CEO Dingin Yang Bucin

CEO Dingin Yang Bucin
Maaf aku belum siap


__ADS_3

" Ayo kita lanjutkan."Ucap Lucas menggoda, wajahnya semakin mendekat, tapi sayang dengan sigap Jingga menahannya.


" Aku lapar." Ucap Jingga, tangannya sibuk memakai baju yang tadi sudah di lemparnya entah kemana. Dan Juga entah kapan gadis itu memakainya, Lucas tidak menyadari itu. Pria itu melihat ke arah Jingga, diliihatnya dari atas ke bawah. Seketika wajahnya berubah muram.


Sialan Jimmy.


" Baiklah ayo makan." Ucap Lucas kecewa, seraya berjalan menuju kearah lemari pakaiannya.


" Aku tunggu, di bawah." Ucap Jingga, seraya tersenyum jahil pada suaminya itu.


Jingga keluar dari kamar itu, berdiri sejenak di balik pintu, mencoba mengatur nafasnya, mengatur detak jantungnya yang berpacu sangat cepat, gadis itu tidak bisa menutupi kegugupannya. Hal yang baru saja dia alami membuatnya tidak bisa berpikir jernih, entah kenapa kedatangan Jimmy yang menganggu seakan menyelamatkannya. Gadis itu belum siap melakukan itu dengan Lucas, entah kenapa, pasti ada alasan disana.


" Apa nyonya lapar ?" Tanya Nisa, saat berpapasan dengan Jingga saat turun dari tangga.


" Iya,apakah masih ada makanan ?" Tanya Jingga.


" Masih nyonya, saya akan siapkan." Ucap Nisa.


" Sudah saya bilang, jangan panggil nyonya." Ucap Jingga mengingatkan.


" Maaf, tapi saya nggak berani, kalau ada tuan Lucas." ucap Nisa, menundukkan kepalanya seakan dia takut.


" Udah nggak apa-apa, jangan panggil Nyonya, kita udah sepakat kan, panggil aja mbak, kalau nanti Lucas marah, tenang saja ada saya, saya pawangnya." Ucap Jingga bangga. Mendengar itu Nisa tertawa kecil, benar sosok wanita yany berdiri di depannya itu bukan gadis sembarangam, hanya dia yang bisa menaklukan Lucas, pria dingin dan kejam.


" Baik mbak, mbak Jingga duduk saja, saya akan siapkan makanannya."


" Nggak, saya mau bantu kamu."

__ADS_1


" Jangan mbak." ucap Nisa sedikit memohon, kedua matanya seakan menyiratkan kata saya mohon jangan mbak.


" Nisa." Ucap Jingga dengan penekanan, sekaan ucapannya enggan untuk di bantah.


Nisa hanya bisa menuruti, tanpa membatah, di ikutinya Jingga yang berjalan di depannnya menuju dapur.


Mereka berdua sibuk menyiapkan makanan, hingga sesuatu membuat Nisa penasaran, kedua matanya menatap tajam pada sebuah tanda merah sangat jelas terdapat pada leher gadis yang berdiri disampingnya.


" Leher mbak Jingga itu kenapa ?" Tanya Nisa, dengan polosnya. Mendengar pertanyaan itu Jingga langsung menutupi tanda merah dilehernya itu, seketika wajahnya memerah karena malu.


Lucas, bisa-bisanya dia meninggalkan bekas di leher ku.


" Oh ini, digigit nyamuk ." Ucap Jingga beralasan.


" Nyamuk, Kok bisa to mbak, sampai kayak gitu." Ucap Nisa khawatir.


" Sudah, ayo siapkan saya keburu lapar." Jingga mencoba megalihkan pembicaraan, dia tidak mau semakin malu.


" Ayo makan." Ucap Jingga, seraya meletakkan sepiring nasi goreng di atas meja di depan Lucas.


" Nggak, aku nggak lapar." Ucap Lucas malas.


" Ya udah, kalau nggak mau makan, aku makan sendiri." Ucap Jingga seakan menggoda Lucas.


Melihat tingkah istrinya, Lucas semakin kesal, pria itu merajuk seperti anak kecil yang kesal karena tidak dibelikan mainan oleh ibunya. Mulutnya cemburut, entah sadar atau tidak pria itu bersikap sangat lucu dan manja.


Jingga tertawa melihat tingkah suaminya itu.

__ADS_1


" Kamu, kenapa ? " Tanya jingga pura-pura bodoh.


" Kamu masih tanya." Ucap Lucas kesal.


Jingga masih tertawa, gadis itu seakan tidak peduli kalau Lucas akan kesal. Baginya saat ini melihat tingkah Lucas membuatnya bahagia, gadis itu tidak menyangka Lucas menyimpan sikap manja seperti ini.


" Berhentilah tertawa dan cepat selesaikan makanmu, dan ayo kita lanjutkan yang tadi." Ucap Lucas kesal.


Mendengar kata melanjutkan sontak membuat Jingga kaget hingga tersedak, dan dengan sigap Lucas menyerahkan segelas air pada istrinya itu.


" Lanjutkan ?" Tanya Jingga ragu.


" Iya, kenapa kamu tidak mau ?"


" Bukan begitu, em.... aku..." Ucap Jingga terbat-bata, gadis itu tidak tahu harus berkata apa untuk mencari alasan untuk menolak.


" Kamu tidak mau." Ucap Lucas dingin, wajah manja dan manis seketika hilang berubah menjadi wajah dingin dan tatapan tajam.


Jingga hanya diam, gadis itu tidak bisa berkata apa-paa lagi, tatapan Lucas begitu mengintimidasi dirinya.


" Baiklah, kalau begitu aku tidur dulu." Ucap Lucas dingin, seraya pergi meninggalkan Jingga yang masih diam menunduk.


Jingga meremas baju dengan kesal, gadis itu meyalahkan diri sendiri, kenap dia harus diam, kenapa kata iya tidak bisa keluar dari mulutnya dan juga ada apa, kenapa hatinya seakan belum siap untuk melakukan itu bersama Lucas.


Mama , papa Jingga kangen kalian.


Ya, mungkin ini alasan Jingga, walaupun dia sudah menikah dengan Lucas, tapi entah kenapa gadis itu belum spenuhnya menyerahkan hati dan hidupnya untuk pernikahan ini, terlebih lagi orang tuanya tidak mengetahui tentang pernikahan ini. Sejujurnya dalam hati kecilnya gadis itu ingin orang tuanya ada disisinya dan tahi kalau putri kecil mereka sudah menikah.

__ADS_1


Tapi sayangnya semua itu seakan mimpi baginya, keberadaan orang tuanya saja gadis itu tidak tahu dimana.


Maaf Lucas, Tunggu hingga aku bisa memantapkan hatiku, saat itu tiba aku yang akan datang padamu, tanpa harus kau minta.


__ADS_2