CEO Dingin Yang Bucin

CEO Dingin Yang Bucin
seasion 2. part 18


__ADS_3

Helaan napas lega langsung menyertai Revan. Laki-laki itu beralih menatap Lucas yang masih nampak menghajar Irfan bolak-balik tanpa ampun. Mata Revan memperhatikan ponsornya yang sudah oleng. Namun, melihat Irfan masih terus mencoba bergerak bangun. Lucas kembali tersulut emoai. Ia menghajarnya tanpa ampun. Revam berdecak sebal melihatnya. Sebenarnya apa yang dilakukan laki-laki itu di saat seperti ini ?!


" Livia, bawa Jingga keluar. Saya peelu bikin mereka berhenti." Pinta Lucas pada salah satu assistennya yang baru saja tiba. Revam juga bisa melihat orang-orang yang semakin ramai memperhatikan ruangan mereka.


Setelah Jingga sudah berada di tangan yang tepat, Revan segera melangkah mendekati Lucas yang sudah seperti orang kesetanan. Mata Revan melirik Irfan yang kembalu berdiri menghindari Lucas yang akan menghajarnya lagi. Alhasil Revam segera menahan Lucas dan membawanya mundur teratur.


" Udah, dia bisa mati." Ucap Revan kesal, sekuat tenaga dia mencoba Lucas.


" Persetan ! Kamu nggak lihat dia tadi ngapain Jingga , Hah ! Minggir, aku bakal bunuh manusia berengsek ini, berani-beraninya dia menyentuh istriku."


Lucas mendorong Revan, menyingkir, tetapi Revam kembali menahannya.


" Udah, jangan cari masalah..."


" Masalah ? " Bentak Lucas.


" Kenapa kamu takut sama dia ?" Tambah Lucas.


Revan mengusap wajah frustasi. Ini bukan saatnya menambah masalah. Pekerjaannya dipertaruhkan saat ini.


Revan menyuruh pegawainya untuk menahan Lucas, Revan segera menghampiri Irfan yang sedang kesulitan untuk berdiri. Dengan cepat Revam membantunya berdiri.


" Revan, terima kasih. Kamu memang bisa diandal...."


Prakk


Belum selesai Irfan bicara, tubuh itu kembali luruh. Kali ini sudah dipastikan laki-laki iti tidak akan lagi mencoba berdiri. Setidaknya untuk beberapa menit. Ruangan itu mendadak hening. Apalgi Lucas, bisa dilihatnya Revan sedang melempar botol yang baru saja ia pecah kan dikepala Irfan.


" Aku kira, setelah dia dihajar sampai bonyok kayak gini, dia bakal berhenti ngebacot." Suara Revan terdengar saat tubuh Irfan luruh, laki-laki itu menoleh kearah Lucas.


*****


Sambil bersedekap, Lucas duduk di salah satu kursi. Sementara itu, di sebelah kirinya tamoak juga Jingga, di lanjutkan dengan Revan dan yang paling pinggir, Irfan yang sejak tadi tidak henti-hentinya memegangi kepalanya yang sudah dalam keadaan di perban.


Bagi bagian orang yang baru saja melakukan tindak penganiayaan berat, baik Lucas dan Revan benar-benar terbilang santai. Malah Urgan yang tampak resah dan gelisah di tempat duduknya.

__ADS_1


." Jadi.... Siapa yang menganiaya saudara Irfan ?"


" Saya.."


" Saya.."


Secara bersamaan Luvas dsn Revan sama-sama mengaku. Kening polisi yang mengintrogasi tampak berkerut. Bida dilihat dua laki-laki yang duduk didepannya itu saling melempar tatapan satu sama.lain.


" Saya pak, yang sudah bikin dia pingsan dan kepalanya bocor." Ucap Revan.


" Saya yang sudah bikin muka si brengsek itu bonyok pak."Ucap Lucas santai.


Mendengar Lucas dan Revan yang saling mengaku dengan santai. Polisi yang bisa menggelengkan kepalanya.


" Maaf, pak... Mereka berdua cuma mau melinduni saya, mereka nggak sepenuhnya salah. Laki-laki itu..." Telunjuk Jingga mengarah luruh kearah Irfan.


" Dia mencoba memperkosa saya, diruangan tertutup." Tambah Jingga .


Mendengar itu, membuat Amarah Lucas seakan membara kembali, pria itu menatap tajam dan penuh amarah kearah Irfan. Sial jika ini tidak di kantor polisi habis dia.


Jingga menoleh, perempuan itu menggertakan gigi menahan kesal. Tanhannya pun mengepal erat.


" Nggak ngapa-ngapain ?" Tanya Jingga kesal.


" Pak, perempuan itu mabuk, dia yanh goda saya! Saya...."


" Kamu bilang apa ? Jingga godain kamu ?"


Suara Lucas tedengar bersamaa dengan laki-laki itu yang berdiri dari duduknya. Jingga ikut mendongak. Bisa, ia lihat Lucas yang tampak tersenyum sinis.


" Siapa namau tadi, Irfan ya ? Kamu dengar baik-baik. Saya yang sempurna kayak gini aja, harus ngejar Jingga, jatuh bangun. Kamu modelan munyuk kayak gini ? Ngaku-ngaku digodain Jingga ? Sialan ! Jangan bikin saya jijik."


Mendengar ucapan Lucas, Revan menahan tawa.


" Sudah...Sudah jangan buat keributan dikantor polisi, saudara Lucas dan Revan, kami akan melakukan pena..." Ucapan Pak polisi yang mengintrogasi terhenti saat seseorang datang.

__ADS_1


" Selamat malam, Pak. Maaf saya Jimmy, pengacara Pak Lucas." Ucap Jimmy yang tiba-tiba datang.


Sontak membuat Semua orang yang berada disana, menoleh ke arah Jimmy.


" Anda Pak Jimmy, orang kepercayaan pak Lucas Arkana Putra ?" Wajah Irfan tampak berbinar saat melihat Jimmy.


" Ya benar, maaf anda siapa ya ?" Tanya Jimmy yang tampak bingung, saat seseorang yang wajahnya babak belur datang menghampirinya.


" Oh maaf, perkenalkan saya Irfan. Dari perusahaan Y. Saya sudah lama ingin bertemu dengan anda, saya berniat melakukan kerja sama dengan perusahaan Pak Luvas Arkana Putra." Irfan tidak ingin membuang kesempatan emas ini, sangat sulit untuk bertemu dengan tangan kanan Lucas itu. Sudah lama ia ingin menjalin kerja sama, tapi bagai rahasia umum, bertemu denhan Lucas sangat sulit. dan saat ini bertemu dengan Jimmy, ini merupakan jalan buatnya.


" Oh anda pak Irfan." Ucap Jimmy ramah.


" Iya, bagaimana kalau setelah ini kita ngobrol-ngobrol santai di kafe X." Ajak Irfan tampa malu.


" Maaf, Pak Irfan saat ini saya sangat sibuk, Saya harus...."


" Jimmy, udah jangan banyak bicara, cepat selesaikan masalah ini dan bawa saya dan Jingga keluar dari sini ." Ucap Lucas memotong. Mendengar pembicaraan Irfan dan Jimmy sudah membuatnya muak.


" Maaf tuan. Baik saya akan segera selesaikan."


" Tuan ? Dia tuan mu ? Lucas pemilik grup Arkana" Tanya bingung Irfan pada Jimmy.


" Ya dia tuan saya, Lucas Arkana Putra." Jawab Jimmy dengan jelas.


" Dia Lucas arkana Putra ?" Tanya Irfan yang tampak syok berat.


Jimmy hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Irfan.


Matilah aku..


Tubuh Irfan tampak lemas hingga jatuh terduduk di atas kursi.


Dia tidak menyangka dia membuat masalah dengan Lucas Arkana Putra, orang yang sangat punya kuasa, pengusaha yang sangat berpengaruh di negara ini, laki-laki yang bisa saja menghancurkan usaha orang lain, hanya dengan sekali tunjuk. Lucas bukan orang yang sembarangan. Dia pengusaha berhati dingin, tanpa belas kasihan pada orang lain. Tidak ada orang di negara ini yang mau membuat masalah dengan Lucas.


Aku harus minta maaf, kalau perlu aku harus bersujud, aku harus menyelamatkan perusahaanku....

__ADS_1


Irfan masih diam, tubuhnya terasa lemas tak berdaya


__ADS_2