CEO Dingin Yang Bucin

CEO Dingin Yang Bucin
seasion 2 . Part 2


__ADS_3

Jingga..


Mata bertemu mata, saling diam tak berucap.


Jantung Lucas berdetak cepat, ia terkejut bukan main ketika mengetahui siapa perempuan yang memanggil Jesica. Orang yang selama 3 tahun meninggalkannya sendiri, tanpa berucapa hanya meninggalkan pesan, secarik kertas di atas nakasnya bertuliskan.


Aku butuh waktu sendiri.


Sebuah pesan yang ia kira hanya sebentar, tapi nyatanya pesan itu mengartikan waktu yang cukup lama.


Jika kalian bertanya, apa Lucas tidak berusaha membuat Jingga kembali ? Sudah, semua sudah ia lakukan, semuanya. Mengemis maaf sambil menangis, bahkan ia bisa merendahkan dirinya, bersujud memohon ampun, berharap Jingga memaafkannya. Tapi itu semua seakan percuma, Wanita yang sangat dicintainya itu hanya diam, memasang wajah dingin, dan hanya berucap aku butuh waktu sendiri.


Menyadari itu, Lucas tau kesalahannya sudah sangat fatal, dia bisa memaklumi Jingga begitu kecewa padanya. Dengan berat hati ia membiarkan Jingga pergi menenangkan diri. Setiap detik setiap jam dan hari ini ia menunggu.


Selama 3 tahun ini Lucas hanya bisa menunggu, hati istrinya itu kembali terbuka untuknya, memaafkannya dan kembali padanya.


Dan saat ini wanita yang sangat ia rindukan itu berdiri tepat di depan matanya, tanpa sadar bibir Lucas tersenyum. Dia senang bisa melihat Jingga, tanpa harus bersembunyi-sembunyi seperti selama ini, ketika ia rindu hanya bisa melihat Jingga dari kejauhan.


Lucas menatap dalam wanita yang sangat dicintainya itu, mata itu masih sama, hidungnya, bahkan bibirnya.... masih sama. Bahkan detak jantungnya pun masih berirama sama persis seperti dulu.


" Jingga..?"


Saat nama itu keluar dari bibirnya, Lucas tersentak mendengar nada suaranya sendiri bergetar bukan main.


Kaki Lucas sudah berpindah dua langkah ke depan bersamaan dengan Jingga yang sudah lebih dulu maju. Lucas memilih diam. Ia berpikir, Jingga akan berhenti tepat dihadapannya, tapi wanita itu justru berjalan melewatinya begitu saja. Jingga baru menghentikan langkahnya saat sudah berdiri tepat di sisi kiri tubuhnya. Bahkan, wanita itu tidak melihatnya sama sekali.


" Kamu selingkuhannya ?" Tanya Jingga dengan nada santai.


Lucas yang masih syok pun tersadar, ia menoleh kepada Jingga. Wanita itu melontarkan pertanyaan untuknya, tapi arah tatapannya tidak tertuju pada Lucas, melainkan pada Jesica yang sedang duduk santai di kursinya.


" Bukan." Jawab Lucas keras dan cepat. Dia tidak ingin Jingga salah paham lagi padanya. Sudah cukup masalah Tsania, dia tidak ingin Menambah masalah lagi.


" Kalau nggak percaya tanya aja, Jimmy ." Lucas begitu panik, dia segera meminta bantuan seketarisnya itu.


" Aku lagi bantuin Pandu Atmaja untuk mencari tunangannya. Nggak nyangka, ternyata dia lagi sama kamu."

__ADS_1


Kali ini Jingga bicara cukup panjang. Perempuan itu melirik sebentar lalu melempar senyum tipis penuh makna ke arahnya.


Lucas tahu betul arti senyuman itu Apalagi, mengingat tadi Jingga datang saat Jesica sedang mengrepe-***** tubuhnya.


Lucas mengepal keras tangannya, menyesali kebodohanya. Sejujurnya dia hanya berniat memberi pelajaran ke anak rival bisnisnya itu, belum ia bertindak sudah keciduk Istrinya. Malang betul nasibmu Lucas, kesalahan lama belum di maafkan kini kau tambah dengan kesalahan nggak berguna seperti ini. Lucas begitu menyesali kebodohannya.


Bukan ini yang ia mau, selama 3 tahun menunggu, kini malah hancur..


Lucas menatap penuh amarah ke arah Jesica, tapi sayangnya wanita itu seolah tidak perduli. Ia malah membalas tatapan itu dengan senyuman licik.


Lucas memutar tubuhnya menghadap Jingga yang belum mau menatapnya.


" ... Aku bisa jelasin semuanya." Lucas masih berusaha.


" Nggak perlu, bukan urusanku juga." Jawab Jingga dingin.


Jingga mengangkat telpon saat, ada panggilan masuk di ponselnya.


" Riva, kamu di mana ? Aku udah ketemu sama tunanagannya Pak Pandu, cepet kesini aku di tempat VIP."


" Maaf, Bu Jesica bisa ikut saya sebentar, Pak Pandu udah nunggu." Ucap Jingga, dia berusaha setenang dan sesopan mungkin pada tunangan kliennya itu.


" Pandu ? Oh pria bodoh itu, kamu suruhannya ?" Tanya Jesica dengan nada mengejek.


Mendengar itu Jingga berusaha bersabar, menahan setiap emosi yang siap diledakkan kapan saja.


Sabar Jingga..


Dan Lucas yang mendengar itu sudah sangat marah bukan kepalang, bagaimana wanitanya bisa dihina dan direndahkan di depan matanya.


Lucas sudah bersiap untuk berjalan mendekati Jesica, tapi sayangnya. Tangan Jingga menahannya.


" Diam disitu, jangan ikut campur." Ucap Jingga pelan, tapi dengan jelas Lucas bisa mendengar itu.


Jingga mencoba menarik nafas dan membuangnya perlahan. Saat ini dia harus bersikap tenang.

__ADS_1


" Iya bisa dibilang begitu, Bu. Pak pandu sudah menunggu, beliu sudah menyiapkan semuanya dari lama, dan lagi beliu begitu mencintai Bu Jesica."


" Cinta ? Hahaha... Tapi saya nggak cinta sama dia." Ucap Jesica dengan santainya lalu tertawa keras.


" Terus Bu Jesica cintanya sama siapa ? Dia ?" Tanya Jingga dengan entengnya sambil menunjuk kearah Lucas.


" Iya." Jawab Jesica, lagi-lagi wanita itu berucap dengan santai tanpa beban apalagi dosa.


" Nggak, aku nggak cinta dia, aku cintanya sama kamu." Jawab Lucas panik, menatap Jingga dengan tatapan please kasihini aku...


Tali lagi-lagi Jingga hanya diam, tidak merespon ucapan Lucas, bersikpa seolah dia tidak peduli.


" Terus ini gimana, Pak Pandu udah booking tempat di restoran saya, Semua udah siap, kalau dibatalkan sayang, dan lagi setidaknya Bu Jesica menjelaskan ke Pak Pandu, alasannya. Jangan asal membatalkan pernikahan."


" Kok kamu makin kurang ajar ya, berani ngatur-ngatur saya. Emang kamu siapa ? Nyonya besar, kamu cuma pemilik restoran kecil sok ngatur-ngatur saya. Saya bayar semuanya, berapa ? Kamu sebutin aja nominalnya ?" Ucap Jesica dengan sombongnya.


Mengambil secarik cek di dalam tasnya, menuliskan angka dicek tersebut..


" Nih ambil.. Orang miskin oasri kaget lihat uang segitu banyaknya ! " Ucap Jesica pada Jingga. Nada simbibg dan juga menghina terdengar jelas disana.


Mendengar dan melihat kesombongan wanita di deoannya itu, Jingga sudah tidak tahan lagi. Tanganya sudah mengepal keras, ia ingin sekali mencabik mulut wanita sombong di depannya ini.


Persetan dengan uang.


Jingga sudah bersiap maju, sudah saatnya memberi pelajaran wanita sombong ini..


Jingga mengambil cek tersebut, dilihatnya angka di sana, cukup besar nomimal angka yang hampir mendekati total uang yang akan dia terima jika pernikahan Pak Pandu dan tunanangan ini jadi dilaksanakan. Jingga tersenyum. Dan tiba-tiba dengan santainya merobek cek tersebut.


Melihat itu Jesica naik pitam, wajahnya memerah sangking kesalnya.


" Kamu.... Wanita Kurang.. A.." Belum sempat kalimat selanjutnya terucap Jesica sudah dibuat kaget, saat robekan cek itu dilempar Jingga tepat di wajahnya.


Jingga berjalan mendekat, berbisik pelan di telingan Jesica.


" Jangan jadi wanita sombong, apalagi murahan, aku kasih tahu, pria yang tadi kamu goda, setiap bulan ngasih uang 10x lipat lebih banyak dari angka yang ada di cek itu."

__ADS_1


Jingga tersenyum puas, lalu pergi meninggalkan tempat itu.


__ADS_2