
Pagi menjelang, Lucas masih tidur sambil memeluk Jingga dengan erat. Jingga yang terbangun karena sinar matahari sudah menusuk ke ruang itu, menyilaukan matanya, di liriknya tangan yang berada di perutnya.
Senyum simpul tercipta dari bibirnya, dengan hati-hati gadis itu mencoba menyingkar tangan itu, tapi sayang gerakannya membuat Lucas terbangun.
" Masih pagi, tidurlah." Ucap Lucas lirih.
" Ini sudah siang, aku mau bangun."
" Tidak bisa, temani aku tidur."
" Nggak, aku mau ke rumah sakit."Ucap Jingga, sontak membuat Lucas menyingkirkan tangannya dari tubuh jingga, mendapati itu Jingga langsung beranjak bangun.
" Kenapa kamu ke rumah sakit lagi ?" Tanya Lucas dingin.
" Aku mau menjenguk Della."
" Menjenguk Della apa ketemu sama Gilang ?" Tanya Lucas.
" Jangan mikir aneh-aneh deh, kalau kamu nggak percaya kamu ikut aja." Ajak Jingga.
" Nggak, males." Ucap Lucas kesal.
" Dasar, masih pagi udah cemburu nggak jelas." Ucap Jingga lirih, tapi percuma Lucas bisa mendengar itu.
" Jelaslah aku cemburu, istriku mau ketemu mantannya." Ucap Lucas kesal.
" Ih, siapa juga yang mau ketemu mantan, aku mau jenguk temen aku, please deh, kalau kamu mau ikut bilang aja, nggak usah sok jual mahal." Ucap Jingga nggak kalah kesal melihat sikap Lucas seperti anak kecil.
" Ok, kalau kamu maksa." Ucap lucas, lalu beranjak dari tidurnya, dan pergi kekamar mandi meninggalkan Jingga yang masih kesal.
Ih, dasar manusia sok jual mahal, bilang aja mau ikut, pakai acara cemburu nggak jelas.
Jingga tidak habis fikir dengan sikap suaminya itu.
1 jam berlalu setelah drama tidak jelas terjadi antara suami istri itu. Lucas dan Jingga bergegas menuju ke rumah sakit untuk menjenguk Della, bagi Jingga Della tatap sahabatnya walaupun wanita itu telah menghiantinya.
" Kamu ngapain sih ke sana ?" Tanya Luvas di sela-sela aktifitas mengemudinya.
" Aku mau tahu keadaan Della, dia lagi hamil."
" Hamil ?"
" Iya."
" Dia hamil sama Gilang ?"
" Iya."
__ADS_1
Bagus, kini sudah tidak ada lagi kesempatan untuk Gilang ngedeketin Jingga lagi.
" Kenapa kamu senyum-senyum sendiri ?" Tanya Jingga heran, melihat suaminya yang senyum-senyum sediri.
" Nggak apa-apa, cuma seneng aja."
" Seneng kenapa ?"
" Ya senng aja temen kamu itu hamil."
" Ih, dasar aneh, kenapa kamu yang seneng temenku hamil." Ucap Jingga heran, gadis itu tidak habis gikir apa yang dipikirkan Lucas.
Tak lama mereka berdua sampai di rumah sakit yang di tuju, dan tanpa menunggu lama bergegas menuji ruangan tempat Della di rawat, dan di sana terdapat sosok pria yang membuat Lucas hilang mood dalam seketika. Ya Gilang di sana, pria itu sedang menunggu Della selama di rawat di rumah sakit.
Jingga mencoba bersikap biasa, padahal dia sendiri menyadari sikap Lucas yang berubah menjadi dingin saat melihat Gilang.
" Kamu tidur di sini ?" Tanya Jingga pada Gilang, yang salah tingkah dengan kedatangan Jingga dan Lucas.
" Ya, tadi malam Gilang tidur di sini." Jawab Della menyela, gadis itu sadar Gilang pasti sedang tidak nyaman atas kehadiran sosok pria di samping Jingga.
" Owh, baguslah." Ucap Jingga singkat.
" Dia siapa ?" Tanya Della basa-basi, sambil menoleh ke arah Lucas.
" Owh, ini suamiku, Lucas." Jawab Jingga.
" Bagaimana keadaan kamu ?" Tanya Jingga melepas kecangungan yang tiba-tiba tercipta.
" Sudah membaik, mungkin besok sudah boleh pulang."
" Syukurlah, jaga kesehatanmu, sekarang tidak cuma kamu yanh harus di jaga, ada bayi yang harus kamu jaga."
" Iya aku tahu."
Lucas masih menatap tajam pada sosok Gilang yang duduk di samping Della, pria itu terlihat tidak nyaman dengan tatapan Lucas yang seolah akan melahapnya hidup-hidup.
" Oh ya, kamu suaminya Jingga, aku minta maaf karean sudah kemarin sudah merepotkan Jingga." Ucap Della pada Lucas, sontak membuyarkan tatapan Lucas pada Gilang.
" Oh ya tidak apa-apa." Jawab Lucas dingin, dengan senyum datar di bibirnya.
" Oh ya, selagi kita di rumah sakit, bagaiman kalau kita priksa ke dokter kandungan, dan merencanakan progam kehamilan." Ucap Lucas dengan entengnya, sontak membuat mata Jingga membelalak tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
" Progam kehamilan ?"
" Iya, aku ingin segera kita bisa punya anak, masak kita kalah sama temen kamu." Ucap Lucas dengan entengnya.
Mendengar ucapab Lucas, membuat Jingga malu, di tatapnya Lucas dalam-dalam dengan tajam, seolah matanya berkata Apa yang kamu ucapkan ?
__ADS_1
Mendapati Jingga menatapnya tajam, membuat Lucas tersenyum mengoda.
" Kenapa sayang ?" Tanya lucas dengan manjanya.
" Nggak papa, ayo pulang." Ajak Jingga, dia sudah terlanjur malu dengan apa yang baru saja Lucas ucapkan.
" Kenapa pulang ? Kita harus ke dokter kandungan dulu." Ucap Lucas, tapi dengan cepat Jingga menarik tangannya menuju pintu.
" Aku permisi pulang dulu ya." Ucap Jingga, berpamitan pada Della dan Gilang, melihat tingkah suami istri iti Della hanya tersenyum geli, tapi tidak dengan Gilang raut wajahnya menunjukan rasa sedih.
" Terima kasih, sudah datang." Ucap Della.
" Iya, sama-sama." Ucap Jingga sambil berlalu meninggalkan ruangan itu, tangannya masih sibuk menarik Lucas untuk mengikutinya.
" Kamu apa-apa sih ? Pakai bilang progam hamil segala, malu tahu " Tanya Jingga kesal.
" Kenapa harus malu? Kita kan suami istri, sah sah aja kita mau punya anak." Jawab Lucas dengan entengnya.
" Tapi....... Aku masih kuliah, belum berpikir untuk punya anak."
" Emang kenapa kalau kamu kuliah, kamu bisa kuliah saat kita punya anak."
" Nggak bisa."
" Bisa."
" Nggak bisa, ketika aku punya anak, aku akan fokus pada mereka tanpa kesibukan yang membuatku kehilangan waktu bersama anakku."
Mendengar ucapan Jingga, membuat Lucas tersenyum, betapa bangganya dia, istri kecilnya ternyata bisa berpikir dewasa.
" Baiklah, terserah padamu. Kalau begitu kita tidak oeelu ke dokter kandungan untuk progam hamil, kita malam pertama aja" Ucap Lucas, pria itu benar-benar berucap tanpa berpikir dahulu.
Malam pertama ? Ya kita belum melakukan itu.
Mendengar kata malam pertama, sontak membuat wajah jingga memerah karena malu.
" Dasar mesum." Ucap Jingga malu.
" Kok mesum, kita suami istri, apa kamu nggak merasa neh, kita sudah 3 bulan menikah, tapi belum melakukan itu."
Jingga sudah tidak bisa menahan malunya, gadis itu berjalan meninggalkan Lucas sendiri.
Malam pertama ? Apa aku sudah siap untuk melakukan itu. Tidak , aku belum siap untuk itu.
Jingga semakin mempercepat langkah kakinya, dan Lucas mengikuti Jingga menyamakan langkah Jingga yang semakin dipercepat.
" Tunggu, kenapa kamu malah pergi, aku belum selesai ngomong." Ucap Lucas sedikit keras. Pria itu sadar Jingga pasti malu jika membahas soal itu.
__ADS_1
Pria itu hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang malu.