CEO Dingin Yang Bucin

CEO Dingin Yang Bucin
seasion 2. part 12


__ADS_3

Jingga menganga. Mulutnya bahkan belum sempat melarang, Lucas sudah menanggalkan kaosnya dan melemparnya begitu saja ke lantai. Jingga buru-buru kembali meluruskan pandangannya untuk menghindari Lucas. Lebih baik dia melihat dinding saja.


" Ka-kalau gerah kenapa nggak bilang ? kan, aku bisa nurunin suhu AC ."


" Oh iya ya ? Tapi nggak deh, ngrepotin kamu."


Jingga mengomel dalam diam-diam mendemgar ucapan Lucas. Meski tidak sedang menghadap laki-laki itu langsung. Jingga bahkan bisa membayangkan wajah Lucas saat menjawabnya barusan. Memangnya apa lagi yang lebih merepotkan selama berdua saja bersama laki-laki itu yang sedang bertelanjang dada.


" Jingga ?"


Jingga menoleh. Namun saat pandangannya langsung bertemu dengan dada polos Lucas. Secepat kilat Jingga kembali mengarahkan wajahnya menuju dinding. Walaupun dia sudah pernah melihat semuanya dari tubuh laki-laki di belakangnya itu, tapi itu tiga tahun lalu. Dan sekarang dia di hadapkan langsung ?


Oh tuhan... kuatkan imanku.


" Apa ?"


Jingga tampak panik, bola matanya mendadak bergerak gelisah saat laki-laki itu ikut menangkap kedua tangannya yang tengah memegang rak dinding. Jingga panik bukan main. Apalagi saat merasakan napas Lucas perlahan mengelitik sisi kiri wajahnya. Belum lagi ketika dada laki-laki itu menyentuh tubuhnya.Degup jantung Jingga semakin berantakan. Jingga menelan ludah gugup ketika laki-laki itu semakin mendekatkan wajahnya. Jingga memejamkan mata sbari menahan napas.


" Pegang benar-benar rak-nya, kalau kamu gemetarab begini, gimana aku bisa mulai ?" Bisik Lucas tepat di samping telingan Jingga.


Ketika Lucas menyelesaikan kalimatnya dan melepaskan tangannya, Jingga langsung menghembuskan napasnya begitu saja. Menyadari tingkah konyolnya. Entah kenapa semakin membuat Jingga ingin menenggelamkan diri.


Sementara itu, Lucas sadar kegugupan Jingga pun sangat menikmati tingkah laku perempuan itu di sela-sela pekerjaannya. Susah payah ia menyamarkan senyum melihat ekspresi Jingga. Mata Lucas melirik Jingga yang masih membantunya memegangi rak, perempuan itu masih mencoba untuk tidaj menatapnya.

__ADS_1


" Jingga ?"


" Hmm, ya ?"


" Bisa geser ke tengah sedikit ? Aku butuh pasang bagian sudut yang kamu pegang."


" Oh, oke."


Jingga menggeser tubuhnya yang sejak tadi berada di bagian sudut kanan rak menjadi ketengah. Jingga pikir Lucas akan mengisi tempat dimana ia tadi berdiri. Namun yang terjadi, laki-laki itu malah menumpukkan lengan kirinya pada sudut kiri rak dan tangan kanan yang tengah mengebor sudut kanan rak. Untuk beberapa saat Jingga mengerjap menyadari posisinya yang malahan terperangkap di antara kedua lengan dan tubuh Lucas.


" Kamu, kelihatan pucat. Sakit ?" Tanya Lucas .


" Nggak, aku baik-baik saja." Jawab Jingga, mencoba tenang.


Jingga menahan napas, tidak seperti sebelumnya yang menghadap dinding. Kali i i ia menghadap Lucas langsung. Membuatnya bisa menatap dengan leluasa figus depan tubuh laki-laki itu yanh kini memang sedang dibiarkan topless. alias tidak menggunakan apa-apa. Belum lagi saat butiran keringat mengalir di kulit maskulin Lucas. Mulai dari leher yang menampakan jakun seksinya, tulang rahangnya yang terlihat mempesona, dada bidang, perut yang mengundangnya untuk berhitung berapa kotak-kotak disana. Lalu turun menuju bagian pinggul laki-laki itu yang oh tuhan. Jingga bisa gila jika mereka lama-lama dalam posisi ini.


Dia baru saja sadar jika Lucas sedang mengunkaan jeans longgar pada bagian pinggang. Yang membuat Jingga bisa mengintip daya tarik sebenarnya.


dari tubuh laki-laki itu, sebuah gatis berbentuk V didaerah pinggul.


Sial ! Jingga meremas tangannya semakin gugup. Berapa kali dalam seminggu laki-laki ini berolah raga ? Tiga tahun tidak bertemu kenapa menjadi semakin meresahkan seperti ini ? Ini gila, benar-benar gila. Jingga benar-benar ingin menyentuhnya. Itu tanda - tanda kegilaan kan ? Dan lagi, itu V . Ya tuhan.. Cobaan apa yang kau berikan padaku ?


Suara bor yang dari tadi mampu menutupi kegelisahan Ji gga kini sudah tidak terdengar, lawat telinganya. Jingga bisa mendengar benda yang baru yang di lentakkan oleh Lucas.

__ADS_1


" Jingga, apa aku benar tentang apa yang kita rasakan sekarang ?"


" Rasakan apa ?".


" Ketegangan seksual, diantara kita ?"


Jingga menelan ludah saat mendengar ucapan Lucas. Orang ini sedang bicara apa ? Siapa juga yang merasakan hal macam itu.


" Aku nggak paham maksud kamu ?"


" Kamu nggak kepikiran kalau cuma kamu yang ngerasain sesuatu di ruangan ini kan ? Bukan cuma aku, tapi kamu juga."


Jingga masih diam. Ya, lebih baik diam saja. Tidak ada gunanya meladeni Lucas. Namun seakan bisa membaca pikiran Jingga, Kalimat Lucas selanjutnya sedikit membuatnya gentar.


" Berhenti menyangkal. Kamu tahu kalau aku menginginkan kamu, sama seperti aku yang tahu kalau kamu juga menginginkan aku."


Lucas semakin mempersempit jarak, dan ketika dirasakan laki-laki itu perlahan menunduk, tatapan mereka pun kembali bertemu. Jingga mencoba bertahan, bahkan ketika embusan napas laki-laki itu sudah menerpa halus bibirnya. Tapi ketika laki-laki itu mulai membuka mulutnya, Jingga tahu situasinya sudah tidak sesederhana seperti apa yang ia perkirakan.


" Katakan, dan aku akan menjadi milikmu malam ini, sayang ? Bisik Lucas tepat di depan bibir Jingga.


Jingga mengepalkan tangannya, menutupi kegugupannya.


Aku harus kuat ! Kamu nggak boleh kalah Jingga... Kamu pasti bisa... Tahan godaan ini.. Tahan cobaan berat ini...

__ADS_1


__ADS_2