CEO Dingin Yang Bucin

CEO Dingin Yang Bucin
seasion 2. part 10


__ADS_3

Bagi Jingga, Pesona Lucas bisa menghipnotisnya. Menghanyutkannya, membawanya terbang hingga dia jauh dari permukaan bumi ini.


Sedikit sentuhan bisa membuatnya tidak berdaya. Bahkan dia bisa menjadi gadis penurut bahkan bisa dibilang bodoh jika harus berurusan dengan laki-laki itu.


Dan siang ini, lagi-lagi contoh kegagalan terbesarnya menahan segala gejolak dihatinya.


Tiga tahun tidak pernah saling menyentuh membuatnya seakan tenggelam dalam.


Maka ketika Lucas memiringkan kepala lalu kemudian mengecup bibirnya, Jingga tahu alarm tanda bahaya mulai bersering di dalam kepalanya. Jingga langsung mendorong bahu Lucas sebisa mungkin . Namun pelukan laki-laki itu di pinggangnya semakin mengerat.Jingga semakin sesak napas saat merasakan usapan lembut Lucas di area pinggangnya. Belum lagi, sensasi dingin bercampur panas akibat ******* demi ******* dari gerak bibir laki-laki itu.


Jingga bergerming, dia tidak ingin kalah. Tapi karena serangan bertubi-tubi dari Lucas, Jingga tahu, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi saat tas bertengger di bahunya kini sudah terhempas jatuh ke lantai, Jingga tahu dia sudah menyerah.


Mata perlahan terpejam, isi kepalanya mulai panuh, Jingga bahkan tidak sadar ketika kedua lengannya secara tiba-tiba begerak dan memilih untuk memeluk leher Lucas. Tepat saat lengan sudah memeluk laki-laki itu, tubuh Lucas beraksi, tampak kaget dengan gestur yang baru saja Jingga lakukan.


Masih dengan bibir saling bertautan. Lucas membuka mata atas reaksi yang diberikan Jingga, namun ketika melihat dengan mata dan kepalanya sendiri, bagaimana penerimaan itu memang benar adanya.


Disadari atau tidak Jingga oleh Jingga. Lucas merasa adrenalinya kembali terpacu. Semua sendi tubuhnya seolah berteriak, hasratnya bergejolak dengan tidak tahu. Ketika bibir Jingga terbuka perlahan, Lucas tahu mereka akan nenggila setelah ini.


Lucas menyerang semakin liar, ******* itu berganti dengan belitan. Tubuhnya melangkah maju hingga Jingga ikut mundur, seakan semesta mengamini tindakan gila keduanya. Kini mereka sudah berdiri tepat di dekat tempat tidur.


Tempat tidur ? Ya. Di ruangan kerja Lucas terdapat ruangan istrirahat yang disana terpampang nyata ranjang besar nan nyaman.


Tubuh Jingga jatuh terduduk diatasnya. Lucas menarik wajahnya, napasnya memburu, aroma tubuh Jingga terngiang-ngiang dalam kepalanya. Ini jelas berbahaya untuk Jingga.


" Kalau kamu mau berhenti, aku bisa berhenti, tapi kalau kamu..... Ah persetan, aku nggak mau berhenti !" Lucas berkicau frustasi dan tidak karuan.


Ia ingin berhenti, tapi saat bibirnya kembali bertemu dengan Matahari Jingga. Akal sehatnya seketika menghilang. Hanya Jingga yang ada di kepalanya. Apa yang saat ini mereka lalukan , dulu aktivitas ini sudah menjadi makanan sehari-hari bagi mereka berdua. Jadi bagi Lucas Kenapa tidak ? Ada masalah ? Tidak kan ? Lanjutkan !


Demi tuhan. lucas benar-benat tergila-gila dengan istrinya ini. Apalagi saat melihat Jingga yang terlihat pasrah di pelukannya. Oh Tuhan ! Ingin sekali Lucas mengutuk sesuatu yang bernama libido ini.


" Lucas.. ?"


Suara Jingga terdengar di sela kuasanya dari bibir perempuan itu. Bahkan mendengar Jingga menyebut namanya saja. Lucas ingin gila.


" Ya, sayang ?


" Berhenti ." Pinta Jingga.


" Nggak bisa."


" Please.." Desah perempuan itu putus asa semwntara kecupan demi kecupan masih dilayangkan Lucas.


" Kamu aja nggak mau berhenti ? " Bisik Lucas tepat di bibir Jingga. Laki-laki itu bisa melihat kejengkelan di mata Jingga. Namun tubuh mereka masih saling menempel. Sebelum Jinggs kembali berbicara, Lucas pun kembali ******* bibir perempuan itu.

__ADS_1


Jingga semakin kehilangan akal. Terlalu banyak perasaan yang bergejolak di dadanya saat ini. Gairah, jengkel, marah, bahkan gemas.


Apalgi saat mendengar erangan dari Lucas ketika jemari yang menjambak kasar rambut laki-laki itu. Di sela ciuman mereka Jingga bisa merasakan Lucas memeluknya dan mengangkat tubuhnya. Laki-laki itu kemudia duduk di pinggiran ranjang dengan Jingga yang didudukkan di atas pangkuannya.


" Ganti posisi, aku kangen posisi ini." Bisik Lucas pelan.


Seakan tidak bosan-bosannya, keduanya kembali melanjutkan ciuman seakan tidak ada hari esok. Seperti kerasukan setan, Jingga tiba-tiba mengerakkan tangannya menyentuh bahu Lucas dan kemudian turun menuju dada laki-laki itu.


Terdengar jelas lenguhan keluar dari bibir laki-laki itu, secara telapak tangan Jingga bertengger di dadanya. Bukannya berhenti Jingga semakin gencar menyentuh laki-laki itu. Dalam benaknya Jingga bertanya-tanya kepan terakhir kali ia merasa ingin sekali mendengar suara lenguhan keluar dari seorang laki-laki hanya karena perbuatannya.


" Kamu sadar, kan, lagi ngapain ?" Bisik Lucas menahan hasrat akan sentuhan Jingga.


Kini bibir mereka sudah menjauh, Lucas tidak bisa berkonsentrasi dengan benar saat telapak tangan Jingga tiba-tiba menyentuh dadanya dan melakukan gerakan-gerakan provokatif di sana.


Seakan tidak terganggu sama sekali dengan pertanyaan Lucas, Jingga hanya diam. Perempuan itu terlihat menikamati perbuatannya yang telah berhasil membuat Lucas frsutasi.


" Sayang, aku.... oh **** !" Lucas mengumpat saat Jingga tiba-tiba melayangakn kecupan di sisi rahangnya. Satu-satu hal yang ada di kepala Lucas adalah bagaimana caranya untuk membuat tubuh mereka semakin menempel tanpa batas.


Lucas tahu, ia menjadi gila dalam situasi ini. Tapi dirinya benar-benar tidak menyangka jika seorang Matahari Jingga bisa lebih gila lagi darinya.Ketika ada dua orang gila, berlawanan jenis, dewasa dan sedang dibakar gairah tangah berada di salah satu ruangan tertutup dengan ranjang di dalamnya.... Terlebih mereka berdua masih berstatus suami istri.


Seakan semesta mengamini kegilaan mereka, begitu tangan Lucas bergerak menuju kancing blouse milik istrinya itu. Saat itu juga Lucas bisa merasakan ada yang menyentuh ikat pinggangnya. Mata mereka bertemu saling bertatap satu sama lain.Tepat ketika Lucas mulai melepas satu kancing blouse Jingga, bunyi tarikan ikat pinggang ikut terdengar.


Namun ketika jemari Lucas mulai bergerak cepat, tiba-tiba Jingga bangkit dari posisi baringnya, menyebabkan Lucas yang berada diatas pun terpaksa mundur dan sukses jatuh terduduk. Lucas mengerjap ketika melihat Jingga kembali mengancingkan bajunya yang sempat terbuka.Tidak lama berselang sebuah tanda pintu akan terbuka terbuka dari luar terdengar jelas dan seketika itu menyadarkan Lucas sepenuhnya.


Sialan ! Siapa yang berani mengusik kesenanganku saat ini !!!


" Lucas.. Tunggu, aku belum.... kamu mau kemana ...."


Jingga tidak jadi melanjutkan ucapannya saat Lucas menganggakat tangannya mengintruksikan agar Jingga tidak perlu khawatir.


Dan dengan tenang, Lucas melangkah menuju pintu dan membuka dahulu sebelum sesorang dibalik pintu itu membuka pintu terlebih dahulu.


Karena sekarang dia sadar siapa sosok di balik pintu itu.


Karena hanya hanya ada satu manusia yang bisa membuka pintu ruangannya itu selain dia. Dengan keamanan yang sangat canggih itu.


" Kenapa ?" Tanya Lucas dingin, wajahnya terlihat memendam kemarahan yang sangat besar.


Jimmy yang kaget seketika melangkah mundur.


" Loh, tuan di dalam, saya kira tuan sedang keluar. Soalanya pintunya di kunci. Saya mau mengambil berkas proyek X tuan." Ucap Jimmy dengan tenang.


Lucas memejamkan mata sejenak, mencoba meredam emosinya, kenapa selalu Jimmy yang mengganggu saat dia sedang hohohihe bersama istrinya.

__ADS_1


Dari dulu selalu ini manusia yang selalu menganggu.


" Maaf, tuan. Apa tuan sedang sakit ?" Tanya Jimmy khawatir.


Tapi sesaat dia menyadari kenapa penampilan tuannya sangat berantakan. Bahkan kancing kemeja tidak semua terkancing.


" Nggak perlu, lain kali jangan asal masuk ruangan saya." Ucap Lucas.


" Baik tuan."


" Sekarang kamu pergi, nanti aja ambil berkasnya." Suruh Lucas.


" Baik tuan."


Jimmy berbalik dan menjauhi ruangan Lucas. Ketika melihat seketarisnya itu sudah pergi. Lucas pun menutup pintu itu. Ia kembali menghadap Jingga. Tatapan jatuh pada istrinya itu yang ternyata sudah kembali rapi. Melihat itu Lucas terlihat kecewa.


Yah gagal lagi... Temu kangennya... !


" Udah mau pulang ?"


" Hmmm." Jawab Jingga singkat.


" Aku antar ya ?"


" Aku bawa mobil." Terang Jingga kemudian melangkah menuju pintu keluar. Perempuan itu terlihat sedang menghindari tatapan Lucas.


Lucas mengangguk tanda mengerti. Terlalu muluk rasanya jika ia berharap Jingga akan ramah padanya hanya karena kejadian barusan. Tapi melihat perempuan itu yang tidak terlalu dingin seperti sebwlnya. Ia sangat syukuri.


" Jingga." Panggil Lucas.


" ada ap...." Lucas urung bicara saat Lucaa tiba-tiba memeluknya. Pelukan itu singkat, bahkan ekspreai shock nya masih belum hilang. Ketika Lucas melepas pelukannya.


" Nanti aku telpon lagi, hati-hati nyetirnya." Ujar Lucas sambil membawa kedua telapak tangannya membelai halus wajah Jingga.


Jingga tidak menjawab ucapan Lucas. Perempuan itu hanya diam sembari menatap Lucas dengan tatapan bingung.


" Jingga ? Kamu dengar aku nggak ?"


" Ya ."


" Nanti aku telepon, kamu hati-hati nyetirnya, ya ?"


" Oh, Oke ." Jingga berbalik dan memutuskan untuk benar-benar pergi dari ruangan itu.

__ADS_1


Ketika pintu ruangan sudah kembali tertutup dari luar. Lucas tidak kuasa menahan senyumannya untuk tidak merekah.


__ADS_2