
" Lucas !" Teriak Jingga kesal.
Lucas terbahak-bahak melihat Jingga yang memekik frustasi. Tidak sebelum sebuah bantal jayuh tepat di wajahnya. Keras.
" Awh..Sakit, Jingga !"
" Kamu tuh bisa nggak sih, serius ? Aku lagi serius sekarang !"
" Ya, aku serius. Kalau kamu minta aku buat lupain yang barusan. Sorry, aku nggak bisa. Kenapa, sih, kayaknya berat banget mengakui kalau kamu juga masih tertarik sama aku ? Kita masih sama-sama tertarik, kita masih saling mencintai."
Mendengar ucaoan Lucas seketika membuat Jingga diam. Tiba-tiba dia tidaj memiliki pembelaan lagi.
" Kita bahkan udah kayak orang kesurapan tadi sofa."
Jingga masih diam.
" Aku sampai kesusahan mau turunin kamu dari gendongan, kamu udah kayak koala yang nggaj mau lepas. Susah. Mana kamu nggak berhenti gigitin..."
" Oke oke, aku emang masih tertarik sama kamu !"
Jingga menyerah. Tidak ada pembelaan yang bisa ia lontarkan setelah apa yang mereka lakukan.
" Aku akui masih tertarik sama kamu. Terus kenapa dengan itu ? Nggak ada masalah kan ? Tertarik bukan berarti aku setuju balikan sama kamu. Ini nggak sesederhana itu. Ini itu pure tertarikan fisik. Kamu laki-laki dan aku perempuan. Kita ada diruangan yang sama, mungkin juga kebawa suasana. Jadi..."
Jingga tiba-tiba berhenti berucap saat Lucas menarik wajahnya dan menciumnya dalam. Bahkan sangking syoknya, Jingga hanya diam tidak bisa berkata-kata saat Lucas melepas bibirnya dan tersenyum lembut padanya.
" Itu aja udah lebih dari cukup, Jingga. Cukup . Terima kasih." Ucap Lucas pelan. Dahi Jingga berkerut. Kenapa tiba-tiba berterima kasih padanya.
" Bohong kalau Aku nggak kecewa denger kamu yang masih nggak mau balikan. Tapi dengar kamu bilang, seenggaknya masih tertarik sama aku, meski sebatas ketertarikan fisik semata, itu juga udah luar biasa buat aku. Karena secara nggak langsung kamu percaya sama aku. Nggak mungkin kan, kamu ngebolehin laki-laki yang nggak kamu percaya buat cium dan ....."
__ADS_1
Lucas tersenyum lembut, di usap lembut ujung kepala perenpuan yang masih bersetatus istrinya itu.
Jingga masih tidak mengerti kenapa Lucas bisa seperti ini ?
Tidakkah laki-laki itu mendengar bahwa ia telah menolaknya ?
" Aku nggak muluk-muluk berharap kamu bisa terima aku, untuk saat ini. Tapi lebih dari itu, ketertarikan fisik ini, seenggaknya aku masih punya kesempatan dan harapan untuk mengubah hati kamu lagi."
" Lucas, kamu nggak ngerti. Ini nggak sesederhana itu, aku..."
" Aku tetap mencintaimu."
Jingga tertegun, sesuatu di dadanya mendadak berdesir saat mendengar kalimat itu keluar dari bibir Lucas. Namu, seakab mengabaikan keterkejutan dan keterdiamannya. Lucas tiba-tiba berdiri dari sofa.
" Kemana ?" Tanya Jingga.
" Katanya tadi kamu mau buatin makanan, buat aku ?"
" Pakai baju kamu lagi ?" Tangan Jingga menyodorkan baju itu pada Lucas yang tengah duduk di sofa.
" Nggak ah, enakan gini."
Jingga membuang napas kesal.
" Emang kamu pikir ini rumah nenek moyang kamu sampai seenaknya nggak pakai baju." Emosi Jingga mulai kembali naik. Melihat Jingga yang melotot marah, meski dengan ekspresi tidak ikhlas, Lucas mengambil koasnya.
" Kayak nggak pernah lihat aku nggak pakai baju aja, bahkan seluruh tubuhku ini udah pernah kamu lihat." Celutuk Lucas yang membuat Jingga semakin melotot mendengar ucapan laki-laki itu.
Beruntung Lucas mematuhi perintahnya dengan cepat, setelah memastikan Lucas memakai kembali kaosnya. Jingga berniat balik badan, namun baru selangkah berjalan, tangannya tiba-tiba di tarik hingga ikut terduduk di sofa.
__ADS_1
" Kenapa lag..."
Belum sempat menyelesaiakan ucapannya, Jingga kembali di kagetkan dengan Lucas yang tiba-tiba berbaring menjadikan paha Jingga sebagai bantal.
" Capek, Jingga. Boleh pijem paha kamu bentar, ya ? Mau tidur ."
Jingga melenguh kesal. Kenapa situasi dan kondisinya jadi seperti ini ? Bukan seperti ini yang dia harapkan dari hubungannya dan Lucas.
" Oh ya, Jingga."
" Kenapa lagi ? Katanya mau tidur ?"
" Bukan gitu, sebenarnya aku nggak masalah, sih seneng malah. Tapi, takutnya kamu bisa-bisa jatuh sakit."
" Sakit, kenapa aku sampai sakit ?"
" Kamu nggak masalah cuma pakai baju tipis kayak gitu, kelihatn tuh bra kamu, lain kali jangan pakai baju tipis kayak gitu, apalagi saat bersamaku, takutnya aku nggak kuat." Ucap Lucas santai.
Mendengar itu, Jingga langsung menunduk dan baru sadar kalau ia memakai baju warna putih yang sangat tipis hingga bra yang terlihat samar.
" Kenapa kamu baru bilang ?"
Jingga memekik dan langsung bangkit dari sofa menuju kamarnya. Perempuan itu sampai harus berlari sangking malunya. Sementara Lucas hanya tersenyum melihat kekalutan Jingga.
" Biasa aja kali, sayang. Kayak aku nggak pernah lihat aja !"
" Diam ! Pulang sana kamu !"
Namun bukannya tersinggung mendengar pengusiran itu. Senyum Lucas semakin merekah mendengarnya. Laki-laki itu kambali berbaring sambil melihat langit-langit ruang tengah Jingga.
__ADS_1
Andai saja dia juga tinggal di sini, pasti hari-harinya akan sangat indah.
Tapi nggak apa-apa, Lucas . Sedikit lagi.. Kamu bakal tinggal di sini. Atau bahkan bisa membawa Jingga kembali pulang ke rumah !