
Sejenak Jingga cukup terpesona dengan sosok pria yang berdiri di depannya saat ini, wajah tampan dengan kaca mata bening di pakainya, terlihat sangat sempurna.
" Maaf, apa datang sendiri ke sini ?" Tanya Revan sekali lagi, sontak membuat Jingga terbangun dalam lamunannya.
" Oh tidak." Jawab Jingga meracau.
" Pesta yang membosankan." Ucap Revan.
" Ya, aku juga sangat bosan dengan pesta ini."
" Apa kamu tahu, kalau bukan terpaksa aku juga tidak mau datang ke pesta ini."
" Aku juga."
" Tunggu dulu, kenapa merasa kita sangat cocok ya."
Ucap Revan bersemangat.
" Cocok ?" Tanya Jingga ragu.
" Iya, ayo berteman."
" Berteman ?"
" Iya." Ucap Revan, kali ini pria itu mengulurkan tangannya kembali, sebagai tanda awal pertemanan mereka, Tapi Jingga lagi-lagi ragu untuk membalas uluran tangan itu, tapi entah kenapa dia merasa tidak enak hati, menolak kedua kalinya uluran tangan itu, dengan terpaksa gadis itu menyambut uluran tangan itu.
Sontak senyum lembut terpasang di bibir Revan, dengan terpaksa juga Jingga membalas senyuman itu, hingga tiba-tiba suara yang sangat familiar, mengejutkan Jingga.
" Lepaskan tanganmu !" Ucap Lucas penuh dengan penekanan, mendengar itu sontak Jingga melepas tangannya, mundur beberapa langkah hingga terdapat jarak yang cukup jauh dari Revan.
Lucas menghampiri Jingga, dan langsung menariknya istrinya itu, untuk mendekat padanya, di kalungkannya tangannya di perut istrinya.
" Berani sekali kamu bersama pria lain." Bisik Lucas di telinga Jingga, sontak membuat bulu kuduk Jingga berdiri, sangking takutnya.
" Ada urusan apa dengan istri saya ?" Tanya Lucas pada Revan, sorot mata Lucas seakan mengintimidasi Revan.
" Oh kamu sudah menikah ? Maaf sebelumnya, dia tidak bilang kalau sudah menikah ." Ucap Revan, sambil menatap Jingga.
Jingga yang kaget dengan ucapan Revan, sontak menoleh kearah Lucas dan mengelengkan kepalanya, raut wajahnya seakan mengatakan Tidak aku tidak melakukan itu.
__ADS_1
Jingga yang merasa kesal, menatap Revan dengan tatapan tajam penuh kesal.
Apa-apa an pria ini, kapan aku bilang belum menikah !
" Wah, berani sekali kamu bilang belum menikah, sepertinya aku harus segera menghukummu." Bisik Lucas lagi.
" Aku tidak bilang apa-apa, dia juga tidak bertanya ." Ucap Jingga mencoba membela diri.
" Sepertinya kita harus segera pergi, silahkan nikamti pestanya." Ucap Lucas, seraya mengaja Jingga untuk peegi, tangannya masih setia dia pinggang istrinya itu, Jingga merasa dirinya terancam mencoba membela diri, tapi sayangnya Lucas tidak peduli, pria itu hanya membalas setiap ucapan Jingga dengan senyuman penuh misteri.
Sepertinya malam terakhirku hidup.
Jingga hanya bisa pasrah saat Lucas menuntunnya kesebuah lorong yang disisinya banyak kamar, Jingga merasa takut, beberapa kali gadis itu menoleh kebelakang, berharap ada seseorang di sana yang dapat menyelematkannya. Hingga mereka berdua naik kesebuah Lift, Lucas memencet tombol angka 30, sepertinya itu tempat tertinggi di gedung itu, karena angka terkahir di tombol lift itu angka 30.
Kemana Jimmy, tadi sepertinya dia mengikuti kami ?
" Kemana kita akan pergi ?" Tanya Jingga takut, tapi lagi-lagi Lucas tidak mejawab, sorot matanya tajam, sekan Jingga tidak bisa mengartikan arti dari sorotan mata itu.
" Lucas, katakan ? Jangan diam, kemana kamu akan membawaku ?" Tanya Jingga sekali lagi, Lucas masih tidak menjawab, hingga pintu lift terbuka.
" Ayo keluar ." Ajak Lucas, suaranya terdengar berat.
" Tidak, katakan dulu kita mau kemana ?"
" Tidak." Ucap Jingga bersikeras.
" Jingga, ayo keluar." Ucap Lucas, dengan lembut, tapu entah kenapa kelembutan itu terdengar sangat menakutkan.
Jingga sudah tidak tahu harus bagaimana, dengan langkah berat gadis itu menuruti perintah Lucas, berjalan mengekor dibelakang Lucas yang berjalan di depannya, dengan susah payah, gadis itu mengikuti langakh cepat Lucas, karena memang sepatu hak tinggi yang dipakainya cukup menghambatnya.
Beberapa kali gadis itu menoleh kesekitar, lorong panjang dengan cahaya remang-remang, Jingga merasa heram kenapa ada tempat seperti ini.
Hingga mereka berdua berhenti di depan sebuah Pinth, entah apa yang ada dibalik pintu itu, Jingga bertambah takut. Terdngar julas suara kunci pintu yang bekerja untuk membuka pintu didepannya.
" Ayo masuk !" Ajak Lucas, pria itu masuk terlebih dahulu, tapi Jingga masih diam metatung, rasa takut berkecamuk dihatinya, keringat dingin membasahi tangannya, gadis itu mengepalkan tangannya dengan keras , mencoba untuk mengumpulkan keberaniannya.
Hingga tiba-tiba Lucas menariknya untuk masuk.
BRAK
__ADS_1
Suar pintu yang ditutup Lucas dengan kerasnya, Lucas menyalan lampu, hingga seisi ruangan itu terlihat, sebuah ranjang besar dengan warna biru muda mendominasi, warna kesukaan Jingga.
Tidak banyak barang di sana hanya sofa besar dan sebuah meja di dekat jendela.
Ini pertama kali Jingga masuk ke dalam kamar pria itu, namun, bukan itu yang harus ia pikirkan sekarang, melainkan sosok Lucas yang tiba-tiba mengendongnya.
Dalam waktu singkat, Jingga sudah merasakan tubuhnya terbaring di atas empuknya ranjang. Mata Jingga melotot saat Lucas sedang membuka paksa gaun yang dipakainya.
Jingga berusaha keras menepis tangan Lucas, tapi sayangnya tenaga mereka berlawanan, Lucas begitu kuat hingga membuat Jingga tak berdaya.
" Lucas kamu mau ngapain ?" Tanya Jingga takut.
Tapi lagi-lagi, pertanyaan itu tidak digubrisnya, Lucas semakin binal dan tak terkendali. Merasa sinyal tanda bahaya sudah berbunyi, Jingga langsung bangkit dari posisi baringnya dan berusaha segera turun dari ranjang.
" Mau ke mana ?"
Tubuh Jingga gemetar, kenapa Lucas tiba-tiba menjadi menakutkan seperti ini ?
" Aku mau keluar ." Ucap Jingga dengan suara begetar.
Lucas tersenyum miring, ia tidak membalas apa pun lagi ucapan Jingga, Namun, senyumnya makin terlihat saat mendengar suara kenop pintu yang berkali-kali digerakkan oleh Jingga.
" Lucas....., pintunya di kunci ?"
Lucas melempas jas hitam yang dipakainya ke lantai begitu saja. Membuka kemeja putih dipakainya dengan perlahan, Jingga berjalan mundur, gadis itu semakin takut, walaupun dia sudah melakukannya dengan Lucas, tapi entah kenapa saat ini dia takut, Lucas yang sekarang tidak seperti Lucas yang biasanya, Lucas terlihat menakutkan dan mengerikan .
" Kemarilah...." Suruh Lucas, pria itu berbaring di atas ranjang hanya dengan bertelanjang dada. Menurut Jingga saat ini Lucas tidak terlihat sexy dengan perut kotak-kotaknya, Lucas terlihat menakutkan.
Jingga mengelengkan kepalanya beberapa kali, dia begitu takut.
" Aku benar-benar minta maaf, aku tidak mengatakan apa-apa pada Revan."
" Revan ? Oh nama pria lancang itu Revan." Ucap Lucas dengan sinisnya.
" Aku berkata jujur, kamu lebih percaya pada pria itu, dari pada aku."
" Aku percaya padamu, sekarang kemarilah."
" Aku tidak bohong, dia tidak bertanya padaku, apakah aku sudah menikah apa belum."
__ADS_1
" Jadi kamu tidak memberitahunya ?"
Ya, aku tidak memberitahunya, lagian apa perlu aku memberi tahu setiap orang yang aku temui , dan bilang Aku istri Lucas ! Seperti itu !