, di tengah kesadarannya yang sudah malai hilang.


" Sebaiknya saya antar tuan pulang sekarang ." Ajak Jimmy, pria itu mencoba memapah tuannya, tapi sayangnya dengan cepat Lucas menepis tangan itu.


" Tidak, aku mau di sini." Ucap Lucas meracau.


" Tuan, sudah malam, nyonya Jingga pasti sudah menunggumu."


" Menungguku ? Tidak ? Dia tidak menungguku ? Dia pasti sedang mikirkan banyak yang ingin dia kejar."


Oh tuhan, kenapa aku jadi ikut pusing, memikirkan masalah rumah tangga mu tuan, jika ada masalah selesaikan di rumah, jangan kau lari dan bicara tidak jelas di sini.


" Duduklah, dan temani aku minum." Ajak Lucas, di tariknya tangan Jimmy untuk segera duduk di sampingnya.


Jimmy membuang nafas kasar, sangking kesalnya, dia merasa pusing melihat dan mendengar ocehan tuannya, entah sudah berapa kali Lucas mengulang kata Jingga tidak mau mengandung anakku !


Jimmy merasa frustasi, di acaknya rambut kepalanya dengan kasar. Rasanya dia sudah tidak bisa menahan lagi.


" Jingga tidak mau mengandung anakku ." Ucap Lucas berulang-ulang kali.


" Hentikan tuan ! Aku sudah sangat lelah dan bosan mendengat kata-kata itu !" Ucap Jimmy kesal.


" Mengandung dan hamil bukan hal yang mudah, setidaknya hargai setiap keputusan nyonya. Apakah yang mengandung itu tuan ? yang mengandung itu wanita, dan itu tubunya, dia ingin anak berapa banyak itu terserah wanita dan wanita berhak menolak jika dia tidak menginginkannya, jangan jadi egois tuan, jangan jadi manusia yang selalu ingin di nomor satukan , kalau tuan sendiri tidak bisa menghargai, lagian nyonya bilang menunda bukan tidak mau tuan, tolong jangan keras kepala !


Lucas terdiam, antar sadar dan tidak, dia bisa mendengar dengan jelas setiaP kata yang Jimmy katakan, Setiap ucapan Jimmy bagaikan batu besar yang menimpanya, ucapan Jimmy ada benarnya.


Hingga tak lama kepalanya terasa berat, pandanganya kabur, dan kini Lucas sudah tertidur pulas tak sadarkan diri.


Lagi-lagi Jimmy membuang nafas berat, sungguh merepotkan sekali tuannya ini. Tapi tiba-tiba senyuman simpul tercipta di bibirnya.

__ADS_1


Sungguh sangat merepotkan, memilki tuan sepertimu !


Tanpa menunggu lama, Jimmy segera membawa dan memulangkan tuannya ke rumahnya.


__ADS_2