
Jingga membuang napas kasar, rasanya percuma saja jika harus berdebat dengan Lucas.
" Udah Revan ayo kita lanjutkan, anggap aja dia nggak ada di sini." Jingga akhirnya menyerah.
Mendengar ucapan Jingga, Revan pun hanya bisa pasrah, menuruti perintah Jingga.
" Oke, jadi......"
Selama Jingga dan Revan melanjutkan obrolan tentang kerja sama mereka, yang Lucas lakukan hanya mengotak-atik ponsel dan mensecroll layar ponselnya dengan jenuh. Jika Lucas tidak salah dengar Revan menawarkan kerja sama pada Jingga agar bersedia meminjamkan restorannya sebagai salah satu setting program memasaknya untuk satu episode hingga dua episode. Ya Revana adalah salah satu sutradara acara telivisi yang dimana dia menangani program masak-memasak. Dan Rating acara yang di sutradarainya sangat tinggi.
Memdapat tawaran itu, Jingga cukup antusias, karena itu juga kesempatan bagus untuk restorannya, Jingga dan restorannya juga akan mendapatkan free pass untuk memperkenalkan restorannya ke pasar lebih luas, plus fee untuk Jingga tentunya.
Sialan, Lucas tahu nggak mungkin Jingga menolak tawaran menggiurkan dari Revan itu.
" Oke, jadi aku cuma perlu nyiapan tempatnya aja kan ?"
" Sebenarnya ada tawaran lain untuk kamu, untuk episode di restoran kamu nanti. Kamu keberatan mggak kalau ikut tampil ? Ya semacam duet masak gitu ?"
" Aku ikut tampil?"
" Iya, kalau kamu mau, nanti duet masaknya sama aku aja, gpp." Ucap Revan.
" Emang kamu mau tampil di Tv ?"Tanya Jingga.
" Kalau sama kamu ya aku mau." Jawab Revan dengan santainya..
" Nggak deh, nanti aku malah malu-maluin"
" Nggak Jingga, kamu cantik, pinter masak apalagi coba yang kurang, nggak bakal malu-maluin."
Lucas yang mendengar obrolan mereka berdua, di buat geram. Kupingnya terasa panas mendengar setiap ucapan Revan itu.
" Oke deh." Putus Jingga. Senyum Revan pun terbit. Tapi Lucas rasa kesalnya sudah tidak terbendungkan lagi.
Singkat cerita. Pada akhirnya Revan pulang dengan wajah berseri-seri. Sangking kesalnya, Lucas ingin sekali menonjok wajah Revan. Tidak rela rasanya melihat laki-laki lain bahagia karena Jingga.
Tapi Lucas tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak bisa mengatur apalagi melarang Jingga. Saat ini dia harus menahan setiap egonya, karena misinya adalah membuat Jingga kembali padanya. Tidak boleh ada kesalahan lagi di atas usahanya selama ini.
Sebisa mungkin dia harus bersikap baik dan mendukung setiap apa yang Jingga lakukan.
" Kamu udah makan ?" Ucap Lucas memecah keheningan.
" Belum, nanti aja di apartemen kalau pulang." Jawab Jingga yang mau bersiap-siap pulang. Sadar di perhatikan Jingga menoleh pada Lucas.
" Kamu nggak pulang ? Aku bawa mobil, by the way kalau kamu ngarep aku mau ikut kamu. Nggak mungkin banget."
__ADS_1
" Iya tahu, kok. kamu bawa mobil, makanya, hari ini aku nggak bawa mobil."
" Kamu apa ? Nggak bawa mobil ? jadi..."
" Aku kesini di anter Jimmy, jadi aku pulang mau nebeng kamu."
" Kenapa kamu nggak suruh Jimmy, nganter kamu langsung ke apartemen. Malah ke sini. "
" Aku yang nyetir, deh."
" Bukan itu masalahnya."
" Masak kamu mau ninggalin aku disini, padahal tujuan kita sama."
" Ih kamu ini ya, Ribet banget sih. Suruh Jimmy lagi jemput kamu."
" Nggak bisa."
" Kenapa nggak bisa. Dia nganter ke sini bisa kok, jemput kamu lagi juga bisa."
" Nggak bisa. Dia udah mau berangkat dinas keluar kota." Ucap Lucas berbohong. laki-laki itu harus bisa pulang bersama Jingga.
" Naik taksi online aja."
" Naik taksi online."
" Nggak bisa apa lagi ?" Jingga mulai kesal.
" Aku nggak pernah pesan-pesan taksi online kayak gitu." Ucap Lucas memelas.
" Lagian, aku itu kangen kamu." Tambah Lucas lagi.
Jingga syok berat saat mendengar ucapan Lucas.
" Jangan gila ! Tiap hari kita ketemu."
" Justru itu yang bikin aku gila, setiap detik, menit, jam aku nggak ketemu kamu. Rasanya berat banget. Kamu tahu kan kamu itu candu buat aku."
" Ih, jijik banget sih. Sejak kapan kamu jadi jago gombal kayak gitu ?" Jingga sampai merinding mendengar ucapan Lucas.
" Kok gombal sih, aku serius."
" Udah udah, lama-lama aku mual dengerin gombalan kamu, kalau mau nebeng ayok."
Merasa tidak ingin memperpanjang masalah, mau tidak mau Jingga pun membiarkan Lucas membawa mobilnya. Di dalam mobil,tidak ada suara. seakan sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing. Baik Jingga dan Lucas sama-sama diam dan tidak memulai percakapan. Hingag suatu ketika mobil yang membawa mereka tiba-tiba memasuki sebuah pelataran restoran. Untuk pertama kalinya setelah lama bungkam, Jingga bersuara .
__ADS_1
" Ngapain, kita ke sini ?"
" Dinner, kamu belum makan, kan ?"
" Kamu, nggak denger aku bilang aku mau makan kalau udah sampai apartemen aja."
" Oh, iya, ya ? Wah, aku nggak denger kayaknya tadi. Ya udah, ya kepalang tanggung, udah parkir juga, nih. Kita makan di sini aja ya, aku yang traktir."
Jingga masih syok, mendengar balasan Lucas. Peremouan itu hanya bisa mencoba sabar. Sebentar saja. Setelah makan. mereka bisa pulang dan semua selesai.
Sesampainya mereka di salah satu ruangan VIP direstoran itu. Saat pintu dibuka, Jingga mendengkus kesal. Jingga tidak bodoh. Untuk bisa makan di ruangan ekskkusif seperti ini. Tentu harus melakukan booking terlebih dahulu. Jelas sekali Lucas sudah merencanakan ini. Lalu untuk apa dia repot-repot bertanya padanya tadi ?
Apalagi di atas meja satu-satunya di ruangan itu, semua hidangan sudah berjajar cantik. Sembari melangkah masuk, Mata Jingga mengamati isi ruangan. Di salah satu sudut terdapat setumpuk piring hitam berserta turtable-Nya. Tidak seperti kebanyakan yang menghadirkan live show musik. Di ruangan itu mereka di sediakan alat pemutar musik sendiri agar bisa memilih sendiri musiknya.
Langkah Jingga berhenti saat sudah berada di dekat meja. Matanya menatap Lucas yang sudah menarik kursi untuk mempersilahkannya duduk. Sambil mencoba tersenyum tipis Jingga segera duduk di kursi yabg disediakan Lucas untuknya. Entahlah, mood-nya sedikit membaik melihat suasana ruangan ini. Setidaknya dia mendapatkan ilham untuk berpikir jika restoran miliknya perlu lebih banyak melakukan trobosan.
" Kenapa kamu tertarik sama restoran ini ? Mau aku beli restoran ini untuk kamu ?" Tanya Lucas dengan entengnya.
" Jangan Gila." Ucap Jingga cepat.
" Kenapa ? Kalau kamu suka aku bisa beli restoran ini buat kamu."
" Udah ya, jangan bicara aneh-aneh.Udah ayo makan." Ucap Jingga ingin segera mengakhiri pembicaraan ngawur Lucas.
" Aku serius loh."
Jingga membuang napas kasar. Rasanya percuma berdebat dengan Lucas.
" Kapan kamu booking ruangan ini ?" Tanya Jingga tiba-tiba di sela makannya.
" Kelihatan, ya ?"
" Banget, jadi kapan ?"
" Kemarin."
" Kemarin."
" Iya, Tepat setelah aku pulang dari unit apartemen kamu."
Seharusnya tidak ada yang salah dari jawaban Lucas. Tapi cara laki-laki itu yang memberi penekanan pada kalimat pulang--- dari---unit apartemen---kamu ---dengan nada dan tatapan penuh arti ke arahnya, membuat Jingga kembali teringat perihat kejadian di unit kemarin. Jingga tidak tahu bagaimana mendeskripsikan perasaannya saat ini. Bahkan saat tatapan mereka bertemu pun, tubuh Jingga seketika gerah.
Tidak ingin mati gaya, Jingga segera memulai kembali aktivitas makan malamnya. Beruntung Lucas tidak cerewet seperti biasa. Namun, melewati makan malam dengan keadaan hening membuat Jingga gelisah. Lucas terlihat memotong steak dan mengarahkan potongan daging itu ke mulutnya untuk di kunyah. Pandangan Jingga tanpa sadar jatuh pada bibir Lucas yang tampak sedikit berminyak, apalagi saat Lucas tiba-tiba menjilat bibir bawahnya. Melihat itu membuat duduk Jingga mendadak gelisah.
" Restoran kamu hari ini gimana ? Lancar ?"
__ADS_1
Jingga agak tersentak kaget saat Lucas tiba-tiba beesuara.
Jingga apa yang kamu pikirkan ! Melihat Lucas makan saja kenapa kamu jadi... Ah sadarlah Jingga. Jangan jadi perempuan mesum !!!!