
Siang ini Jingga sengaja masak untuk Lucas, untuk makan siang suaminya itu. Dan segaja pula mengantarkan makanan itu ke kantornya.
Baru tiba di loby kantor, raut wajah senang tiba-tiba menjadi kesal, karena apa ? Ya Tsania . berjalan ke arahnya dengan senyum liciknya.
Jujur saja Jingga sudah tidak mau menanggapi apalagi berurusan dengan wanita itu. Tapi entahlah sepertinya dia dan Tsania, sudah di takdirkan menjadi musuh.
Jingga berusaha tenang dan tidak peduli, tetap berjalan dengan percaya diri dan pura-pura tidak melihat sosok wanita itu. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti, saat mereka berpapasan.
" Kenapa nyonya besar, malah kelihatan kayak kurir pengantar makanan ya ?" Ejek Tsania dengan sinisnya.
Jingga mencoba menahan emosinya, rasanya ingin sekali membungkam mulut pedas wanita itu dengan sepatunya, tapi itu tidak mungkin, karena dia tidak ingin membuat masalah dan mempermalukan Lucas, suaminya.
Tangannya sudah meremas keras, mulutnya sudah menahan ingin membalas hinaan itu. Tapi lagi-lagi ia menahannya, karena dia sadar setiap mata di loby itu mulai memandang kearahnya ,entah hinaan itu terdengar oleh mereka atau tidak, Jingga tidak peduli, karena yang terpenting sekarang jangan sampai ia terpancing emosi.
" Maaf, kamu siapa ya ? Apa kita saling kenal ? Kamu tahu siapa aku ? Kalau nggak tahu, gih tanya sama orang-orang ? Pantes nggak orang biasa kayak kamu hina aku, istri Lucas Arkana Putra ? Ucap Jingga tak kalah sinisnya, lalu berjalan meninggalkan Tsania.
Tsania begitu kesal dengan hinaan itu, bagaimana bisa Jingga menghinanya seperti itu. Seperti senjata makan tuan, niatnya menghina, tapi dia sendiri lebih dihina dengan rendahnya.
Awas kamu Jingga, kita lihat aja, siapa yang bakal menang !
****
Lucas duduk siaga di sofa ruang kerja kantornya, sudah sepuluh menit ia hanya diam sambil sesekali mencuri pandang ke arah Jingga, yang duduk di sebelahnya tangannya melipat didada, di tengah keruwetannya dalam bekerja, tiba-tiba, istrinya muncul, tanpa ketukan dan sebagainya.
Jingga langsung masuk dan duduk di sofa, sebuah paper bag yang Lucas intip berisi dua kotak makan siang juga berada dia atas meja sofa. Yang menjadi masalah, Jingga tidak berkata apa-apa. Wajahnya terlihat kesal. Lucas bertanya-tanya, Apa dia buat salah ? Atau ada sesuatu hal yang membuat istrinya itu marah saat ini ?
" Sayang.." Ucap Lucas, mencoba memecah kehingan.
" Apa ?" Jawab Jingga dingin.
" Aku buat salah ya ?"
" Iya."
" Apa ? Kok aku nggak merasa, tadi pagi kita baik-baik saja, malah tadi pagi kita mandi bareng ?" Tanya Lucas dengan polosnya.
" Kamu bisa nggak sih, nggak usah kerja sama Tsania ?" Ucap Jingga to the point.
__ADS_1
Wanita itu tidak ingin menceritakan kejadian tadi, bagaimana Tsania menghinanya, ia tidak ingin mengadu hal-hal seperti itu pada suaminya.
" Tsania ?"
" Iya."
" Emang kenapa ?"
" Kenapa ?" Tanya Jingga kesal.
" Iya, kalian berdua kenapa ?"
" Aku nggak suka aja, dia di sini, terlebih dia sering ketemu sama kamu."
" Ketemu juga bahas kerjaan, sayang."
" Ya pokoknya aku nggak suka." Ucap Jingga mempertegas.
" Terus aku harus gimana ? Aku juga harus profesional dong, sayang. dia itu salah satu orang penting di proyek ini."
Jingga mencoba mengerti dan tidak lagi bersikap seperti anak kecil, benar yang dikatakan Lucas, suaminya itu harus bersikap profesional, terlepas dari masalah peribadi, yang terpenting sekarang adalah dirinya, mencoba menahan dan bersabar, agar tidak terpancing oleh wanita ular itu.
Jingga mulai tenang, tak lagi emosi seperti tadi. Jingga mulai bergerak meraih kotak makanan dari dalam paper bag. lalu, menaruhnya di atas meja, dan membuka penutupnya, Lucas menerima sodoran kotak makanan itu dari Jingga. Tak lama dari itu, mereka berdua menyantap isi makanan tersebut.
" Sayang.." Tiba-tiba, suara tedengar.
" Ya." Jawab Jingga.
" Lusa aku dinas ke luar kota."
" Ok."
" 3 hari."
" Iya."
" Kamu nggak ikut ?"
__ADS_1
" Nggak ah, ngapain di sana, nunggu kamu kerja ? Nanti malah ganggu kamu. Aku di rumah aja."
" Kok gitu sih, kalau aku kangen gimana ?" Tanya Lucas memelas.
" Ya telfon, vidio call kan bisa."
" Nggak mau, kamu harus ikut !"
" Aku nggak mau ganggu kerja kamu, kan ada Jimmy ? Kamu nggak bakal kesepian juga."
" Ada Tsania juga."
" Tsania ?" Tanya Jingga menegaskan.
" Iya, dia ikut "
" Ya udah aku ikut." Ucap Jingga cepat.
Nggak bisa ! Aku nggak bisa ninggalin Lucas sendiri, kalau ada wanita uler itu.
Mendengar itu, seketika senyum lebar Lucas, tercipta dari bibirnya.
Rasanya menyenangkan, saat Jingga cemburu.
" Kenapa kamu senyum-senyum ?" Tanya Jingga.
" Nggak apa-apa. cuma seneng aja, kamu ikut, sekalian kita bulan madu, kita belum bulan madu kan ?"
Iya juga ya, kita berdua belum bulan madu.
" Udah cepat makan, habisin makanannya."
****
Sedangkan di tempat lain, Tsania sedang kesal-kesalnya, dia harus membuat perhitungan dengan Jingga. Ia tidak bisa menerima Jingga mempermalukannya, terlebih Jingga sudah mengambil Lucas darinya. Sebelum ada Jingga, Lucas begitu peduli padanya, tapi sekarang, membalas pesannya saja, Lucas sudah tidak pernah, boro-boro di balas, di baca saja tidak pernah.
Wanita itu mulai memikirkan cara bagaimana agar, dapat memisahkan Jingga dan Lucas, dengan memangfaatkan dinas luar kota mereka. Jingga tidak ada, Itu kesempatan untuk Tsania beraksi.
__ADS_1