
Seharusnya Jingga sudah tahu dengan mengizinkan Licas masuk ke dalam apartemennya sama saja dengan menyerahkan diri pada laki-laki itu secara cuma-cuma.
Bahkan ucapa Lucas barusan Jingga tepikan begitu saja. Apa yang dikatakan laki-laki itu benar adanya jikalau gejolak seksualnya di antara mereka luar biasa menguar di ruangan ini. Bahkan dengan kedekatan biasa saja Jingga harus waspada. Memang benar kelemahannya adalah Lucas. Hanya dia yang bisa memporandakan pikirannya. Apalagi ketika tatapan laki-laki itu yang menghujamnya seperti ini.
Tubuh Jingga serasa terbakar karena sesuatu yang masih ingin Jingga akui. Pesona laki-laki ini bener-bener berbahaya, dan Jingga pun mulai mengerti, salah satu faktor yang membuatnya terjerat tiga tahun silam adalah karena hal sama seperti yang menjeratnya saat ini.
Jingga mengeleng keras. Cukup dua kali ia lepas kendali selayaknya wanita barbar seperti saat di restoran dan kantor Lucas Melakukan kesalahan untuk ketiga kali nya terdengar bulshit, tapi Jingga ingin bertahan, Jingga tidak boleh goyah sedikitpun. Tapi dua mata saling menatap dalam diam, saling menenggelamkan diri dalam pesona masing-masing sungguh sangat berbahaya.
Hanya harus segera bangun dari ilusi ini.
" A-aku anggap nggak pernah dengar omongan kamu yang barusana ." Ucap Jingga cepat.
Sembati mengumpulkan sisa-sisa tenaga pada kakinya yang mendadak seperti jelly. Jingga mencoba bergerak dan menyingkir dari kungkungan Lucas. Tangannya yang sejak tadi dibiarkan tak bergerak, lambat laun terangkat untuk mendorong jauh tubuh itu darinya. Namun, seolah gemar melakukan kesalahan. Jingga malah tersandung. dan berakhir dengan dirinya yang semakin memeluk Lucas. Mulut Jingga menganga, apalagi saat menyadari jaraknya dengan dada Laki-laki itu semakin menipis.
...Mampus kau Jingga !!...
Saat aroma mint yang bercampur cat kayu itu menguar ke dalam penciumannya, Pipi Jingga memanas seketika. Terlalu lama berkutat dengan beberapa furnitir membuat Lucas beraroma sama dengan benda-benda itu. Tapi yang membuat Jingga mengerang tak tahan, aroma laki-laki itu sungguh membuat paru-parunya sesak. Jingga semakin ingin menghirup aroma itu sebanyak mungkin, No. Nggak cuma menghirup. Dia ingin menciumnya. Mencium kulit yang menghasilkan aroma memabukkan itu.
" Kamu menginginkan ku, benar ?"
Suara Lucas kembali mengalun, terdengar sangat indah di telinga Jingga. Jingga sejak tadi sudah sepertu ikan kehabisan napas di daratan sontak mendongak. Kesalahan untuk yang sekesian kalinya. Tatapan mereka terkunci. Bibir mereka hampir bertemu. Cengkraman Jingga pada bahi Lucas pun semakin mengerat ketika merasakan kedekatan di antara mereka.
Jingga merasakan lengan laki-laki itu perlahan memeluk pinggangnya dan semakin merapat tubuh mereka. Tatapan Jingga semakin berkabut saat tubuh mereka sudah benar-benar menempel tak berjarak. Terlebih saat dada mereka saling bersentuhan. Sekujur tubuh Jingga seketika meremang dan memanas tanpa alasan. Gejolak tidak tahu malu itu tiba-tiba datang.
" Kiss me." Bisik Lucas tepat didepan bibir Jingga.
Meski tidaj seperti Jingga yang terlihat seperti ikan kehabisan napas, Jingga masih bisa melihat mata Lucas ikut berkabut. Suara laki-laki itu tersengar serak saat mengucapkan. " Kiss me, Aku mengingkanmu lebih."
Seperti terserang amnesia mendadaj, seakan lupa dengan keputusannya yang tidak ingin gentar, bersamaan dengan kalimatbLucas berakhir. Entah siapa yang memulai, dalam satu dorongan pelan, bibir mereka bertemu. Lucas mengerang, dia benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi. Terlebih ketika panas napas mereka sudah saling berbagi melalui pangutan demi pangutan.
Dalam hitungan detik, Lucas mendorong tubuh Jingga membentur dinding dan semakin merapatkan tubuh mereka . Bak kucing di musim kawin. Lucas kesulitan menahan gairahny yang berkobar . Dibpangutnya bibir semakin semanis cerry milik Jingga dengan menggebu-gebu. Jingga pun sama, alhasil keduanya sudah saling membelit satu sama lain. Ciuman panas tak terelakkan dari kedua anak manusia yang dikuasai nafsu.
__ADS_1
Berkali-ki wajah mereja menjauh untuk menghirup oksigen berkali-kali pula keduanya kembali mengecap satu sama lain. ******* Jingga terdengar saat dirasakan lidah Lucas mencoba menerobos masuk. Tubuhnya meremang, terlebih keyika Lucas membelai tengkuknya. Ketika jambakan lumayan kasar dari Jingga. Tiba-tiba Lucas rasakan pada rambutnya, saat itu Lucas mengurai bibit mereka untuk beberapa saat.
" Hanya ciuman !"
Mendengar bentakan Jingga, Lucas melempar senyum nakal pada perempuan itu. Terdengar siulan panjang dari Lucas dan tanpa membuang waktu, laki-laki itubkembaki mencumbu bibir seksi Jingga yang membuatnya gila.
Ini dia ! Ini dia Jingga yang nakal. Lucas bahkan nggak menyangka jika setelah ciuman mereka di restoran dan di kantor, dia baru akan menemukan Jingga-nya yang liar pada percobaan ketiga. Itu kenapa ia sangat percaya diri waktu memancing Jingga. Perempuan itu terlalu mudah di baca.
" Bisa pindah ? Kamu tahu kan , berciuman sambil berdiri bukan favoritku ?" Bisik Lucas .
Seakan nggak menyianyiakan waktu. melihat belum ada tanda-tanda Jinga akan berbicara, Lucas kembali meraup bibir itu sama beringasnya seperti saat pertama kali.
Ketika di rasakan tangan Jingga yang semakin memeluk lehernya erat, bermain dengan insting liarnya, Lucas menempatkan kedua tangannya tepat di bokong perempuan itu dan kemudian mengangkat tubuh itu dalam sekali sentakan. Senyum Lucas bertambah berkali-kali lipat saat kaki Jingga sudah melingkari pinggangnya..
" Sofa kamu kuat kan ?" Tanya Lucas jahil.
Tidak ada jawaban, Lucas kembali melanjutkan aktivitasnya. Lenguhan dan erangan keduanya ikut mendominasi ruangan itu. Jingga tidak tahu permainan seperti apa lagi yang sedang di lakukan Lucas dan dirinya. Tapu yang jelas saat ini, yang Jingga inginkan hanyalah laki-laki itu seorang.
" Aku tahu, mungkin ini terdengar gombal. Tapi aku benar-benar suka aroma kamu, membuatku ingin selalu menciumnya." Ucap Lucas disela ciumannya.
Lucas mendekatkan wajahnya menuju leher Jingga dan kembali menghirup aromanya. Lucas mulai merasakan pandangannya kembali berkabut akibat gairah yang meluap. Dengan tenanganya, Lucas membawa telapak tangannya ke bagian bra Jingga mencari kaitan untuk segera di lepas.
"STOP !"
Sesaat tangannya yang baru saja menemukan kaitan itu, suara Jingga yang menyuruhnya untuk berhenti tiba-tiba terdengar. Masih dengan tatapn tidak mengerti, Lucas menatap Jingga yang tiba-tiba bangkit dari tubuhnya dan memilih duduk sedikit berjarak dengannya. Awalnya Lucas di serang kecewa luar biasa saat perempuan itu tiba-tiba bergerak menjuah.
Tapi melihat wajah Jingga yang sudah seperti kepiting rebus , merah. Senyum Lucas terbit, Tidak kah Jingga-nya terlihat sangat mengemaskan.
" Lebih baik kamu sekarang pulang ke unit kamu ."
" Kenapa begitu ?"
__ADS_1
Menghindari pertanyaan menyebalkan Lucas, Jingga yang tadinya ingin menghindari kontak mata dengan laki-laki itu terpaksa menoleh.
" Dengar Lucas, kayaknya aku lagi pusing atau banyak pikiran. Jadi yabg barusan semacam di luar kendali, jadi... aku harap kamu...."
" Lupain apa yang barusan terjadi ?"
" Yap, aku harap kamu nger..."
" Enak aja. Ya. Nggak bisa, lah !"
Jingga melotot, terutama pada apa yang di ucapkan Lucas selanjutnya.
" Setelah kamu ngrepe-ngrepe aku ? Big No !"
" Kapan aku ngrepe-ngrepe ?!" Tanya Jingga cepat.
" Oh lupa ? Yang tadi kamu pegang dada, perut terus kebawah.... siapa coba ? Aku sendiri ?"
" Dengar, Lucas..."
" Bahkan nggak cuma perut deh, aku juga ngerasa ada yang ngelus...." Lucas sengaja menggantunh ucapannya dan malah melanjutkab dengan cara menunjuknya dengan cara menunjuk ke arah sesuatu yang sangat sakral itu. Lalu menatap Jingga dengan tatapan menggoda.
" Tangan kamu udah bergerilya kemana-mana, kamu tega ya ?"
Mulut Jingga mengangga.
" Kapan aku pegang.... Aku nggak pegang ya !"
" Pegang ? Padahal aku tadi bilangnya ngelus, loh. Ternyata kamu pegang ya ? Astaga ."
Apa-apa an ini ! Kenapa aku jadi di fitnah seperti ini ! Kenapa aku terlihat seperti tersangka !!!!!
__ADS_1