CEO Dingin Yang Bucin

CEO Dingin Yang Bucin
Seasion 2. Part 17


__ADS_3

Bagi Lucas, mampir ke restoran Jingga sehabais pulang kerja sudah menjadi agenda rutinnya dalam beebrapa bulan belakang. Namun tidak untuk malam ini, dengan langkah lebar Lucas memasuki pelataran kelab malam di kota X. Tujuan awalnya masih tidak berubah, yakni untuk menemui Jingga dan segera membawa pergi dari tempat ini.


Rasa marah bergejolak di kepalanya. Pria itu tidak hentinya membuang napas kasar, sekesar untuk mengontrol emosinya.


" Revan sialan !" Umpat Lucas di sela-sela langkahnya.


Terkadang Lucas merasa ada untungnya juga mengajak Jingga pulang bersama setiap hari. Contohnya seperti hari ini, dia jadi tahu kalau malam ini Jingga tidak bisa pulang tepat waktu seperti biasa. Saat ia bertanya apa alasanya di telepon. Perempuan itu berkata jika ini masih berkaitan dengan kelanjutan kerja sama yang diajukan Revan kemarin. Singkatnya. Revam meminta Jingga untuk datang ke sini dengan alasan meeting bersama tim produksi.


Meeting ? Meeting sialan ! Mana ada metting di kelab malam ? Kayak nggak ada tempat yang lebih nyaman aja untuk dijadikan tempat meeting.


Masih dengan langkah lebar, mata Lucas mwngedar dengan teliti saat sudah berada di dalam kelab, terakhir di telepo, Jingga berkata jika tempat pertemuan berada di lantai dua. Karena itu, Lucas dengan cepat naik tangga. Namun baru lima langkah ia tiba di lantai dua. Seseorang menahan bahunya, Lucas menoleh, Revan ada disana.


" Kenapa ya, Kok saya merasa anda selalu mengikuti Jingga ?" Tanya Revan dengan nada mengejek.


Lucas melirik tangan Revan yang masih bertengger di bahunya, dengan cepat dia menyingkirkan tangan itu dari sana.


" Jingga di mana ?" Tanya Lucas dingin.


" Kalau saya kasih tahu di mana Jingga ? Anda mau ngapain ? Kalau lihat sifat Jingga, nggak mungkin banget Jingga menyuruh anda datang ke sini. Dengar, Kami mau meeting masalah pekerjaan yang nggak perlu anda tahu detailnya, jadi. Sekarang silahkan anda pulang ?"


Lucas tersenyum sinis mendengar ucapan Revan.


Laki-laki itu mencoba tenang, berusaha mengontro amarah yang siap meledak kapan saja.


" Meeting ? Di tempat seperti ini ?" Tanya Lucas.


" Kenapa ? Masalah, Jingga udah dewasa, nggak masalah dia ketempat seperti ini ? Lagian anda siapa, ngatur-ngatur Jingga harus kemana ?"


Lucas benar-benar sudah tidak bisa menahan lagi.


Bugh


Satu pukulan keras melayang tepat di ujung bibir Revan hingga membuatnya tersungkur. Lucas sudah tidak bisa menahan lagi, Revan sungguh membuatnya kesal. Terlalu banyak bicara omong kosong yang semakin membaut Lucas muak.


Dengan santai Lucas menghampiri Revan yang masih jatuh di lantai. Di cengkramnya kerah baju Revan dengan sangat kaut.

__ADS_1


" Aku suaminya." Ucap Revan dingin.


Mendengar ucapan Lucas, Revan malah tertawa.


Dengan sekuat tenaga pula ia, melepas cengkraman tangan Lucas, dan bernjak bangun.


" Jangan mimpi, Jingga belum menikah." Ucap Revan santai, sesekali ia memegangi ujung bibirnya yang sedikit berdarah karena pukulan Lucas.


" Kamu cepat pergi dari...."


Ucapan Revan berhenti saat matanya melihat gerombolan tim produksinya berbondong-bondong berjalan dari arah berlawanan.


Menyadari tingkah Revan yang aneh. Lucas ikut menoleh ke mana arah Revan menatap. Dia memang tidak kenal siapa saja yang berada di tim produksi itu. Tapi melihat segerombolan orang yang berjalan di sana. Lucas rasa sudah jelas jika mereka orangnya.


" Ari !"


Lucas menoleh saat Revan tiba memanggil seseorang yang berada dingerombolan itu, tidak lana kemudian seseorang laki-laki dengan perawakan kurus tinggi berjalan ke arah mereka.


" Iya mas ?"


"Kalian, mau kemana ?"


" Siapa yang nyuruh ?"


" Pak Irfan."


" Irfan itu siapa ?" Tanya Lucas ceapt dan ikut memotong.


" Sponsor yang lagi ulang tahu." Jawab Revan. Lucas manggut-manggut mendengarnya. Namun, seakan menyadari sesuatu, Lucas langsung menoleh pada Revan. Selayaknya pikiran mereka sejalan, bersamaan dengan Lucas yang menoleh menatapnya. Revan melempar pertanyaan pada laki-laki bernama Ari itu.


" Jingga di mana ?"


" Oh, pacarnya mas Revan ?"


Lucas mendelik pada Revan. Hoax seperti apa yang di sebarkan orang ini ? Pacar ? Wah mulai kurang ajar ini orang.

__ADS_1


" Iya, dimana dia ?"


" Saya kurang tahu, mas. Saya juga baru datang pas mereka udah keluar ruangan. Liv ! Livia ! kamu kesini deh, Mas Revan mau tanya ?"


Lucas menatap Laki-laki bernama Ari itu ikut memanggil satu orang lahi untuk mendekat, kali ini seorang perempuan berkacamata.


" Iya, mas." Perempuan itu langsung menghampiri Revan, raut wajahnya sudah terlihat gelisah.


" Jingga mana ?" Tanya Revan cepat yang entah kenapa semakin membuat perempuan berkaca mata itu semakin gelisah.


" Itu, Mas. Pak Irfan...itu..."


" Saya tanya Jingga, kenapa kamu bahas pak Irfan." Ucap Revan yang mulai tidak sabar.


" Pak Irfan bilang mau bicafa berdua sama mbak Jinggs, jadi kami dinsuruh pindah ruangan. Saya dari tadi coba nelpon mas Revan, tapi."


" Bangsat."


Lucas yang pertama mengumpat saat menyadari kejanggalan itu, tiba-tiba langsung pergi entah ke mana. Melihat Lucas yang berlari menuju utara, Revan ikut menyusul. Ia tahu laki-laki itu sedang emosi, tapi apa dia tahu ruangannya ? Alhasil Revan berlari mengejar Lucas dan sengaja berada di depan agar laki-laki itu bisa mengikutinya. Sesampainya di depan pintu, Revan segera mencoba membuka pintu yabg sayangnya terkunci.


" Ini ruangannya ?" Tanya Lucas panik.


" Iya ini."


" Kita dobrsk, kelamaan panggil pegawai buat di bawaiin kunci. Kalau Jingga kenapa-kenapa kamu orang yang pertama bakal aku matiin setelah si Irfan itu."


Lucas berjalan mundur menjauhi pintu. Setelah jaraknya sudah pas, laki-laki itu kembali bergerak maju dan mencoba mendobrak pintu dengan kakinya. Revan ikut mendobraj pintu seperti yang Lucas lakukan. Beberapa pengunjung yang lewat tampak memperhatikan keduanya dengan raut heran.


Setelah berkali-kali menendang pintu bergantian. Pintu pun akhirnya terbuka tepat setelah Lucas menendangnya. Sesaat pintu terbuka hal pertama yang Lucas lihat adalah Jingga yang sedang memberontak dengan seorang laki-laki yang berada di atasnya. Sialan !


" Apa yan sedang kamu lakukan , Bangsat !"


Lucas langsubg melangkah masuk, di taruknya laki-laki itu menjauh dari Jingga dan tanpa menunggu bogem Lucas sudah berlabuh denhan kerasnya di wajah laki-laki itu Hingga membuatnya membentur dinding.


Sementara itu Revan segera menghampiri Jingga yang tampak kesulitan berjalan. Saat tangannya sudah menyetuh kedua bahu Jingga. Aroma alkohol menyengat indra penciumannya. Sialan ! Sudah berapa banyak alkohol yang diberi keparat itu pada Jingga ? Pantas perempuan itu kesulitan melawan.

__ADS_1


" Kamu diapain sama dia ? Nggak diapa-apain kan ?" Tanya Revan pada Jingga yang tampak masih linglung dan terus memegangi kepalanya yang pusing.


" Kalian keburu datang, saat aku baru di dorong, syukurlah. Oh ya Revan, Tolong Lerai Lucas, aku takut dia bunuh orang."


__ADS_2