
Jingga berguling-guling di atas ranjang tempat tidurnya, Rasa bosan menghampiri gadis itu, jam di dinding masih menunjukkan pukul 07.00 malam, dia tidak tahu harus melakukan apa mengusir rasa bosannya, menonton TV sudah, membaca buku sudah, makan malam sudah.
" Aaaaa aku bosan." Ucap Kesal Jingga.
Di lihatnya pintu kamar mandi di ruangan itu, di balik pintu kamar mandi itu, Lucas sedang mandi. Sedikit pikiran nakal terbesit di kepalanya.
Suara germecik air terdengar di telinga, entah setan apa gadis itu tiba-tiba membayangkan tubuh kekar Lucas yang indah di basahi air, sangat sexy.
" Akh, apa yang aku pikirkan." Jingga segera menyedarkan dirinya, gadis itu mengacak-ngacak rambutnya karena kesal, kenapa dia bisa berpikiran kotor seperti itu.
Hingga suara ponsel membuatnya menoleh ke sumber suara.
" Lucas ada terlfon." Teriak Jingga, sambil menghampiri ponsel di atas nakas itu, nama Jimmy terpampang di layar ponsel itu.
" Angkat aja, sayang aku lagi mandi." Teriak Lucas di balik pintu.
" Ini dari Jimmy." Balas Jingga mengimbangi teriakan Lucas.
" Biarin aja kalau gitu nggak usah di angkat." Jingga meletakkan kembali ponsel yang baru saja dia pegang ke tempatnya kembali.
" Kamu nggak nelfon balik, siapa tau penting ?" Tanya Jingga, saat mendapati Lucas keluar dari kamar mandi, dengan hanya menggunakan handuk yang terlilit di pinggulnya, sontak membuat mata Jingga terbelalak tidak percaya dengan pemandangan yang ada di depan mata itu. Gadis itu sesaat cukup terkesima, hingga akhirnya Lucas bersuara, sontak membuatnya sadar dari fantasinya itu.
" Kenapa, mau ?" Tanya Lucas sedikit menggoda.
Mendengar itu Jingga langsung membalikkan badan, membelakangi Lucas.
__ADS_1
" Nggak, Jangan aneh-aneh deh." Ucap Jingga panik.
" Aneh gimana ? Kalau kamu mau kamu boleh pegang." Ucapan nakal Lucas berhasil membuat detak jantung Jingga seketika berdetak lebih cepat, wajah merah karena malu tidak bisa gadis itu sembunyikan.
Lucas mendekati Jingga, di raihnya rambut gadis itu, di mainkannya dengan manja.
" Kenapa diam ?" Tanya lucas, kali ini suara terdengar lebih menggoda.
" Kamu ngapain sih, udah sana pakai baju, jangan macem-macem ya !" Jingga mencoba memperingatkan suaminya itu.
" Macem-macem gimana ? Cuma satu macem kok." Ucap Lucas, kali ini pria itu meniup telinga Jingga dengan pelan, sontak membuatnya merinding, karena geli.
" Lucas, udah sana pakai baju." Jingga berbalik mencoba mendorong Lucas agar menjauh darinya, tapi sayang Lucas seakan sudah menebak serangan itu, hingga dia sudah ada persiapan, dengan sigap pria itu menahan tangan istrinya itu, dan langsung menarik tubuh Jingga mendekat dan mendekapnya, di lihatnya dua mata yang hanya berjarak beberapa centimeter dari matanya dan Jingga seakan tenggelam dalam tatapan itu hanya diam, tidak melawan, gadis itu seakan nyaman dalam dekapan itu, gadis itu bisa merasakan kulit tubuh Lucas yang halus. Lucas sudah tidak mampu lagi menahannya, pria itu langsung melahap bibir mungil di bawahnya.
Awalnya perlahan, tapi lama-lama ciuman itu menjadi semakin panas, tangan Lucas bahkan sudah masuk ke dalam balik baju. Napas mereka memburu dengan detak jantung berpacu, jangan di tanya bagaimana perasaan Jingga, wanita itu tidak sanggup mengungkapkannya dengan kata-kata, dia hanya mampu bergerak-gerak gelisah di bawah kuasa suaminya yang kelewat nakal itu. Menahan segala gejolak yang hari ini terasa lebih manis dari yang pernah dia rasakan.
Tok tok tok !
" Lucas ." Ucap Jingga mencoba menghentikan suaminya itu.
" Sstt, hari ini nggak boleh ada yang ganggu kita oke !" Laki-laki itu kembali mendekatkan wajahnya ke bibir mungil favoritnya itu.
" Tuan, ini saya Jimmy" Ucap seseorang di balik pintu itu."
" Lucas, hentikan, Jimmy mencarimu." Jingga menarik kembali kepala Lucas.
__ADS_1
" Sudah biarkan saja." Ucap Lucas dengan entengnya dan mencoba menyeran kembali, tapi dengan cepat Jingga menahannya.
" Lucas, hentikan, cepat kamu temui Jimmy, sapa tahu ada yang penting." Ucap Jingga.
" Sudahlah, nanti saja, kita selesaikan ini dulu."
" Lucas." Ucap Jingga sedikit menekan, tatapan matanya yang tajam membuatnya sedikit teritimidasi.
Breng**k Jimmy, kenapa bisa tepat sekali waktunya. Lihat saja aku akan menghabisimu.
Dengan perasaan kesal Jimmy turun dari ranjang, mencari handuk yang tadi di lemparkannya dan memakainya, menutupi bagian tubuhnya yang sedikit sensitif itu.
Lalu berjalan menuju pintu, raut wajah penuh amarah sudah terpasang di wajahnya.
" Ada apa ?" Tanya Lucas dengan kesal.
" Maaf tuan, saya cuma mau..." Ucap Jimmy sedikit ragu melihat Lucas yang hanya menggunakan handuk dengan keringat yang sedikit membasahi tubunya, Jimmy mulai menyadari sudah membuat kesalahn besar. dia sudah bisa menebak apa yang baru saja terjadi di dalam kamar itu.
" Saya butuh tanda tangan tuan." Ucap Jimmy langsung, sekarang bukan waktunya ragu, karena bekas di tangannya itu penting.
" Apa kamu tidak tahu waktu." Ucap Lucas dengan kesal, di raihnya berkas di tangan Jimmu dengan kasar.
" Maaf tuan, tapi berkas ini harus saya kirim malam ini juga." Jimmy mencoba menjelaskan.
" Pintar juga kamu cari alasan, kalau tidak sudah ku habisi kau malam ini juga." Ucap Lucas kesal.
__ADS_1
Mendengar ancaman itu bukannya takut Jimmy malah tersenyum kecil.
Maaf tuan, silahkan di lanjutkan setelah tuan menandatangani berkas ini.