CEO Dingin Yang Bucin

CEO Dingin Yang Bucin
Yang terbaik untukmu


__ADS_3

Ini tidak benar, sungguh tidak benar. Jingga menatap nanar tas yang berjejer diatas ranjang tempat tidurnya, raut wajah merana, mencoba percaya, sudah berapa miliyar uang yang Lucas habiskan untuk tas-tas di depannya itu.


Jingga kira tadi cuma bercanda, hanya guyonan remeh.


Tapi ia masih tidak percaya, Lucas benar-benar membeli semua tas-tas itu.


Jingga bingung, dia tidak tahu harus bagaimana dengan tas-tas ini, dia merasa sayang. Ya sayang ? Sayang uangnya, menghabiskan miliyaran uang hanya untuk sebuah tas.


Apa fungsi tas ini ? Cuma buat naruh bedak, lipstik dan ponsel. Tapi kenapa harus semahal ini ?


Kalau saja tidak karena Stevi itu, tidak mungkin Lucas akan membeli barang ini kan ?


" Kamu kenapa ?" Tanya Lucas, yang tiba-tiba datang.


" Kita balikin yuk tas nya ?"


" Balikin ?"


" Iya."


" Kenapa ? Kamu nggak suka, mau tuker model yang lain ?"


" Bukan, kamu tahu kan harga-harga tas ini ? Miliyaran , terlalu sayang, uang sebanyak itu hanya untuk sebuah tas ." Ucap Jingga.


Lucas hanya diam, alisnya mengerenyit.


" Nggak juga."


" Nggak juga gimana ?"


" Aku sama sekali nggak sayang, sama uang itu. Membelikan kamu tas-tas ini juga bentuk kewajibanku, sayang." Di peluknya Jingga dari belakang, di letakkannya kepalanya di pundak istrinya itu.


" Tapi aku nggak butuh tas-tas ini."


" Ya, suatu saat kamu akan butuh, di simpen aja dulu."


" Mau di pakai kemana ? Ke kampus ? Pakai tas-tas kayak gini ?"


" Ya pakai saat menemaniku ke acara penting."


Acara penting ? Harus ya pakai barang-barang branded ? Atau mungkin, selama ini penampilanku, tidak cocok untuk Lucas ? Apa barang-barang murah yang ku pakai membuatnya malu ?


Jingga diam, dia tidak tahu harus bicara apa, ucapan Lucas, seakan mengingatkannya, bahwa dia tidak bisa berpenampilan biasa, apa adanya saat bersama Lucas.


Jingga merasakan lingkaran tangan Lucas melepas, beranjak pelan bermain di lehernya.


Lelaki itu menciumi garis rahang istrinya.


" Bukankah, aku harus di beri hadiah karena sudah membelikanmu tas-tas ini ?" Bisik Lucas pelan di telinga Jingga, Tapi Jingga seakan mematung, tidak bereaksi.


Pikirannya sibuk, memikirkan. Apa harus aku memakai barang-barang mewah untuk pantas bersamamu ?


Lucas membalik tubuh Jingga perlahan, merapikan rambut Jingga.


" Aku mau tanda terima kasih, boleh ?"


" Terima kasih ap----"

__ADS_1


Belum selesai Jingga menjawab, Lucas sudah membungkamnya dengan bibirnya. Perlahan tapi pasti Lucas bermain nakal di sana. Tangannya mulai beraksi, mencoba menyelinap masuk di balik baju istrinya itu.


Tapi dengan cepat Jingga menahan tangan itu.


" Aku mau istirahat, aku capek." Ucap Jingga, di tatapnya mata Lucas, sambil tersenyum.


Untuk sesaat Lucas merasa bingung, kenapa Jingga menolaknya.


" Capek ?" Tanya Lucas.


Jingga mengangguk pelan.


" Bolehkan, aku istirahat ?"


" Em... Ok." Jawab Lucas ragu.


Jingga berjalan mendekati ranjang, dan di letakkannya tas-tas ke dalam lemari.


Lucas merasa ada yang aneh dengan istrinya itu, Jingga yang biasanya tidak akan menolaknya, Jingga yang biasanya tidak akan tahan dengan godaannya.


Di lihatnya Jingga berbaring di atas ranjang, tanpa memintanya untuk memeluknya.


Ini tidak benar ? Jingga yang biasanya akan memintanya Lucas untuk memeluknya, sampai ia tertidur pulas ?


Jingga yang biasanya akan bermanja kepada Lucas, saat bersiap tidur ?


Lucas menyusul Istrinya itu, berbaring di sampingnya, dan memeluknya. Tapi dengan pelan Lucas merasakan Jingga menggeser tubuhnya menjauh darinya.


"Sayang aku buat salah ya ?" Tanya Lucas.


"Nggak."


" Aneh gimana ?"


" Kenapa kamu diam ?"


" Kan mau tidur."


" Terus kenapa kamu menjuah kayak gini ?"


" Gerah." Ucap Jingga pelan.


Gerah ? Nggak, AC nyala, dengan suhu kayak biasanya.


" Sayang hadap sini !" Perintah Lucas, dengan suara selembut mungkin.


" Aku ngantuk."


Lucas menarik nafas panjang, mencoba bersabar menahan emosinya, dia tahu wanita bisa berbuat dan bersikap seenaknya, tapi tetap dia tidak suka itu.


Lebih baik bicarakan semua, dari pada diam tak jelas seperti ini.


" Matahari Jingga." Ucap Lucas, dengan penekanan disetiap kata yang dia ucapkan.


Tapi Jingga masih diam, tidak berkutik.


" Aku hitung satu sampai tiga, jika kamu tidak berbalik, menghadapku , aku akan-----"

__ADS_1


Belum selesai Lucas berucap Jingga dengan cepat, membalik tubuhnya, menghadap suaminya itu, wajah mereka sangat dekat, hanya berjarak beberapa cm saja.


" Apa ?"


" Kamu kenapa sih, kalau ada masalah itu ngomong, jangan diam nggak jelas kayak gini." Ucap Lucas kesal.


Jingga menarik nafas panjang, ia juga berusaha menahan emosinya.


" Ada apa ? Kenapa kamu marah ?"


" Kamu malu ya nikah sama aku ?"


" Maksud kamu ?"


" Iya, kamu sengaja belikan aku barang-barang mahal, buat apa ? Supaya aku nggak malu-maluin kamu, aku yang biasa ini, nggak pantes bersanding denganmu, hingga kamu harus merubahku agar aku pantas buat kamu, nggak malu-maluin kamu, iya kan ?" Tanya Jingga bergitu emosi.


" Kamu kenapa sih ? Siapa juga yang malu ?"


" Ya kamu ! Kamu tahu kan aku nggak biasa pakai barang-barang brended kayak gitu, aku memang orang biasa, yang seperti ini aku, tidak biasa dan bahkan tidak punya, tapi kamu nggak harus melakukan seperti ini."


" Jingga, sebenarnya kamu ngomong apa sih ?" Lucas beranjak duduk. Pria itu masih tidak mengerti maksud ucapan Jingga.


" Aku tahu aku memang nggak pantes buat kamu, cuma orang miskin, benar ucapan Tsania, kita berbeda, kasta kita sangat jauh berbeda, tapi aku------"


Belum selesai Jingga berucap, Lucas sudah membungka. mulut Jingga dengan bibirnya, Lucas mel*matnya dengan bertubi-tubi, seakan tidak memberi jeda untuk Jingga mengambil nafas. Dan Jingga berusaha melepaskan diri, tapi sayangnya, semakin ia ingin lepas, semakin kuat juga tenaga Lucas menahan kepalanya.


Jingga seakan pasrah saat Lucas menciumanya dengan ganasnya itu, tidak ada balasan darinya untuk ciuman itu.


Hingga perlahan Lucas melepas ciuman itu, tapi tidak membuang jarak diantara mereka berdua, Jingga bisa mersakan deru nafas Lucas yang beradu dengan hembusan nafasnya.


" Udah selesai bicara omong kosongnya ?" Tanya Lucas.


Jingga diam tidak menjawab, dia diam seribu bahasa, seakan tidak tahu harus berakata apa.


" Apa aku pernah bilang malu bersamamu ? Apa aku pernah bersikap, seolah aku seperti semua tuduhanmu ? Apa kamu tidak tahu, betapa aku bahagia, dan bangga memilikimu, terlepas dari semua barang yang aku berikan padamu ? Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin memberikan semua yang terbaik untukmu, aku ingin membahagiakanmu, seperti wanita yang lain. Kau tidak peduli kamu mau pakai apa, semua yang kamu pakai, semua terlihat luar biasa untukku."


Jingga masih diam, mendengar setiap ucapan Lucas, membuatnya membisu, dia tidak menyangka Lucas ternyata tidak seperti yang dia pikirkan.


" Terus kenapa kamu belikan aku tas-tas ini ? kamu tahu kan, aku tidak suka memakai tas-tas seperti itu ?"


" Aku tidak suka orang lain menghina wanitaku, hanya untuk sebuah barang, mereka tidak berhak menghinamu,kamu lebih berharga dari barang-barang itu."


Jingga tersenyum, dia tidak menyangka Lucas begitu peduli dengannya.


" Bisakah kami berjanji ?"


" Untuk ?"


" Jangan lagi kamu hamburkan uangmu hanya untuk membelikanku barang-barang seperti ini ?"


Perlahan Lucas memundurkan kepala dan tubuhnya.


" Ayolah, berjanjilah padaku ?" Ucap Jingga memohon.


" Maaf sayang, sepertinya aku tidak bisa !" Goda Lucas.


Di peluknya istrinya itu dengan erat, dicium ujung kepala istrinya itu.

__ADS_1


Semua yang terbaik di dunia ini , aku akan memberikannya padamu ? Kamu pantas mendapatkan itu.


__ADS_2