
BRAKkk
Jingga masih tertidur pulas, hingga suara gebrak meja membuatnya terbangun kerena begitu kagetnya dia.
Sosok Lucas berdiri membelakanginya, berdiri tidak jauh dari ranjang, meja kaca dekat sofa sudah hancur berkeping-keping di lantai, dia begitu kaget, sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa meja kaca itu bisa pecah ?
Dan Lucas masih berdiri mematung, Jingga tidak bisa melihat wajah Lucas, tapi dari belakang dia bisa melihat Lucas sedang mengatur nafasnya, kedua tangannya mengepal dan mata Jingga langsung terbelalak ,saat di salah satu cengkraman itu terdapat kertas yang sudah diremas Lucas.
Itu kertas penerimaan beasiswa !
Jingga sontak beranjak bangun, melangkah cepat ke arah Lucas.
Di lihatnya Lucas, raut wajahnya sudah menunjukkan rasa marah yang amat besar, sorot matanya dingin.
" Sekarang jelasin semua ke aku ?" Tanya Lucas dingin.
Tubuh Jingga seakan gemetar, Lucas saat ini begitu menakutkan.
" Sayang, please dengerin aku dulu." Jingga meraih tangan Lucas, tapi dengan cepat Lucas menepisnya dengan kuat.
Jingga merasakan kesakitan untuk itu.
" Kamu mau pergi ? Ninggalin aku ?"
Jingga masih diam, dia tidak tahu harus berkata apa ? Dan lagi kenapa dia bisa begitu ceroboh, meletakkan kertas itu di meja. saat dia sendiri belum siap untuk menunjukkan apalagi mengatakan niatnya.
" Jingga ! Jawab !" Teriak Lucas dengan kerasnya, sekan suaranya begitu menggema di telinganya.
" Sebegitunya kamu mau pergi dari aku ? Iya ?"
Lucas berjalan menuju meja di dekat jendela, yang diatasnya terdapat foto dirinya dan Jingga saat pernikahan mereka, dalam hitungan detik semua hancur, karena dengan keras Lucas meleparnya.
Jingga begitu ketakutan, dan ia masih tidak bergeming, mulutnya masih diam, tak mampu berucap, dia tidak tahu harus berkata apa.
__ADS_1
" Kami nggak punya mulut ? Jingga jawab ?"
Amarah Lucas sudah tidak bisa dibendung, di remasnya rambut dengan keras, untuk melampiaskan kekesalannya.
" Kamu berniat menyembunyikan ini ? Pergi diam-diam, ninggalin aku ? Apa aku pernah menuntutmu ? Bahkan soal anak saja aku mengalah ? Dan sekarang kamu berniat pergi ?"
Air mata Jingga turun membasahi pipinya, mulutnya seakan kaku, tak mampu berucap, semua ucapan Lucas , itu benar adanya ? Dia yang egois, dia yang salah.
" Baik, kalau kamu mau pergi, sekarang kamu pergi, kejar cita-cita kamu itu, toh aku nggak ada di plening masa depan kamu ! " Lucas berteriak penuh amarah. wajahnya memerah menahan emosinya.
Lucas menunjuk kearah pintu, sekan mempersilahkan Jingga untuk keluar.
Tapi Jingga masih tidak bergeming, dia masih menangis dalam diam, menundukkan kepalanya karena menatap mata Lucas saja dia tidak mampu.
" Baik kalau kamu nggak mau pergi, ok aku yang pergi !"
Jingga tidak mau pergi, Jingga memberanikan diri untuk bergerak maju, di sentuhnya lengan pria itu dan menariknyan pelan agar berhadapan dengannya, awalnya Lucas menolak untuk berhadapan, dan menatap Jingga, tapi Jingga berusaha dengan lembut, dan akhirnya berhasil, dua mata saling tatap dalam diam, cukup dalam hingga keduanya tak mampu berucap, dan untuk pertama kalinya Jingga melihat Lucas mengeluarkan air matanya, menangis tanpa suara, dan pria itu menangis sambil terus menatap istrinya, dan sama halnya, Jingga juga masih menanggis tanpa suara.
Jingga mengusap air mata suaminya itu perlahan, entah harus bagaimana dia menjelaskan, entah harus apa agar Lucas mengerti, dia tidak tahu. Saat ini entah apa yang dia pikirkan tiba-tiba dia mencium Lucas, ciuman tanpa balasan dari Lucas. Dan Jingga tidak peduli itu.pria itu seakan membiarkan Jingga menciumannya, bukan ciuman panas penuh nafsu, lebih ke ciuman rasa bersalah Mungkin ini cara yang Jingga bisa lakukan untuk membuat Lucas dan dirinya bisa berpikir tenang.
Tapi mereka berdua masih diam, tidak ada yang berucap.
Hingga Lucas mencoba mendorong Jingga pelan, tapi sekuat tenaga Jingga mencoba menahannya. Dan langsung menciumnya kembali. Dan lagi itu bukan ciuman panas. karena Lucas masih diam tanpa pergerakan.
Lucas mulai menyerah, tangannya mulai melemas, tapi Jingga masih diam dalam posisinya, jarak antara bibir mereka hanya beberapa cm saja. Sungguh eroni, karena biasanya Lucas akan langsung melahapnya tapi saat ini seperti tak berselera.
" Maaf." Ucap Jingga pelan, ia mundur perlahan, mungkin hanya satu langkah, dan tangannya masih memegang lengan suaminya. kepala menunduk, tak mampu menatap lagi.
" Aku bener-bener minta maaf, kamu boleh benci padaku, aku tahu aku egois."
Mendengar itu Lucas hanya bisa tersenyum sinis.
Ternyata dia benar-benar mau pergi ?
__ADS_1
" Aku tidak tahu harus bagaimana, aku nggak mau ninggalin kamu , aku benar-benar nggak mau jauh dari kamu, aku mohon jangan suruh aku pergi." Air mata Jingga mengalir lebih deras, suara tangisannya mulai terdengar.
Lucas yang mendengar itu langsung menarik dan memeluk erat istrinya itu, sangat erat, seakan dia tidak akan membiarkan Jingga pergi darinya.
" Aku minta maaf, benar-benar minta maaf, sudah membuatmu takut." Ucap Lucas khawatir. Ia masih memeluk istrinya itu. Tangis Jingga pecah sejadi-jadinya.
Lucas mencoba menenangkanya,membela lembut rambut istrinya itu.
" Udah sayang, jangan nangis lagi, aku janji nggak bakal bentak kamu lagi, nggak bakal teriak-teriak, nggak bakal marah lagi." Lucas merasa bersalah, dia begitu menyesali perbuatanya, seharusnya dia menanyakan dan berbicara baik-baik pada istrinya itu.
Mendengar itu tangis Jingga semakin keras, Lucas semakin bingung.
" Sayang diem dong, nanti di kira aku ngapa-ngapain kamu ." Ucap Lucas memohon.
" Kamu kira, tadi kamu teriak-teriak orang di luar nggak bakal denger !" Ucap Jingga tidak jelas, karena dia bicara sambil menanggis.
Lucas melepas pelukannya , ditatapnya istrinya itu, di usapnya air mata istrinya itu.
" Udah ya, jangan nangis lagi."
Jingga mengangguk.
" Kamu nggak bakal pergi kan ?" Tanya Lucas memastikan.
Tapi Jingga diam, tidak menjawab.
" Sayang, ayo jawab, kamu nggak bakal pergikan ?" Tanya Lucas sekali lagi, pria itu masih takut Jingga pergi meninggalkannya.
" Bukannya kamu tadi nyuruh aku pergi ?"
" Tadi cuma emosi, pokoknya kamu nggak boleh pergi !"
" Kalau kamu teriak-teriak dan bentak aku lagi, aku bakal pergi." Ancam Jingga, tadi ia begitu ketakutan.
__ADS_1
" Iya aku janji, tapi kamu juga janji nggak bakal pergi ninggalin aku." Ucap Lucas menegaskan.