CEO Dingin Yang Bucin

CEO Dingin Yang Bucin
Cemburu 4


__ADS_3

Jingga tersenyum saat membuka mata dan mendapati Lucas yang sedang memeluk erat dirinya dan masih tertidur pulas.


Jingga mencoba melepas pelukkan itu dengan hati-hati, karena jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.


Walaupun hari ini ia tidak ada kelas, tapu ia harus bangun pagi, untuk menyiapkan sarapan dan keperluan Lucas, ia ingin menjadi istri yang sempurna untuk suaminya itu, meskipun sejujurnya dia tidak perlu repot-repot untuk itu, toh banyak asisten rumah tangga di rumah itu, tapi Jingga ingin melakukan setiap kewajibannya sebagi seorang istri.


Tiba-tiba, ponsel yang tergeletak di atas meja nakas bergetar, Jingga menoleh, ada dua ponsel disana, miliknya dan milik Lucas. Dan yang bergetar adalah milik Lucas, suaminya. Jingga memanjangkan tangannya, meraih ponsel itu, tertuliskan nama Tsania, di ponsel itu, Jingga beranjak dari ranjang daj berniat untuk mengangkat panggilan yang di tujukkan ke ponsek suaminya.


" Hallo ? Ada urusan apa ?" Tanya Jingga to the point.


" Mana Lucas ?"


" Tidur, ada urusan apa ? Pagi-pagi telfon suamiku ?"


Ya suamiku ... Jangan ganggu S-U-A-M-I -K-U. !!


" Tidak ada apa - apa aku hanya mau mengembalikan sapu tangan yang kemarin aku pinjam !"


" Oh sapu tangan itu, ambilan Lucas sudah tidak butuh lagi."


" Tidak , Aku tidak bisa menerima barang yang bukan milikku !


Itu kamu tahu ? Terus kenapa kamu ganggu suamiku !!


Jingga memejamkan mata, apa berurusan dengan wanita seperti Tsania merupakan karma untuknya ?


" Baik, kalau kamu memaksa megembalikan barang itu, aku akan mewakili Lucas menerimanya, ayo kita ketemu ?"


" Temui aku, di kafe dekat kantor."


Sambungan telfon terputus, Jingga terdiam dalam posisinya, cukup lama termenung sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali masuk ke kamar dan mendapati Lucas masih tertidur pulas di atas ranjang. Jingga berjalan menuju ranjang, lalu berjongkok di sana dan memandangi wajah lelap suaminya, tangannya terulur pelan menyentuh wajah suaminya.


" Sayang ?"


Mendengar suara yang memanggilnya, mata Luvss terbuka pelan.


" Kamu udah bangun ?" Tanya Lucas.

__ADS_1


" Udah siang, cepat mandi dan bersiap-siap untuk ke kantor ." Ucap Jingga dengan lembut.


" Ah... Rasanya aku malas untuk pergi ke kantor." Lucas kembali manarik selimutnya.


" Tidak, bukankah kamu bilang, ada pekerjaan yang belum selesai ?"


" Ah, ya aku hampir lupa, kemarilah ?" Suruh Lucas, Jingga beranjak dan duduk di tepi ranjang. Tapi tiba-tiba Lucas menariknya, hingga terjatuh di pelukannya.


Pria itu semakin mempererat pelukannya.


" Ah nyamannya.... Aku semakin tidak ingin pergi bekerja." Ucap Lucas dengan keras.


" Udah siang, kamu bisa terlambat."


" Apa kamu lupa ? Aku bos !"


Ya kamu memang Bos !


" Udah cepat bangun, kamu harus bekerja mencari uang untuk istrimu ini."


" Ya aku harus bekerja, aku harus mencari uang untuk istriku ini." Ucap Lucas, dan tiba-tiba cup, ciuman singkat, layaknya ciuman selamat pagi mendarat singkat di bibir Jingga.


" Hari ini kamu nggak ada kelas ?"


" Tidak ada."


" Apa rencanamu hari ini ?"


" Belanja, menghabiskan uangmu sayang." Ucap Jingga bercanda.


" Bagus ! Lanjutkan ! Kalau kurang ambil kartu ATM, di laci ." Ucap Lucas senang, entan bercanda atau sungguhan, mereka berdua sama-sama tersenyum, karena bahagia.


Tiba-tiba Jingga bangkit dari pelukan itu.


" Udah sana mandi, aku akan membuatkan sarapan untukmu."


Jingga beranjak pergi, dan berdiri sejenak di depan pintu, setelah menutupnya.

__ADS_1


Maaf, lucas aku tidak jujur padamu, hari ini aku akan bertemu Tsania, aku harus bicara dengannya !!


****


Jingga duduk di kursi dekat jendela, menunggu seseorang yang siap untuk diajaknya berperang, mungkin terdengar lebay, tapi itu yang terjadi, hari ini Jingga ingin memberi peringatan untuk Tsnaia, teman lama suaminya itu. Untuk tidak lagi menganggu dan mencari perhatian Lucas.


Siang ini, alih-alih berpakian yang wah, layaknya istri seorang pengusaha kaya raya, gadis itu memilih memakai pakain yang biasa ia pakai ketika keluar, jelana jeans dan kaos oblongnya, rambut yang di ikat tinggi, hingga memperlihatkan leher indahnya.


Sedari rumah dia sudah menyiapkan semuanya, mental juga kata yang akan dia ucapkan, tak perlu banyak bicara, katakan dengan jelas dan singkat. Itu malah terlihat anggun dan tidak murahan, karena pantang baginya harus bertengkar apa lagi sampai pukul-pukulan dan cakar-cakaran hanya untuk seorang pria. Cukup bersikap jelas dan tidak usah di buat besar.


Tak lama wanita yang di tunggu datang, Tsania. Berjalan dengan anggun ke arahnya, baju yang di pakainya terlihat bagus dan mahal. Sangat berbanding terbalik dengannya.


" Maaf, terlambat." Ucap Tsania, sembari duduk di depan Jingga.


Dan Jingga berpura tidak apa-apa, dengan senyum palsunya.


Tsania memanggil pelayan dan memesan minuman, Jingga memperhatikan dengan seksakma. Tsania sungguh wanita cantik dan anggun, setiap laki-laki pasti tertatik padanya.


Untuk sesaat Jingga merasa insecure dengan dirinya sendiri.


Tapi segera dia sadar, saat ini bukan waktunya membandingkan dirinya dan Tsania, ingat tujuan awal kesini apa ?


" Mana sapu tangannya ?" Tanya Jingga dingin.


Tapi alih-alih mengambil dan menyerahkan sapu tangan itu, Tsania malah meminum minuman yanh di pesannya dengan anggun.


Jingga menarik nafas panjang, mencoba mengatur emosinya, meregangkan tangannya yang sedari tadi mengepal erat, jemarinya mengerut menahan amarah dan geram yang tengah menderanya. Ia mencoba menahan rasa meledak-ledak di dalam dirinya agar tidak berkobar.


Jingga benar-benar tidak menyukai wanita di depannya saat ini. Beberapa kali ia mencoba menahan tangan dan kakinya yang sudah gatal untuk tidak menyerang Tsania. Wanita itu bersikap seolah tidak menghargai Jingga.Tapi Jingga berusah menahannya, sebab, bagaimanapun, ini masih di depan umum, sesuatu hal yang menarik perhatian orang-orang, mudah sekali vutal, apalgi menyangkut wanita yang rela bertengkar hanya karena pria. Jingga tidak inginkan itu.


Setelah beberapa kali mengatur nafas dan sudah merasa cukup yakin jika ia tidak akan melayangkan tinjuya, Jingga akhirnya bicara sekali lagi.


" Kalau kamu tidak berniat megembalikan sapu tangan itu, buang saja, kami sudah tidak lagi membutuhkannya."


Jingga beranjak bangun, berniat untuk pergi, tapi tiba-tiba dia berhenti.


" Aku tidak suka suamiku, menyimpan barang bekas orang lain. Oh ya... Jangan hubungi Lucas, hanya untuk mencari perhatiannya, itu tidak mempan, karena Lucas sendiri, tidak punya waktu untuk itu, kami terlalu sibuk dan bahagia, hingga tidak sadar ada lalat di luar yang ingin mengganggu !" Ucap Jingga menegaskan.

__ADS_1


__ADS_2