CEO Dingin Yang Bucin

CEO Dingin Yang Bucin
Merajuk 3


__ADS_3

" Udah kamu pulang aja, ini kamar Riva, nggak enak sama dia ." Jingga masih berusaha menahan bibir Lucas yang berusaha menciumnya.


" Kalau aku pulang, ya kamu harus ikut !"


" Nggak, aku bilang aku lagi marah sama kamu !"


Lucas mulai menyerah, ia tidak lagi memaksa bibirnya,lalu membuang nafas panjang.


" Ya udah, sekarang mau kamu apa, biar kamu mau maafin aku ?"


" Ya kamu pikir aja sendiri."


Lucas mengacak-acak rambutnya sangkinf gemasnya.Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Rasanya semua yang dia lalukan itu selalu salah.


" Ok, ok aku minta maaf, aku salah, semua salah aku, kamu benar, kamu nggak pernah salah."


" Kok kamu gitu sih, jadi kamu nuduh aku egois ?"


Ya tuhan kenapa kamu ciptakan wanita dengan sifat tidak jelasnya ini.


Lagi lagi Lucas hanya bisa bersabar, mencoba sabar, mengatur emosi. Dia tidak ingin memperkeruh keadaan. menurunkan nada bicaranya di level terbawah dan terlembut.menggeser tubuhnya semakin dekat, dan memeluk istrinya itu.


" Nggak sayang, kamu nggak egois, sumpah, yang egois itu aku, aku udah bentak kamu, telat jemput kamu, sekarang aku minta maaf ya ?" Lucas memohon, meraih tangan istrinya, menciumnya tangan itu singkat.


" Udah jangan marah ya ?"


" Aku laper, beliin makanan, aku belum makan dari siang ." Ucap Jingga dengan manjanya.

__ADS_1


Terus siapa yang nyuruh nggak makan ?


" Terus kenapa kamu nggak makan ? Uang kamu habis ?"


" Nggak, aku nggak nafsu makan, udah kebawa kesel gara-gara wanita ular itu, di tambah kamu nggak jemput-jemput aku, rasanya aku udah mau makan orang, sangking keselnya !" Ucap Jingga kesal


" Gih, aku siap kamu makan." Lucas menawarkan tubuhnya, memamerkan tubuh kekarnya yang jelas terlihat.


Jingga yang melihat itu, memerah wajahnya, di cubitnya perut suaminya itu.


" Aduh, sakit." Lucas berpura-pura kesakitan.


" Jangan aneh-aneh ya, ini kost, bukan rumah kamu, Jangan mengeluarkan suara kayak gitu, dikira kita ngapa-ngapain." Ucap Jingga mengingatkan.


" Emang kenapa ? Kita kan udag nikah, sah-sah aja."


" Ih susah ngomong samu kamu." Jingga merasa kesal jika harus berdebat dengan Lucas, karena pria itu sangat pintar menjawab setiap ucapannya.


" Mau pulang, atau di sini ?" Tanya Lucas.


Jingga tidak menjawab, ia malah memalingkan muka memunggungi suaminya dan berpura-pura tidur.


" Ok, kalau kamu, maunya gitu, di sini juga nggak masalah, aku cuma mau mengingatkan, nanti pelankan suaramu, kata Riva, ruangan ini tidak kedap suara."


Ucapan Lucas bukan sekedar ancaman, pria itu sudah sibuk membuka sabuk yabg melingkar di celananya, Dan Jingga mendengar jelas itu, dengan sigap ia membalik badanya, ia terkejut celana Lucas sudah hampir terlepas.


" Kita pulang, kita pulang." Jingga dengan cepat bangun dan mencari letak tas yang tadi di bawanya. Ia tidak ingin mengambil resiko, jika Lucas melakukan itu di tempat ini.

__ADS_1


Dan Lucas tersenyum penuh kemenangan.


***


Dan untuk Riva dan Jimmy, yang sedari tadi hanya bisa menunggu di luar berdiri saling membelakangi, Riva sengaaj memberi jarak cukup jauh diantara mereka berdua, tidak ada yang beruasara, diantara mereka berdua, Riva yang begitu malu dengan kodisinya saat ini, kondisi ? Ya kondisi di mana , dia hanya menggunakan piama bergambar doraemon, dengan masker wajah yang sudah mengering, membuat wajahnya kaku selayaknya kayu, yang belum sempat ia bilas, Riva tidak berani memunjukkan wajahnya pad Jimmy, jika dia boleh jujur dia tidak ingin lelaki itu tau begini wujudnya saat malam menjelang tidur. Imej yang selama ini ia jaga di hadapan cowok yang di incarnya seketika runtuh karena sepasang suami istri yang tidak tahu diri itu.


Segala umpatan lolos dari mulutnya, segala macam hewan di kebun binatang sudah ia sebutkan untuk melampiaskan kekesalannya pada sepasang suami istri yang seenaknya mengusirnya keluar dari kamar kostnya.


Jika dia bisa dan terlebih jika dia punya keberanian, dia ingin menerobos masuk kedalam kamar kosnya sekedar ia membilas masker wajah yang sedari tadi sudah mengering di wajahnya, berias sebentar dan tak lupa mengganti pakaian yang saat ini ia kenakan.


Dan Jimmy, entah kenapa dia merasa canggung, terlebih dia bisa merasakan Riva yang tidak nyaman bersamanya, Riva bersikap menjauh memalingkan wajahnya, sejujurnya Jimmy, juga merasa heran, kenapa gadis yang biasanya banyak bicara menjadi diam, seribu bahasa.


Hingga suara pintu terbuka, sontak Jimmy dan Riva menoleh ke sumber suara, senyum bahagia seketika tercipta dari bibir Riva.


" Udah kan ?" Tanya Riva, kedua matanya seakan berbinar, sangking senangnya, seakan penderitaannya telah berakhir.


" Udah, Kita mau pulang dulu." Ucap Lucas dengan senangnya, senyum penuh kemenangan seakan enggan pergi dari bibirnya.


Dan Jingga hanya bisa pasrah.


" Aku pulang ya ?" Ucap Jingga.


Riva menganggukkan kepalanya, dan tak lupa senyum.bahagia tidak lepas dari bibirnya.


Jingga bertambah kesal melihat senyum Riva, dia masih berharap sahabatnya itu akan menahannya.


" Thanks udah jaga Jingga." Ucap Lucas berterima kasih pada Riva. Tapi Riva hanya mengangguk kepalanya dan segera masuk kedalam kamarnya, rasanya ia sudah tidak bisa menahannya, wajahnya sudah terasa kaku, karena masker wajah yang sudah mengering itu, ia ingin segera membilasnya

__ADS_1


Dan Jimmy yang melihat itu tersenyum tipis melihat tingkah Riva.


Dan cerita untuk Jingga dan Lucas, masih berlanjut sampai rumah. Perdebatan kecil, percakapan penuh kekesalan yang masih Jingga rasakan, kebebakan Lucas yang tidak menyerah untuk membuat istrinya memaafkannya masih terus berlanjut, hingga berakhir pada adegan ranjang. Karena apa, bagi setiap pasangan suami istri, masalah aku mudah selesai, jika bisa mereka selesaiakan ketika diatas ranjang πŸ™‚


__ADS_2