
Jibgga sudah duduk di kursi mobil, sebelah kemudi. Sejak masuk ke dalam mobil, Jingga terus melihat kebelakang melalui kaca spion.
Wajahnya terlihat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun sepintar-pintarnya menyembunyikan perasaannya, tapi hati tidak bisa berbohong. Entah kenapa dibelakang sana, ia berharap Lucas mengejarnya. Namun nyatanya nihil. dua sampai lima menit menunggu tidak muncul juga batang hidung pria itu.
" Kamu baik-baik saja ?" Tanya Riva yang duduk di kursi kemudi, yang dari tadi juga hanya diam, tidak berucap apa-apa sejak masuk mobil.
Jingga menoleh kepada Riva.
" Kamu kenapa tanya begitu ?"
" Tadi aku lihat Lucas di sana." Suara Riva sedikit bergetar, sejujurnya nama itu seakan menjadi nama keramat yang dia ucapkan 3 tahun belakang ini.
" Oh, aku baik-baik saja." Jingga berucap sambil tersenyum, mengisyaratkan bahwa dia baik-baik saja.
" Beneran, kamu nggak bohongkan ?" Tanya Riva khawatir. Wanita itu tahu betul perjalanan cinta sahabatnya itu. Dia masih ingat betul hari pertama Jingga pergi dari rumah Lucas. Datang ke kosnya dengan tatapan kosong. Setiap di tanya kenapa dia hanya akan menjawab. Aku baik-baik saja, beri aku aku waktu sendiri.
Awalnya dia takut dan bingung kenapa dengan sahabatnya itu. Apa yang sebenarnya terjadi ? Kenapa Jingga, sahabatnya yang selalu terlihat kuat, saat itu terlihat lemah ?
Dan saat itu juga Riva t, bertanya pada Lucas. Dan Lucas menceritakan semuanya. akhirnya dia tahu alasan kenapa sahabatnya seperti itu.
Setelah mendengar itu mendengar itu semua, Riva marah. Sangat marah, semua cacian dan hinaan dilontarkan untuk suami sahabatnya itu. Jika segala bentuk penganiayan tidak masuk dalam hal kriminal, dan berujung di penjara. Riva sudah melampiaskan kemarahannya pada suami sahabatnya itu.
Dan sejak saat itu juga ia berjanji akan selalu menamani Jingga, mendukung apa Jingga akan lakukan.
Dia akan manjaga sahabatnya itu. Karena baginya Jingga bukan sekedar sahabat tapi sudah seperti saudara baginya.
Dan malam ini, untuk pertama kali ia melihat pertemuan pertama setelah 3 tahun lamanya, antara Jingga dan Lucas. Membuatnya khawatir.
" Kamu beneran baik-baik saja kan ?" Tanya Riva sekali lagi, dia benar-benar ingin memastikan itu.
Jingga mengerutkan dahi.
__ADS_1
" Aku baik-baik saja Riva, emang aku harus gimana kalau ketemu dia ?" Jingga lagi-lagi bersikap santai, bahkan ia masih bisa tertawa kecil disela kekhawatiran Riva.
" Syukurlah.. Tunggu dulu, jadi selingkuhannya tunangan Pak Pandu itu Lucas ?" Tanya Riva oenasaran, karena dengan mata kepala, ia melihat tunangan Pak pandu itu bersama Lucas.
" Mungkin." Jawab Jingga santai.
" Mungkin ? Gila ! Sumpah ya, laki-laki sekarang itu nggak ada yang bisa dipercaya. Dulu aja nangis-nangis, sujud-sujud minta maaf. Sekarang malah mesra-mesra an sama wanita lain."
" Udahlah biarin, nggak penting juga." Jingga mencoba mengakhiri pembicaraan tentang Lucas, saat ini bukan itu yang harus dipikirkan tapi masalah Pak Pandu dan Jesica tunangannya itu.
Jingga bingung apa yang harus ia katakan pada Pandu Atmaja setelah ini, bahwa tunangan laki-laki itu sedang menggoda laki-laki yang tidak lain adalah Lucas, suaminya. Ya suaminya, karena sampai saat ini belum ada ketuk palu sah secara negara yang memisahkan mereka berdua. Selama 3 tahun ini Jingga pergi begitu saja. Dan selama itu juga suaminya itu masih melakukan kewajibannya, secara finansial, mentransfer sejumlah uang yang cukup besar padanya. Tapi wanita itu sama sekali tidak pernah menyentuh uang itu, dia memilih bekerja, mejadi wanita karir, tidak harus menggantungkan hidupnya pada uang suaminya itu.
*****
Awalnya, Jingga ingin melupakan kejadian pertemuan dengan Lucas di kelab malam waktu itu. Toh, dia sudah terbiasa 3 tahun ini tanpa Lucas.
...Bukannya dia baik-baik saja tiga tahun ini ?...
Tapi entah kenapa memikirkan itu kembali membuat Jingga kesal, memangnya hanya dia yang bisa mesra-mesra an kayak gitu ? Jingga juga bisa. Jika dia mau banyak laki-laki yang mengejarnya, hanya saja dia tidak menginginkan itu. Dan lagi karirnya sedang di puncak saat ini. Restoran yang didirikannya sedang berkembang pesat. Hanya masalah ini, tidak akan bisa menggoyahkan hatinya.
Tapi.......
Mulut bisa berbohong tapi hati .. No !
Si*lan ! Mengingat lagi bagaimana Jesica menggoda Lucas membuat kepala Jingga memanas. Kenapa juga dia harus bertemu dengan Lucas, dan melihat itu semua !
*****
Malam ini alih-alih menuju kelab malam seperti biasanya, Lucas malah membelokkan mobil mewahnya ke pelataran restoran milik Jingga.
Disinilah ia berada saat ini, di depan restoran mewah Jingga, yang sudah ia kunjungi setiap hari, ya setiap hari. Melihat dari kejauhan tanpa berani mendekat.
Kata-kata Beri waktu aku sendiri ! Selalu menghantuinya, kata-kata itu mampu membuat Lucas tak berkutik hingga tak berdaya.
__ADS_1
Dengan memantapkan hatinya, mencoba mengumpulkan keberaniannya. Lucas turun dari mobil sambil membusungkan dadanya, berusah tenang, walau jantung sudah berdetak tak beraturan.
Nyalinya lagi-lagi menciut, memikirkan Jingga akan menolaknya atau bahkan mengusirnya.
Tapi hari ini, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, dia akan kembali mengejar istrinya itu. memintanya kembali padanya, tidak peduli dia harus mengunakan cara apa. Yang terpenting istrinya kembali, sudah cukup waktu tiga tahun ini dia menunggu. Dia sudah tidak sanggup lagi hidup jauh dari istrinya itu.
Ingat Lucas, Kamu harus bisa membawa Istrimu itu kembali kepelukanmu !
Lucas melangkah dengan santai menuju pintu masuk restoran. Baru dua langkah ia menginjak lantai gedung, seorang pegawai sudah menghampirinya.
" Maaf, Pak, ada yang bisa saya bantu ?"
" Kalau saya mau booking satu restoran, apa saya perlu bertemu dengan pemilik restorannya langsung ?"
" Oh benar, Pak. Bapak mau booking untuk tanggal berapa ?"
" Malam ini."
" Kalau malam ini, sepertinya tidak bisa, Apalagi untuk acara khusus, kami perlu waktu ...."
" Nggak ada acara khusus, kalian cuma perlu kosongkan isi restoran ini dan hidangkan apa pun itu yang sudah ada." Potong Lucas.
Lucas menyadari bahwa pegawai itu tampak bingung. Meski begitu ia tetap mempersilahkan Lucas untuk mengukutinya menuju satu ruangan dan menyuruhnya untuk menunggu sebentar di salah satu sofa. Selang beberapa menit, pegawai itu kembali muncul dan berkata Lucas sudah bisa menemui bos mereka.
Lucas melangkah memasuki ruangan, ia bisa melihat Jingga sudah menunggu kedatangannya. Lucas cukup sadar, wanita yabg masih bersetatus istrinya itu cukup terkejut saat mengetahui orang yang akan menemuinya untuk mem-booking seluruh restoran adalah dirinya.
Tapi Jingga cukup bisa mengatur ekspresi wajahnya kembali. Saat hanya mereka berdua yang ada di ruangan itu, Jingga langsung melempar senyum formal, walau sebenarnya Lucas sempat melihat wajah terkejutnya, ketika melihatnya muncul di pintu.
" Jadi, yang mau booking seisi restoran itu, Pak Lucas ?" Tanya Jingga, dengan profesional.
Jingga terlihat sangat tenang.
Pak Lucas ? Dia panggil suaminya ini Pak !
__ADS_1