CEO Dingin Yang Bucin

CEO Dingin Yang Bucin
Liburan


__ADS_3

" Kamu udah ijin suamimu ?" Tanya Riva.


" Belum, aku nggak tahu bakal di ijinin atau nggak ."


" Ayolah, kita udah lama merencanakan ini."


" Iya aku tahu, tapi aku sekarang sudah bersuami, aku harua minta ijin kalau kemana-mana."


" Aduh sholehah banget lo, pokoknya nggak mau tau kita harus pergi ke Bali . Titik, lo lupa kita udah nabung bersama buat liburan dari bali sejak semester pertama."


" Iya- iya gue tahu, nggak usah di ingetin lagi, malah buat gue jadi pusing gimana minta ijinnya."


" Ajak aja suami mu.... Eh tunggu nanti aku disana cuma jadi debu pantai yang miris dan iri ngelihat kemesraan kalian berdua.


" Hahaha, ya nggak lah."


" Emm...... Suruh dia ajak asistennya itu."


" Asisten ? Siapa ? Jimmy ?"


" Iya, suruh ajak dia gak papa, lumayan buat cuci mata, sekalian nememaniku jadi debu pantai."


" Ok ok, nanti aku bakal ngomong ke Lucas dulu."


" Ok , aku tunggu kabar darimu." Ucap Jingga, lalu di tutupnya panggilan telfon itu.


Ya rencana liburan ke bali yang sudah lama mereka rencana harus bisa terlaksana, tapi Jingga merasa bingung sendiri, tidak tahu harus bagaimana minta ijin kepada Suaminya itu.


" Kamu belum tidur ?" Tanya Lucas yang tiba-tiba masuk, dan langsung duduk di sebelahnya duduk bersama di sofa.


" Belum." Jawab Jingga singkat.


" Ada apa ?" Tanya Lucas penasaran, karena melihat wajah istrinya yang aneh, seperti memendam sesuatu.


" Lucas."


" Ya."


" Ada yang mau aku omongin, tapi kamu jangan marah."


" Bilang aja, nggak apa-apa." Mata Lucas sibuk dengan ponsel di tangannya.


" Aku boleh liburan ke Bali sama Riva ?" Tanya Kingga hati-hati. Mendengar itu Lucas langsung meletakan ponselnya di meja dekat sofa.


Di tatapnya Jingga dengan tatapan yang dalam.


" Boleh ?" Tanya Jingga hati-hati.

__ADS_1


" Kapan ?"


" Lusa ."


" Berapa hari ?"


" 4 Hari."


" 4 hari ?"


Jingga mengangguk.


" 4 hari ?" Lucas bertanya sekali lagi.


Jingga tersenyum canggung.


" Bolehkan ?"


" Tunggu dulu, aku tanya Jimny dulu." Di ambilnya ponsel yang tadi di letakknya di meja, dan bergegas menelfon Jimmy.


" Kenapa tanya Jimmy, emang harus minta ijin ke dia juga ?"


" Iya, aku mau tanya jadwal pekerjaanku minggu ini."


" Kenapa malah tanya jadwal pekerjaan ?" Tanya Jingga dengan polosnya.


Jingga hanya bisa mengerinyitkan alisnya, saat melihat Lucas yang sedang telfon dengan Jimmy.


" Ok, boleh kamu tapi tidak bisa berangkat lusa."


" Kenapa ?"


" Karena aku ada rapat penting yang tidak bisa aku tinggal."


" Apa hubungannya ?"


" Ya ada, kamu berangkat sama aku. Lusa biar Riva berangkat sendiri, kita menyusul besoknya."


" Tapi.... Kita udah beli tiket untuk lusa." Protes Jingga.


" Aku ganti uangnya."


" Ini bukan masalah uang, tapi masalah persahabatanku."


" Jadi kamu lebih mentingin sahabat kamu, dari pada suami kamu ?" Tanya Lucas kesal.


" Bukan begitu, aku sama Riva udah rencanain liburan ini dari semester awal kita kuliah, kita nabung bareng-bareng buat liburan ini, kita rela kerja part time buat ngumpulin uang buat liburan ini."

__ADS_1


Lucas dian sejenak, mendengar penjelasan istrinya dia mulai mengerti, bukan saatnya dia egois seperti ini.


" Ok, tapi kamu nggak boleh kemana-mana, nunggu aku datang baru kamu boleh keluar, diam diri di hotel nggak usah macam-macam."


Mendengar itu Jingga langsung melongo, dia tidak percaya Lucas masih sama seenaknya sendiri.


^^^Terus ngapain seharian di hotel ngak kemana-mana ? ^^^


" Gimana, kalau nggak ya nunggu berangkat barenga aku."


" Iya iya setuju, aku nggak kemana-mana nunggu kamu." Ucap Jingga menyerah, baginya saat ini Lucas sudah mengijinkannya untuk pergi.


" Pintar, anak baik." Ucap Lucas dengan penuh kemenagan, di usapnya ujung kepala istrinya itu.


" Oh ya, kalau bisa ajak, Jimmy ya."


" Jimmy ? Kenapa ajak Jimmy ? Kamu naksir dia ?" Tanya Lucas marah.


" Jangan mikir aneh-aneh, aku nyuruh ajak dia, supaya bisa nemenin Riva, biar dia nggak jadi debu pantai sendirian."


" Debu pantai ?" Tanya Lucas tidak mengerti.


" Kayaknya Riva naksir Jimmy deh." Bisik Jingga, seolah itu ada sebuah rahasia.


" dia naksir Jimmy ?"


" Iya."


" Manusia dingin bisa ada yang naksir, wah luar biasa."


Manusia dingin ? Ini orang kenapa nggak nyadar ya, kamu lebih dingin dari dia, kamu itu dulu kanebo kering, kaku banget dan seenaknya sendiri.


" Kenapa ?" Tanya Lucas, saat merasa aneh dengan ekspresi wajah Jingga.


" Nggak apa-apa." Ucap Jingga mencoba mengelak.


" Ok, nanti aku ajak Jimmy."


" Jadi sah kamu ngijinin aku berangkat ke Bali kan ?" Tanya Jingga memastikan.


" Iya sayang." Mendengar itu Jingga langsung memeluk suaminya itu, gadis itu sangat senang Lucas mengijinkannya untuk pergi.


" Cuma peluk aja ?" Tanya Lucas, tangannya bermain di punggung istrinya itu.


Mendengar itu, Jingga sudah bisa menebak apa yang bakal terjadi, dan benar tanpa menunggu lama Lucas langsung mengedongnya ala bridal style menuju ranjang mereka.


Jingga mulai menyadari tidak ada yang gratis di dunia ini, dan ini berlaku jika dia lagi bernegosiasi dengan Lucas, karena setiap sesuatu yang membutuhkan ijin dari suaminya itu, bercinta adalah harga kesepakatannya.

__ADS_1


__ADS_2