
" Udah kena sindrom nyonya besar, ya ?" Tanya Tsania dengan sinisnya.
" Terserah kamu mau bilang apa, yang jelas, jangan lagi mencari apalagi mencoba mencari perhatiannya Lucas, saya istrinya, saya berhak melarang siapapun yang ingin dekat dengan suami saya."
Jingga beranjak pergi, namun baru dua langkah ia bergerak, suara Tsania kembali memprovokasinya.
" Satu yang harus saya ingatkan, saya wanita pertama di hati Lucas, kami bukan mengenal, satu atau dua tahun, sebelum ada kamu, kami sudah sangat dekat, sepertinya suamimu itu belum menceritakan tentang kami ya ? Kamu salah pilih lawan. Jadi, silahkan berperan sebagai nyonya sebisa kamu."
Jingga merasakan kepalanya mulai berasap, tanpa menunggu apa pun lagi, ia kembali melanjutkan langkahnya, dia sudah tidak bisa melanjutkan pembicaraan bersama Tsania.
Di dalam mobil Jingga berteriak di balik tas yang tadi di pakainya, berteriak sekencang mungkin sambil membungkam mulutnya dengan tas tersebut.
persetan dengan sopir yang sedari tadi menunggunya, saat ini dia ingin melampiaskan kekesalannya.
Setelah puas, mencoba menarik nafas panjang menghembuskan secara perlahan. Mencoba tenang.
" Maaf, ya pak." Ucap Jingga saat sadar, ia malu pada sopir yang sedari tadi diam mematung, melihatnya lewat spion diatas kepalanya.
" Kita mau kemana non ?"
" Pulang aja pak."
" Baik."
Mobil melaju melewati gedung-gedung tinggi, dia masih kesal memikirkan setiap ucapan Tsania, wanita itu sekaab menang karena masa lalunya bersama Lucas, sedangkan dirinya, baru enam bulan ia bersama Lucas, rasanya tidak sembading dengan waktu mereka .
Jingga merasa sedih. Hingga tiba-tiba ponselnya bergetar, panggilan dari Riva, sahabatnya, dengan segera dia mengangkat panggilan itu.
" Hallo."
__ADS_1
" Jingga, selamat selamat, kamu mendapatkan beasiswa untuk belajar di Australia." Ucap Riva bertriak, sangking bersemangat dan senangnya.
" Kami serius ?"
" Iya, aku baru aja lihat di website kampus, kamu belum tahu ?"
" Belum."
" Ya ampun, gimana sih kamu ? Ya udah lah nggak penting, yang penting sekarang, selamat atas keberhasilan mu, nggak nyangka cita-cita mu belajar keluar negeri, akhirnya tercapai."
" Lo seriuskan ?" Tanya Jingga sekali lagi, ia masih berlum percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
" Iya serius, kalau nggak percaya sekarang lo ke kampus deh, lo ambil surat pernyataan penerima beasiswa sekarang deh."
" Ok, aku kampus sekarang, makasih ya infonya." Ucap Jingga bahagia. kesedihan seketika berubah menjadi kebahagiaan, belajar keluar negeri salah satu cita-citanya. saat ini ia begitu bersemangat.
" Iya non."
*** Rumah ***
Jingga masih belum percaya dengan apa yang baru saja ia dapat, belajar keluar negeri, adalah impiannya, sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan akan tercapai.
Kertas yang berisikan penerima beasiswa, terus di lihatnya.Sambil berbaring di atas ranjang. Matanya begitu berbinar, di kertas itu tertuliskan namanya.
Sekarang yang harus dia pikirkan adalah memberi tahu kabar bahagia ini. Ia begitu bersemangat dan sudah tidak sabar.
Tak lama Lucas masuk, dan Jingga langsung beranjak bangun, berlari menghanpiri suaminya itu dan langsung memeluknya erat.
Mendapat pelukan itu, Lucas tersenyum bahagia.
__ADS_1
" Lucas, aku bahagia banget."
" Sama aku juga bahagia."
" Kamu tahu ?"
" Nggak tahu."
" Ih, aku serius." Jingga melepas pelukkannya.
" Aku ada kabar bahagia.".
" Apa ? Kamu hamil ya ?" Tanya Lucas asal.
Mendengar itu, raut wajah Jingga langsung berubah, sejujurnya dia merasa bersalah, merasa egois pada Lucas, entah kenapa saat ini dia tidak ingin memberitahu soal beasiswa ini.
" Bukan."
" Terus apa ?"
" Em... Aku bahagia aja memiliki kamu." Ucap Jingga mengalihkan, ya ? lebih tepatnya, mengalihkan pikirannya sendiri. Saat ini dia ingin membuang pikirannya tentang beasiswa itu. Entah kapan ia siap untuk mengatakan tentang beasiswa itu. Tapi pastinya bukan saat ini.
" Tumben kamu ngomong gini ? Pasti ada yang kamu sembunyii. ?
" Sembunyiin apa ? Nggak ada ? Udah sana mandi ."
Selagi menunggu Lucas mandi, Jingga duduk di sofa, pikirannya begitu bingung, bagaimana caranya untuk bicara pada Lucas tentang beasiswa itu, apakah Lucas akan mengijinkannya ? kalau nanti dia pergi, gimana kalau Lucas di ganggu sama wanita uler itu ? Apakah benar-benar dia harus pergi ? Harus mana yang dia pilih, cita-citanya atau tetap disini bersama suaminya.Sejujurnya dia juga berat harus jauh dari Lucas. Setiap hari bersama pria itu seakan sudah menjadi candu buatnya. Membayangkan jauh dari Lucas juga sangat berat baginya. Kini Jingga benar-benar bimbang.
Ah, Nggak tahu ? Pusing, nanti aja dipikirin !!
__ADS_1