CEO Dingin Yang Bucin

CEO Dingin Yang Bucin
seasion 2. part 6


__ADS_3

Tekat Lucas benar-benar kuat, dia suadah siap dengan segala cara, baik cara halus hingga cara terkasar yang akan di tempuh.


Waktu tiga tahun sudah cukup, dia sudah tidak bisa menunggu lagi.


Di mulai dari cara terhalus. Lucas akan selalu memganggu Jingga, berusaha bertemu dengannya setiap hari. Walaupun cara itu tidak berjalan lancar. Karena ada saja cara Jingga menghindar darinya.


Malam ini, Lucas sudah menepati salah satu meja dengan sebuah hidangan diatasnya. Menurut informasi dari pegawai di sini. Semua resep menu di restoran adalah buatan langsung dari pemiliknya yang tidak lain adalah Jingga.


Memikirkan seberapa terampilnya perempuan itu di dapur, entah kenapa membuat Lucas sedikit kesal. Kenapa istrinya itu tidak masak di dapurnya dan memasak makanan untuknya.


"Selamat malam, Bapak. Maaf menggangu waktunya sebentar." Tiba-tiba seorang pegawai mendatangi Lucas. Lucas nyaris bosan melihat pegawai yang bernama Risa ini selalu melayaninya. Setiap Lucas bertanya A, maka Risa menjawab. Setiap Lucas bertanya B, maka Risa lagi yabg datang.


Kenapa dia mulu, sih yang datang ? Sekali-kali Jingga gitu yang datang. Mentang-mentang bos jadi nggak mau terjun langsung ke lapangan ?


" Ada apa ?" Tanya Lucas.


" Kami ada sedikit hadiah untuk Bapak, Hadia ini selalu kami berikan kepada pelanggan setia. Khusus yang ninimal tujuh hari berturut-turut mengunjungi restoran kami. Berdasarkan data kami, Bapaj berkunjung ke sini, dari tanggal sebelas hingga tanggal hari ini. Jadi, Bapak berhak mendapatkan hadiah daribkami. Terima kasih sudah datang berkunjung setiap hari."


" Setiap hari datang kesini ? Saya ?"Tanya Lucas heran.


" Benar sekali."


Lucas melongo, jadi teehitung sejak sepuluh hari lalu dirinya tiap hari datang kesini ? Dan dia belum bertemu Jingga ? Wahh.... Luar biasa.


" Jadi ini hadiah untuk saya ?" Tanya Lucas menunjuk bingkisan yang entah apa isinya.


" Betul sekali, Bapak. Jadi sebagai tanda terima silahkan tanda tangani surat ini "


Lucas mengambil bolpoun yang disodorkan Risa dan membaca isi kertas tersebut. Jenis surat tanda terima seperti biasanya, tapi yang menjadi fokus utama Lucas saat itu adalah kolom lain yang berada disamping kolom tanda tangan yang berisikan namanya .

__ADS_1


Senyum licik Lucas seketika muncul di bibirnya.


" Hmm... Rasanya kurang etis kalau ada dua kolom tanda tangan tapu hanya ada saya di sini. Serah terima itu lebih baik dilakukan ketika dua pihak salinf bertatapan muka. Mungkin saya bisa tanda tangan bersamaan dengan pemilik restorab langsung ?"


" Maaf, Bapak. Itu sebenarnya...."


" Ya... Kalau kebertaan, sih, saya nggak memaksa.Tapi, maaf saja saya nggak bisa terima hadiah ini. Seharusnya sebuah hadiah diberikab sebagai simbol ketulusan dan rasa terima kasih kepada pelanggan. Tapi kalau seperti ini saya sama sekali nggak merasakan ketulusan itu."


Melihat kekalutan Risa, Lucas tahu kalau ucapanya sudah mulai mempengaruhinya. Tidak lama setelah itu, Rida memohon izin untuk pergi sebentar. Lucas bisa melihat ruang yang dituju Risa ruangan kerja Jingga. Tidak lama berselang, Risa kembali muncul dan dari ekspresinya Lucas tahu kalau ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan.


Lucas kini sudah berdiri di dalam ruangan Jingga bersama Risa yang sudah berdiri tidak jauh darinya. Bingkisan yang disebut sebagai hadiahpun juga sudah berpindah ke atas meja sofa lalu Risa pun sudah pamit keluar ruangan tersebut. Lucas berjalan menuju sofa . Laki-laki itu tidak langsung duduk, ia hanya menyentuh sebentar bingkisan yang ada di atas meja. Senyum di bibir Lucas terbit saat menyadari Jingga sudah melangkah meghampirinya.


" Aku nggak nyangka ternyata...."


" Saya mewakili nama baik Restoran ini, mohon maaf atas ketidak sopanan yang kami lakukan beberapa saat lalu hingga membuat anda merasa kurang nyaman. Yang pasti kami sangat tulus memberikan hadiah ini kepada anda." Ucap Jingga sembari tersenyum sopan.


Ekspresi Lucas yang semula santai berubah kaku seketika. Apa lagi kalau bukan cara bicara Jingga kepadanta saat ini.


" kamu....." Kalimat Lucas menggantung dan entah kenapa di tanggapi Jingga sebagai jawaban atas pertanyaannya.Lucas menunduk melihat Jingga menandatangani surat terima tersebut.


"Saya sudah tanda tangan, sekarang giliran anda, silahkan ?"


Jingga menyodorkan kertas itu kepada Lucas. Tapi bukan menyambutnya, laki-laki itu masih diam tidak merespon.


" Maaf, giliran An...."


" Saya ? Anda ? Sejak kapan bahasa yang kita gunakan sekaku ini ?"


Jingga menatap Lucas kaget, ia meghela napas lalu tersenyum tipis, berusaha untuk tetap sabar.

__ADS_1


" Anda adalah pelanggan. Jadi, sudah seharusnya saya bersikap profesional. Pada dasarnya hubungan di antara kita hanya sebatas itu, Jadi tidak perlu terlalu akrab."


" Hanya sebatas itu ? Oh..." Lucas mengangguk paham.


Jingga bisa melihat rahang laki-laki itu yang mengeras. Jingga bertanya-tanya, apa ada yang slah dengan ucapannya ? Tiga tahun ini hidup terpisah, terbiasa saling sendiri, tanpa harus saling mengantungakan. Dan saat ini Jingga hanya menganggap mereka berdua hanya sebatas penjual dan pembeli.


" Jadi, benar-benar tidak ada yang tersisa, ya ?" Lucas kembali bersuara.


Laki-laki itu mulai bergerak, bukan untuk tanda tangan melainkan mendekati Jingga. Jingga cukup kaget melihat gerakan Lucas.


Mau apa orang ini ?


Kini Lucas sudah berdiri kurang sepuluh senti dari hadapannya. Tatapan mereka bertemu. Saat laki-laki itu kembali mendekat satu langkah. Jingga merasa alarm tanda bahaya menggema diatas kepalanya. Tiba-tiba tubuh Jingga kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk diataa sofa. Ketika Jingga mendongak, Lucas sudah mengurungnya di antara sandaran sofa dengan tubuhnya.


" Aku nggak nyangka kalau tiga tahun sudah bisa bikin memori perempuan usia dua puluh enam tahun sedikit terganggu. Kamu bilang apa tadi ? Hanya sebatas itu ? Hubungan kita hanya sebatas profesional ?"


" Memangnya apa lagi selain hubungan profesional . Nggak ada, kan ?" Jingga berusaha tetap tenang walaupun bisa terdengar kalau suaranya sedikit bergetar.


Mendengar ucapan Jingga, Lucas semakin memajukan wajahnya. Bibir mereka semakin tak berjarak. Jingga bahkan bisa bertaruh. Sedikit daja ia maju, bibir mereka akan bertemu."


" Matahari Jingga, Jangan paksa aku untuk mengingatkan kamu tentang hubungan seperti apa yang pernah da diantara kita. Apa lagi kamu bilang?"


Jingga bisa meraskaan hembusan napas Lucas membelai wajahnya. Jatungnya berdetak cukup kencang.Peluh kecil mulai.membasahi dahinya. Senyum Lucas terbit melihat ia tidak lagi berusaha menjawab Jenis senyuman yang paling Jingga benci.


" Apa kita perlu berciuman dahulu ? Agar kamu ingat siapa aku ?"


Jingga masih diam, tak mampu berucap. Jantungnya semakin berdetak tak beraturan.


" Aku masih ingat betul, gaya apa yang paling kamu sukai ?" Ucap Lucas kembali.

__ADS_1


Wajah Jingga sontak memerah.


" Dan Lagi, setiap inci dari tubuhmu masih teringat jelas, sayangku !"


__ADS_2