
" Sekarang tidurlah, ada pekerjaan yang harus segera aku selesaikan." Perintah Lucas, di kecup kening itu dengan lembut, dan tak lupa di belai rambut istrinya itu.
" Kenapa kamu harus membawa pekerjaan ke rumah ?" Tanya Jingga dengan manjanya.
" Aku harus mencari uang, untuk menghidupimu, dan juga membelikanmu tas-tas lagi." Goda Lucas.
Jingga mencubit pelan perut suaminya itu, entah kenapa bukannya marah seperti tadi, mendengar itu Jingga merasa bahagia, dan sangat bersyukur. Mungkin saat ini dia wanita paling bahagia dan beruntung di dunia ini, memiliki suami seperti Lucas, sungguh hal terindah yang pernah ia miliki.
Lucas melepas pelukan dan bergegas menuju ruang kerjanya.
Dan Jingga kembali menatap nanar tas-tas yang berada diatas meja sambil menghela nafas panjang. Mungkin di lain kesempatan ia akan berusaha menolak untuk berbelanja barang-barang mewah seperti ini lagi.
Setelah sibuk dengan perasaan campur aduknya, Jingga bergegas mandi, belanja dan marah cukup menguras energinya. Dia juga butuh air untuk mendinginkan kepalanya.
Dua puluh menit berlalu, Jingga keluar dari kamar mandi, hanya menggunakan handuk yang melilit sebagian tubuhnya, rambut basahnya masih tergerai.
Wanita itu berdiri di depan lemari, memilih baju tidur yang akan dia kenakan.
Matanya langsung tertuju pada lingeria merah yang dulu ia beli bersama Riva. Ya sahabatnya itu cukup random dengan segala pikirannya, memaksanya membeli pakaian yang tidak mungkin dia pakai, tapi ingat, bukan Riva namanya kalau dia tidak memaksa, dan sudah jelas dan terpampang nyata, kini lingeria merah sudah di depan mata Jingga, mengantung di dalam lemari.
Jingga cukup lama memandang lingeria merah itu, hingga senyum nakal tiba-tiba tercipta dari sudut bibirnya.
Jingga membuka pintu ruang kerja Lucas, dan mendapati suaminya itu sedang sibuk dengan laptop di depannya.
Jingga ikut bergabung dan mengintip apa yang sedang di lakukan suaminya itu, dirinya memang tidak terlalu mengerti dengan pekerjaan suaminya itu, melihat banyak berkas yang berserakan di atas meja sudah membuat alisnya menarik keatas.
Bagaimana tidak, wanita itu cukup heran, kenapa Lucas diam saja, apa dia tidak melihat bagaimana penampilannya saat ini.
Linggeria merah sudah melekat di tubuh indahnya.
"Sayang." Ucap Jingga pelan.
" Hmm."
Hmmm ? Hello ? Sadar yuk, kamu nggak mau lihat aku sekarang ?
Jingga merasa kesal sendiri, mendapati sikap Lucas. Apa begitu penting pekerjaannya hingga ia tidak menyadari bagaimana istrinya sekarang ini ?
__ADS_1
Tapi selayaknya tidak mau di ganggu, Lucas malah asyik dengan laptop di depannya tanpa sedikitpun melirik apalagi menoleh kepadanya. Merasa kesal di abaikan Jingga melingkarkan kedua tangannya dari belakang, yang terhalang kursi yang di duduki suaminya itu.
Jingga menciumi garis rahang suaminya itu, dengan bertubi-tubi.
" Sayang, aku lagi sibuk, kamu tidur dulu, bentar lagi aku nyusul ." Suruh Lucas. Tapi Jingga seolah tidak peduli, wanita itu terus-terus mencium wajah Lucas. Menyadari sikap Lucas, Jingga tersenyum di sela-sela ciumannya.
" Aku cuma mau bilang makasih, untuk tasnya." Bisik Jingga pelan. Yang kala itu tidak hanya bermain dengan bibirnya, namun juga tangannya mulai memainkan jemarinya di dada lelaki itu. Bermain nakal di balik kaos yang dipakai suaminya itu.
" Aku mau berterima kasih, boleh ?"
" Terima kasih ap....?"
Belum selesai Lucas menyelesaikan ucapannya ia begitu kaget saat dengan cepat pula Jingga memutar kursi yang diduduki Lucas, menghadap padanya.
Kini dengan jelas Lucas tersadar.
" Wow... ." Ucap Lucas kagum, sontak matanya tidak berhenti melihat sosok tubuh wanita yang memakai linggeria di depannya saat ini, dua gunung kembar tepat didepan matanya.
" Gimana bagus nggak ?" Tanya Jingga dengan polosnya.
" Banget." Jawab Lucas sambil menelan air liurnya.
" Hmmm, udah lama."
" Kenapa nggak pernah di pakai ?"
" Malu aja."
" Kenapa malu, setiap inci tubuhmu sudah aku jelajahi." Ucap Lucas, di tarik istrinya itu hingga terjatuh tepat di pangkuannya.
Wajah Jingga sontak memerah karena malu mendengar ucapan Lucas.
" Kurang dikit lagi, bentar lagi selesai, kamu ke kamar gih, bentar lagi aku nyusul ." Ucap Lucas.
Ha ? Dia lagi nggak bercanda kan ? Dia menyuruhku pergi, setelah melihat aku memakai linggeria yang sangat sexy ini ? Apa dia tidak nafsu lagi padaku ?
Jingga diam, seakan dia percaya. Jingga berdiri, dan melihat Lucas kembali fokus pada laptopnya.
__ADS_1
Tidak, ini tidak bisa di biarkan.
Jingga menutup pelan laptop dan menyingkirkan benda itu di atas meja. Lucas hanya bisa mengerjap saat Jingga tiba-tiba beranjak dan berpindah dan berjongkok. membuka kacing celana dan membuka resleting celananya.
"Sayang..."
" Diamlah dan nikamatilah, aku ingin mau berterima kasih padamu." Ucap Jingga dingin.
Lucas merasa heran dengan nada bicara istrinya itu.
apa dia marah ?
Lucas menahan napas saat sesuatu yang hangat dan basah itu ia rasakan di bawah sana. Lucas mengerjap menatap langit-langit ruangan itu. Mereka memang sudah sering melakukan sesuatu yang lebih dari pada ini, tapi tetap saja jika tiba-tiba seperti ini, Lucas jiga bisa dibuat jantungan karenanya.
" Sayang ?"
" Hmm.'
" Aku beliin kamu tas, nggak berharap imbalan."
" Bukan hanya kamu yang saja ingin membuatku bahagia, aku juga ingin membuat bahagia."
" Iya, tapi... nggak perlu....."
Lucas tidak sanggup meneruskan setiap kata lagi, ia mengerang saat gerakan Jingga semakin membuatnya gila, frustasi. Di sentuhnya kepala Jingga dan didoronhnya kepala perempuan itu untuk mempeecepat gerakannya, hingga sampai kepuasan itu Lucas dapatkan, Lucas bisa merasakan tubuhnya melemas.
Selesai dengan bl****b yang di lakukan Jingga, Lucas langsung menarik sang istri untuk ia cium bibirnya. Dengan tangan yang berganti bekerja melucuti kain minim yang melekat di tubuh Jingga.
Ponsel Lucas yang berada di meja tiba-tiba berbunyi, penasaran, Jingga segera meraih benda itu, namun sedikit lagi tangannya menyentuh ponsel itu, tangan Lucas sudah terlebih dahulu menyingkirkan ponsel itu semakin menjauh dari radius jangkuan Jingga.
" Nanti saja, aku udah nggak tahan." Bisik Lucas dan langsung me****t bibir Jingga.
" Jadi bagaimana?"
" Apanya ?"
" Masih mau menyuruhku ke kamar dan tidur ?"
__ADS_1
Lucas tersenyum mendengar ucapan istrinya, seakan dia tahu, tadi Jingga kesal padanya, saat menyuruhnya ke kamar terlebih dahulu.
" Tidur ? Jangan berpikir untuk itu, karena malam ini aku tidak akan membiarkanmu tidur." Bisik Lucas di telinga istrinya itu.