CEO Dingin Yang Bucin

CEO Dingin Yang Bucin
perang 2


__ADS_3

" Berhenti."


Lucas menoleh saat Jingga kembali bicara. Laki-laki itu langsung menyentuh tangannya.


" Aku bilang berhenti, aku belum selesai bicara, ****** !"


Jingga langsung menyentak tangan Lucas, dan memutat tubuhnya menyusul Tsania. Dan baru saja Tsania akan meraih kenop pintu, tangan Jingga sudah lebih dulu meraih rambut Tsania dan menjambaknya.


" Ka-Kamu !" Tsania tergagap akibat jambakan Keras Jingga di rambutnya.


" Dengar ! Suamiku nggak bakal mempan dengan rayuan busukmu ! Percuma saja, kamu ngemis-ngemis cintanya, karena dia tidak akan berpaling padaku, ingat itu !"


" Jingga !" Teriakan Lucas menggema. Lelaki itu mencoba menarik tangan Jingga yang masih menjabak kuat rambut Tsania. Lucas bahkan bisa melihat mata Tsania mulai berkaca-kaca. Dan setelah tarik menarik, Jingga akhirnya mau melepaskan jambakannya.


Membuat Tsania langusng terhuyung bersandar pada pintu, dengan raut pucat pasi akibat syok.


" Sekali lagi aku ingatkan, jangan dekati Lucas, mau lo nanggis, jungkir balik bahkan telanjang sekalipun, dia tidak akan mempan."


Jingga kembali melangkah mendekati Tsania yang sudah pucat pasi. Melihat itu kembali membuat Lucas menyentuh tangan Jingga, namun perempuan itu langsung menepis kembali tangan Lucas, sorot matanya terlihat penuh amarah.


Jingga mencoba meyakinkan Lucas, jika ia tidak akan menjambak Tsania lagi.


Dan melihat Lucas yang sudah tidak lagi mencoba mendekat, Jingga menatap tajam, hingga wajahnya sejajar dengan Tsania.


" Dan lagi, kamu bilang paling mengenal Lucas, apa kamu tahu aku yang paling tahu cara menyenangkan dan memuaskan dia." Ucap Jingga, senyum sinis tercipta dari sudut bibirnya.


Jingga mengakui terkadang dirinya suka kelewatan batas jika dilanda emosi. Seperti saat ini misalnya, niat ingin menemui Lucas dan makan siang bersama, malah mendapati telinganya panas, mendengar perempuan yang terang-terangan menjelek-jelekkannya dan dengan tidak tahu malu menyatakan cinta pada suaminya.


Terang saja, emosi langsung meledak, rasa senang akan bertemu suaminya sektika tumpah ruah bagaikan air bah saat si perempuan bernama Tsania itu tampak tidak takut-takutnya sudah ia pergoki. Yang ada perempuan itu malah seakan-akan menantangnya balik..Terus terang, Jingga sedikit menyesal tidak menjabak rambut wanita ular itu sejak awal.

__ADS_1


" Kamu dengar, sekali ini baru rambutmu yang aku buat rontok, kalau kamu berulah lagi, lihat aja anggota tubuhmu yang lain mana lagi yang akan aku rontokkan."


" Jingga, sudah." Tegur Lucas, masih mencoba sabar, setidaknya harus ada yabg masih waras diruangan ini. Lelaki itu menarik tangan Jingga, namun lagi-lagi Jingga mengelak.


" Lepas, Lucas ! Perempuan ini nggak bisa dibiarkan, aku belum puas !"


" Puas apa ? Kamu mau berantem lagi ?!"


" Aku nggak akan berantem kalau betina ini nggak keterlaluan !"


" Terus sampai kapan kamu akan puas ? Sampai dia pingsan? atau sampai dia mati, kamu berhenti ? Kamu nggak berhenti kalau nggak di hentikan, perhatikan situasi dan kondisi juga."


Suara Lucas kala itu berhasil menyentak Jingga, Entah kenapa rasaya sakit sekali mendengar Lucas balik menyalahkannya.Jingga melirik Tsania singkat, perempuan itu tampak tersenyum tipis mendengar pertengkaran meraka, pasti dia merasa Lucas sedang membelanya.


" Jadi maksud kamu aku nggak bisa ngelihat sikon ? Sedangkan ular ini boleh-boleh aja goda suami orang ?"


" Bukan begitu, mending ayo kita keluar, kamu kesini mau makan siang kan ?"


" Jingga, kamu udah terlalu emosi."


" Ya jelas aku emosi, ada perempuan nggak tahu malu yang kepengin gantiin posisiku sebagi istri dengan cara yang nggak berkelas."


" Ayo kita keluar."


Tangan Lucas menarik Jingga, namun dengan cepat perempuan itu menepisnya.


" Nggak perlu repot-repot, urusin saja teman lamamu ini, selera makanku udah ilang. Bye ."


Dan kalimat itu menjadi kalimat terakhir yang Jingga ucapakan sebelum menghilang dari balik pintu. Lucas menarik nafas dalam-dalam dan langsung berniat mengejar Jingga, namun suara Tsania berhasil menahannya.

__ADS_1


" Lucas, terima kasih."


Lucas menoleh kearah Tsania, Tatapannya tertuju lurus-lurus pada pada perempuan itu.


" Aku nggak tahu apa yang bakal terjadi, jika kamu nggak menahan Jingga, aku--- "


" Terima kasih ? Kamu bodoh atau apa ?"


Tsania tersentak mendengar ucapan Lucas.


" Kamu pikir aku marah-marah sambil nahan istriku tadi karena membela kamu ? Aku cuma nggak mau Jingga membuang tenaganya ngeladenin kamu."


Tsania menatap Lucas , terkejut mendengar kalimat sinis dan menusuk yang keluar dari mulut lelaki itu, Lucas yang dulu ia kenal tidak akan menghinanya.


Apakah ini sosok Lucas, yang sebenarnya atau selama ini Tsania belum benar-benar mengenal Lucas.


" Lucas, Aku...."


" Dengar, aku nggak mempermasalahkan perasaan kamu, dan tentang dulu, aku memang pernah menyukaimu, tapi itu dulu, bahkan aku saja lupa, jika kamu tidak mengingatkanku. Tapi melihat kamu yang berkali-kali merasa lebih baik dari istriku, membuat ku tiba-tiba sadar, Jingga sangat berarti di hidupku, sampai-sampai teman sepertimu tidak bisa menggantikannya.Kamu nggak usah repot-repot membuka suara hanya untuk membahas layak tau tidaknya dia menjadi istriku."


Lucas melangkah menuju kenop pintu dan meraihnya, namun sebelum ia benar-benar keluar, Lucas kembali melirik Tsania sebentar.


" Melihat kejadian hari ini, aku berharap kita tidak perlu bertemu lagi !"


Dan setelah mengatakan itu, Lucas benar-benar menghilang meninggalkan Tsania yang syok setengah mati mendengar ucapannya.


Tsania benar-benar tidak menyangka, Lucas akan berkata demikian, tanpa ia sadari air mata membasahi pipinya.


Untuk sesaat dia mengingat Hiro, terlintas penyesalan, kenapa Hiro meninggalkannya. Kini ia sadar hanya pria itu yang mencintainya, tapi sayangya sosok pria itu sudah meninggalkannya selamanya.

__ADS_1


Rasanya sudah tidak ada lagi orang yang peduli padanya.


__ADS_2