CEO Dingin Yang Bucin

CEO Dingin Yang Bucin
Sepuluh menit


__ADS_3

" Kamu nggak bakal pergi kan ?" Pertanyaan itu, entah udah berapa kali diulang oleh Lucas.


" Iya aku nggak bakal pergi ." Ucap Jingga dengan suara pelan.


" Tapi, surat itu bilang kamu akan pergi."


" Jadi, kamu mau nuruti isi surat itu ? Iya ? Ya udah, aku pergi !"


Jingga kesal sendiri, mendengar pertanyaan itu lagi dan lagi. Nafasanya bahkan sampai ngos-ngosan mengikuti cara Lucas berbicara, dengan cepat. Lucas langsung menghampiri istrinya, ia langsung memeluk wanita itu sangat erat.


" Nggak boleh, kamu nggak boleh pergi."


Jingga memejamkan mata dan langsung bisa bernafas lega, mendengar nada bicara pria itu yang sudah tidak menggunakan tanda seru seperti tadi. membuat Jingga di landa rasa lega yang mendalam.


Sepertinya, Lucas sudah mulai jinak kembali.


Jingga rasa, energinya sudah terkuras habis, lain kali ia akan mengingat baik-baik satu hal, Lucas yang sedang enosi, adalah satu hal yang sulit ditangani.


Jingga merasa nafasnya sedikit terkendala karena pelukan Lucas, bahkan belum mengendur sedikitpun dari tubuhnya. Namun, Jingga tidak memiliki minat lebih untuk melepaskan diri. Napasnya masih terasa berat akibat terlalu banyak bicara dan entah kenapa, dadanya semakin berdebar cepat, Jingga mengangkat tangannya untuk ikut mengerat melingkar bahu Jingga, ia mencoba menenangkan pria itu agar tidak mengamuk kembali.


" Aku nggak akan pergi."


Lucas memundurkan kepalanya yang sedari tadi terbenam di bahu Jingga. Di tatapnya lekat wajah wanita di depannya itu tanpa melepas pelukannya.


" Kenapa kamu berubah pikiran ?"


Jingga sedikit tersentak mendengar pertanyaan itu.


Kenapa aku berubah pikiran ?


Jingga bingung ingin menjawab apa.


" Kamu cuma kasihan sama aku ?"

__ADS_1


Jingga mengeleng cepat.


" Terus kenapa ?"


Jingga rasanya ingin pergi saja, ia bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Membuang impiannya untuk belajar di luar negeri, kalau dipikir-pikir dia cukup bodoh harus menyia-nyiakan kesempatan itu.


" Aku nggak tahu. Aku..... cuma nggak mau kamu marah." Jingga merasakan dagunya diangkat pelan oleh Lucas, membuat pandangan keduanya bertemu.


" Akhirnya, kamu mulai peduli sama aku ."


Jingga bisa melihat senyum tipis dari bibir Lucas, dan mata pria itu kian bersinar menatapnya.


" Jingga."


" Apa ?"


" Aku mau cium kamu ? Boleh ?"


Jingga mengangkat kedua alisnya, merasa heran, sejak kapan Lucas meminta ijin sebelum menciumnya ?


Ciuman lembut itu tidak berlangsung lama, kini mulai berganti dengan ciuman panas dan penuh tuntutan.


Lidah saling membelit, saling meng***m. Dan saling mengelitik.


Satu des***n lolos dar bibir Jingga saat merasakan tangan Lucas tengah membelai lembut bagian atas pinggulnya yang masih tertutup baju piama. Lucas mulai menaikkan tempo ciuman mereka kian ganas, Jingga merasakan Lucas yang yang sedang mengiringnya menuju ranjang, masih dengan bibir saling mel***t panas.


" Lucas."


Jingga memanggil nama Lucas saat mereka di atas ranjang, Jingga tahu jelas apa yang setelah ini akan terjadi.


" Aku ada kelas."


" Bolos."

__ADS_1


" Kamu harus kerja ?"


" Aku Bos."


Ah kenapa susah sekali, bicara dengan Lucas !


Lucas kembali mencium bibir Jingga dan langsung menarik tubuh wanita itu dan dalam langsung menguncinya dengan pahanya, menghimpit keras diantara lutut Jingga, membuat wanita itu susah untuk bergerak. Jingga melirik jam di dinding, sudah menunjukkan pukul delapan lebih dua puluh menit, ya kelasnya di mulai dua puluh lima menit lagi.


Dia harus kekampus untuk membatalkan beasiswanya.


" Lucas aku harus ke kampus, untuk membatalkan beasiswa itu." Ucap Jingga. tapi lagi lagi Lucas seakan tidak peduli, pria itu malah sibuk melepas bajunya. Jingga mencoba meloloskan diri, tapi tubuhnya diimpit oleh tubuh besar Lucas,dan tangannya dituntun untum melingkari leher pria itu saat di rasakannya bibir Lucas mulai menuruni rahangnya dan terus menciumi lehernya.


Napas Lucas memburu, begitu pula dengan des***n yang terus keluar dari bibir Jingga. Ia merasakan Lucas bermain nakal di lehernya. Hingga tiba-tiba tubuh Jingga menegang, ia merasakan tangan Lucas sudah berada diatas dadanya membuka satu persatu kancing piama yang dipakainya. Jingga langsung memegang tangan Lucas dengan erat, dan menahannya.


" Lucas, aku harus ke kampus, hari ini terakhir pengumpulan persetujuan beasiswa."


" Jadi kamu mau pergi ?"


" Tidak, aku harus mengomfirmasi ke kampus kalau aku membatalkan beasiswa itu."


" Ow... begitu. Ok sepuluh menit lagi." Ucap Lucas dengan nakalnya.


Entah apa yang mau Lucas lakukan, kali ini Lucas menggendong Jingga menuju sofa, dan ia pun mendudukkan tubuhnya di sana dengan Jingga masih berada di pangkuannya, menuntun Jingga untuk melingkari pinggang Lucas dengan kedua kakinya.


Mereka kembali berciuman panas, dan tangan Jingga mulai berani meraba halus dada Lucas yang masih tertutup baju, saat tahu jari-jari halus Jingga sudah mulai membuka satu persatu kancing kemejanya, Lucas menggeram frustasi.


" Sayang, kamu bilang mau kekampus, waktu kita cuma sepuluh menit, kalau kamu mau lebih boleh, tapi aku tidak bisa menjamin kamu bisa keluar dari kamar ini."


Oh ya aku lupa ?


Melihat raut wajah Jingga yang sedang berpikir, terlihat mengemaskan.Lucas sudah tidak bisa menahannya.


" Ok, masih ada waktu lima menit, lagi, aku nggak mau membuangnya dengan percuma." Lucas tersenyum dengan nakalnya..

__ADS_1


Ya, semoga ini cuma lima menit saja !!


__ADS_2