
Jingga menatap beberapa potong rak dinding yang berserakan dilantai unit apartemennya. Jingga beedecak frustasi. Dia tidak memiliki alat bor, palu atau pun itu, Jingga membuka pintu unit dan melangkah keluar. Perempuan itu tampak ragu untuk mengetuk pintu unit di sebelahnya. Penghuni baru unit apartemen di sampingnya. Walaupun belum pernah bertemu. Lagi pula dia belum juga menyepa rasanya ini waktu yang tepat, untuk datang bersilahtutlrahmi pada tetangga baru tersebut.
Sambil menarik.napas dalam, Jingga menekan bel dan tidak lama dari itu pintu pun terbuka.
" Maaf,saya...... "
Kalimat Jingga tidak selesai, perempuan itu mundur tanpa sadar, ke ala wajah yang muncul dari balik pintu terlihat begitu familiar ? Setahunya bukan sepertu ini aoaok yang ia temui tadi pagi.Dia tidak salah menekan bel kan ?
" Kamu... Kenapa ada di sini ?" Tanya Jingga sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mengamati sekeliling. Tapi tetap saja, dia tidak menemukan kejanggalan apapun dan yang berdiri di depannya masih tetap Lucas Arkana Putra.
Ini pertama kalinya dia kembali bertemu Lucas setelah pertemuan mereka di kantor itu. Benar memang Lucas menelpon Jingga setelah pergulatan mereka di kantor, tapi tetap saja Kejadian itu seakan tidak mengubah hubungan antar keduanya. Jingga masih menjadi sosok yang seperti enggan untuk didekati, perempuan itu hanya mengangkat telpon dari Lucas, tapi hanya bicara sekenanya. Setiap pertanyaan hanya di jawab iya dan tidak, setiap obrolan sebisa mungkin harus cepat di akhiri.
Tapi sekarang ? Kenapa tiba-tiba Lucas muncul dibalik pintu tetangganya.
" Kenapa aku di sini ? Ya karena aku tinggal disini. Wah ternyata kamu tinggal di gedung ini juga, nggak nyangka kita bakal sering ketemu..." Jawab Lucas dengan santai.
Matanya menatap Jingga yang bediri dihadapannya.Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun lamanya, dia bisa melihat Jingga dengan pakaian rumahnya yang lebih santai. Perempuan itu memakai celana pendek selutut dengan kaos bergambar taddy bear dan rambur yabg dikuncir kudan, terlihat dengan jelas jenjang lehernya.
Terlihat jelas wajah Jingga yang kaget, membalas senyuman Lucas dengan kecut.
" Ada urusan apa mencariku..." Tanya Lucas.
" Nggak ada apa-apa. Nggak jadi...." Memang benar, tadinya dia ingin meminjam alat pertukangan pada Lucas, tapi kalau dengan Lucas ia harus berurusan, lebih baik ia mengurungkan niatnya.
" Yakin ?"
Jingga mengernyit kian kes saja melihat tingkah Lucas.
" Yakin ?"
" Kalau aku liat ternyata penting, gimana ?"
" Maksud kamu.....Lucas kamu mau kemana ?" Jinggw langsung berseru saat Lucas tiba-tiba melesat melewatinya guna masuk ke dalam unit Jingga yang memang di biarkan terbuka, dengan cepat Jingga menyusul laki-laki itu, tapi terlambat, Lucas sudah melihat isi unitnya yang sedang amburadul.
" Nggak penting ya ?" Ucap Lucas pada Jingga.
" Ya, emang nggak terlalu penting, kok."
" Aku kenal kamu Jingga, kamu itu mandiri banget, apa-apa mau dikerjakan sendiri. Tapu ketika kamu sudha mau meminta bantuan pada orang lain, itu artinya kamu sudah benar-benar nggak bisa meng handle." Ucap Lucas.
" Nggak, aku bisa."
__ADS_1
" Kalau bisa nggak mungkin semua ini masih berserakan di lantai." Ucap Lucas sembari menunjuk potongan-potongan rak yang berserakan di lantai.
" Aku bisa, aku tadi mau pinjam alat aja."
" Kamu tunggu disini, aku ambil alat-alatnya dulu." Lucas berjalan keluar, Melihat itu membuat Jingga terbelalak. Dengan cepat ia berdiri di depan laki-laki itu.
" Kamu nggak perlu..."
" Biar aku yang pasang, kamu tunggu disini." Tegas Lucas.
Jingga diam tidak membatah. Alhasil ia membiarkan begitu saja Lucas keluar dan kemudian datang kembali sambil membawa kotak pertukangan. Akhirnya, Lucas lah yang berkutat dengan rak-rak itu. Jingga tampak serba salah melihat Lucas yang sudah lebih dari satu jam berada di unitnya. Awalnya, ia ingin mengusir laki-lako itu setelah 30 menit berlalu. Tapi melihat hasil kerjanya yang begitu membantu. Jingga pun takjub.
" Ehem... Kamu mau minum apa ? Atau mau makan ?" Tanya Jingga pada Lucas yang bediri di atas kursi dan sedang mengebor dinding. Laki-laki itu terlihat serius. Saking seriusnya sampai tidak bisa diganggu. Tanpa sadar Jingga tersenyum.
Laki-laki ini sadar nggak sih, kalau disaat seperti ini dia terlihat seksi ?
Tersadar aka apa yang baru saja lewat dalam kepalanya buru-buru Jingga membuang jauh isi pikirannya dan melarikan pandangan.
Astaga, aku mikir apa sih !
" Aku takut."
Tiba-tiba Lucas bersuara. Sontak suara itu membuat Jingga kembali mendongak.
" Takut kalau semenit aja kamu ngeliatin aku seperti tadi. aku takut nggak ngebor dinding lagi tapi malah ngebor yang lain."
Awalnya Jingga sedikit tidak mengerti. Tapu setelag paham maksud ucapan Lucas. Wajah Jingga seketika merah padam.
Jadi laki-laki itu sadar jika sedang diperhatikan ?
" Ya, kan... Aku lagi nunggu jawaban kamu. Ya, pasti ngelihat kamu lah."
" Oh, emang tadi kamu tanya apa ?"
" Kamu mau minum dan makan apa ?"
" Makan kamu. Boleh ?"
" Aku serius ."
" Seadanya aja. Nggak kamu kasih makan dan minum juga nggak masalah.
__ADS_1
" Ya, nggaj mungkin kah. Aku nggak sekejam itu. "
" Ninggalin aku tiga tahun, itu termasuk kekejaman brutal loh."
" Mulai deh...Bahas lagi." Ucap Jingga kesal.
" Hahaha... Iya iya nggak bahas lagi."
" Udah tunggu bentar, aku bikinin dulu."
Seperginya Jingga dari ruang tengah. Lucas pun ikut mematikan bor di tangannya. Dengan senyum miris ia melihat hasul kerjanya yang tidak tepat sasaran.
Sambil menatap dinding di depannya, Lucas menghembuskan napas panjang.
Bagaimana ia bisa berkonsentrasi jika Jingga terus-terusan memandangnya seperti tadi ?
***
Jingga keluar dari dapur sambil membawa nampan berisi makan dan minuman untuk Lucas. Ekspresinya tampak takjub melihat 75 % furnitur-furnitur itu sudah dirakit dan terpasang di tempatnya. Laki-laki itu juga sudah tidak membutuhkan kursi lagi untuk memasang rak-rak dinding mengingat tingkatan rak yang tersisa masih bisa di jangkau tanpa alat bantu. Pantas Lucas menjadi pengusaha, laki-laki itu benar-benar terampil.
" Itu... kalau capek, kamu makan dan minum dulu." Tawar Jingga. Saat selesai meletakkan nampan di atas meja. Tapi sepertu sudah ditebak, Lucas tidak menanggapi dan masih berkutat di ujung sana.
Jingga kembali mendekat, Di lihatnya Lucas yang tampak kesulitan antara mengebor dan memegangi salah satu rak.
" Perlu bantuan ?" Jingga menawarkan diri.
Lucas sontak menoleh.Tapi bukannya menjawa. tawarannya.Laki-laki itu malah diam saja sambil menatapnya. Jingga mengerjap-ngerjapkan mata bertanda gugup. Kenapa ? Apa ada yang salah dengan tawarannya ?
" Ehhm itu... Aku lihat kamu kesusuhan pegang raknya, jadi mungkin aku bisa bantu megangin."
" Yakin bisa ? Susah loh ?" Tanya Lucas sambil tersenyum penuh arti.
" Ya, bisalah, kenapa nggak bisa ?"
Jingga langsung mengambil alih rak yang sedang Lucas pegang. Perempuan itu menghadap dinding dengan kedua tangannya yang sudah memegangi kedua ujung rak dan menempelkannya ke dinding.
" Ginikan ?" Tanya Jingga sembari menoleh kebelakang menatap Lucas.
Laki-laki itu menangguk mereapon pertenyaannya. Namun tiba-tiba Lucas meletakkan bos yang sejak tadi di pegangnya. Jingga tampak mengerurkan dahi, mau apa laki-laki itu ?
" Gerah banget, nggak apa-apakan aku lepas baju ?"
__ADS_1
Mata Jingga membelalak.
Lepas baju ????? Oh tuhan.... Kuatkan imanku !!!!