CEO Dingin Yang Bucin

CEO Dingin Yang Bucin
Kecewa


__ADS_3

Seperti dugaan Jingga, Dika bukan pria biasa, ya biasa. Dia saudara Jingga yang kelewat jahilnya. Entah sudah berapa kali Jingga di buat emosi dengan tingkah sepupunya itu. Mulai dari nyelonong tanpa permisi, duduk diantara Jingga dan Lucas, hingga berniat untuk tidur bersama, dengan alasan takut nginep di rumah orang asing. Terus kenapa kamu nggak pulang ?


Jingga sudah tidak bisa menahan lagi, ingin rasanya mengusir keluar pria itu, tapi lagi-lagi, Dika menggunkan kelemahannya, Ya kelemahannya. Lucas. Dika begitu pandai mengambil hati suaminya itu.


" Oh ya, Kamu masih ingat Damar nggak ?" Ucap Dika, di sela sarapan mereka bertiga.


Mendengar itu, sontak Jingga menoleh kerah Dika, dengan tatapan tajam, seakan matanya berkata Kenapa kamu nyebut nama Damar ?


Damar, cinta monyet Jingga waktu SMA, kakak kelas Jingga, Jingga remaja begitu mengangumi Damar, pria yang terpaut hanya 2 tahun darinya. pria dengan segudang prestasi, ketua osis yang merangkap menjadi ketua tim basket.tak heran jika Jingga begitu mengidolakannya. Terlebih Damar tetangga Jingga, hingga tidak.di elakkan membuat Jingga sering bertemu, bahkan berangkat sekolah bersama.


Jingga remaja, pernah menaruh hati pada Damar, tapi semua sirna ketika Damar, menolaknya dengan halus, dan menganggapnya sebagai adik saja. Dan bagi Jingga sekarang, Damar hanya cerita masa lalu.


" Dia titip salam buat kamu." Ucap Dika lagi.


Lucas yang awalnya tidak tertarik dengan pembahasan Dika, tiba-tiba menoleh kesumber suara.


" Siapa Damar ?" Tanya Lucas.


" Dia itu, mantan Jingga."


" Nggak, siapa juga yang pacaran sama dia." Sangkal Jingga.


"Loh, bukannya kamu dulu ngejar-ngejar dia." Tambah Dika, yang semakin membuat suasana menjadi panas. Ya panas, Lucas. Saat ini sedang panas mendengar nama pria yang disebut oleh Dika, terlebih dia mendengar dengan jelas Jingga pernah mengejarnya.


" Jangan bicara aneh-aneh ya." Ucap Jingga mengancam dengan jari telunjuknya.


" Udah nggak usah malu, aku ingat gimana kamu ngejar-ngejar dia ?" Dika semakin memprovovikasi Lucas.


Dan Jingga yang mulai menyadari itu, hanya bisa melototi Dika, untuk berhenti bicara.

__ADS_1


" Kamu pernah ngejar-ngejar pria ? Terus kenapa kamu nggak pernah ngejar aku ?" Tanya Lucas dengan polosnya.


Emang kita lagi main kejar-kejaran.


Jingga hanya bisa menghela nafas panjang, dia tahu Lucas, kenak+kanakan ketika cemburu, tapi nggak begini juga.


" Udah jangan dengerin omongan Dika, udah kamu cepet habisin sarapan kamu, udah siang."Ucap Jingga mengalihkan pembicaraan, rasanya dia cukup pusing Dika di sini, ditambah lagi mendengar omongan ngawur Dika saat ini.


" Jawab dulu, kamu beneran suka sama si Damar itu ?" Tanya Lucas, mencerca.


" Nggak, aku aja udah lupa gimana wajahnya." Ucap Jingga berbohong. Ya berbohong, karena samar-samar dia mengingat bagaimana sosok Damar, cinta monyetnya dulu. Pria tampan berkaca mata dengan tinnggi badan 185 cm.


" Bagus, kamu cuma boleh ingat wajah tampanku." Ucap Lucas.


Mendengar itu, Jingga hanya bisa mengangguk pasrah. karena yang terpenting saat ini hanya bagaimana agar Lucas berhenti mencercanya dengan pertanyaan absurdnya tentang Damar.


" Mulutmu itu,lama-lama tak sumpel sama keset dapur." Ucap Jingga kesal pada Dika.


Dan Dika malah tertawa mengejek dengan puas.


" Tapi beneran loh, Damar bener-bener titip salam."


" Nggak peduli."


" Beneran nggak peduli ? Ini Damar loh, cinta pertama mu."


" Bodoh."


" Oh ya, ngomong soal orang tuamu, kamu nggak pengen ketemu ?" Tanya Dika, mendengar itu, hati yang awalnya kesal tiba-tiba menjadi kelam, sejujurnya Jingga masih marah pada mereka, kenapa bisa setega itu meninggalkan Jingga, tapi mau bagaimana keadaannya, Jingga benar-benar menrindukan orang tuanya.

__ADS_1


" Mereka di mana ?" Tanya Jingga sedih.


" Mereka di kalimantan."


" Ngapain ? Urbanisasi." Jawab Jingga asal.


Ini anak, di ajak ngomong serius, malah bercanda ya."


" Iya, perpindahan dari kota ke desa." Jawab Dika kesal.


" Kamu tahu mereka di sana dari siapa ?"


" Aku tidak sengaja ketemu mereka, waktu magang di salah satu perusahaan penambangan di sana."


" Ow...., Terus ?"


" Ya terus mereka, minta tolong untuk menyampaikan pesan, mereka pengen tahu kabarmu dan mereka minta maaf udah ninggalin kamu sendiri."


" Sekarang kamu sampaikan ke mereka, aku baik-baik saja, mereka nggak tahu gimana hidupku, tiap hari di kejar rentenir." Ucap Jingga yang mulai emosi, jika mengingat kejadian lalu.


" Iya aku tahu, aku juga sadar kalau apa yang dilakukan orang tuamu salah, tapi mereka tetap orang tuamu, dengan alasan apapun, mereka pasti sangat menyayangi mu."


" Udah, aku mau siap-siap berangkat kuliah ." Ucap Jingga mencoba mengakhiri pembicaraan, bangun dari duduknya dan bergegas menuju kamarnya.


Untuk saat ini dia tidak ingin membahas lebih lanjut tentang orang tuanya, rasa kecewanya masih membara di hatinya, tapi dia sadar, tidak butuh waktu lama ia akan memaafkan orang tuanya dan menemui mereka, tanpa harus bertanya apa alasan mereka meninggalkannya.


Karena tidak bisa dia marah apalagi membenci orang tuanya.


Dan Dika hanya bisa menghela nafas berat, dia tidak tahu harus bagaimana membujuk Jingga untuk memaafkan orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2