
Langit-langit kamar menjadi hal pertama yang Jingga temui sesaat matanya perlahan terbuka. Jingga menoleh ke samping kiri ranjang dan tidak mendapati Lucas disana. Tetapi suara air dari arah kamar mandi sidah jelas memberitahunya mengenai keberadaan lelaki itu.
Jingga menghela nafas panjang, mengingat bagaimana nakalnya dia tadi malam, terlabih jika mengingat jika tadi malam mereka berdua tidak memakai pengaman.
Ya sesuai kesepakatan berdua, masalah anak. Jingga dan Lucas sepakat untuk menundanya.
It ok's oke Jingga, Sekali tidak pakai pengaman, bukan berarti kamu bisa hamil.
Jingga mencoba meyakinkan dirinya sendiri, mencoba berpikir positif, dia akan aman.
Hingga tiba-tiba ponselnya bergetar, notifikasi pesan terdengar jelas dari ponselnya.
Jingga mengambil ponselnya yang terletak diatas nakas dekat ranjang.
Di lihatnya pesan itu, dari nomer yang tidak dia kenal.
Seketika mata Jingga membelalak dan dia tidak bisa menahan tawanya.
Jingga tertawa sangat keras, sangking Lucunya.
Orang gila, bisa-bisanya dia kirim foto kayak gini. Tapi... tunggu dulu, pintar juga dia edit fotonya.
" Kamu udah bangun ?" Tanya Lucas yang tiba-tiba keluar dari kamar mandi, yang hanya menggunakan handuk menutupi sebagian tubuhnya dengan rambut basahnya, terlihat sexy.
Lucas menaikan alisnya melihat Jingga yang masih tertawa tanpa menjawab pertanyaannya.
" Kamu lagi ngetawain apa sih ?" Tanya Lucas.
" Ini.... Hahahaha." Jingga masih tidak bisa menahan tawanya.
" Ini apa ?"
" Ini, ada orang yang nggak jelas ngirim aku foto kamu sama Tsania ." Jingga menyeka air matanya, yang keluar karena tertawa berlebihan.
Deg.
Bagai petir, menyambar kepalanya, wajah Lucas seketika pucat pasi, detak jantung berdetak lebih cepat. Sesuatu yang selama ini ia takutkan telah terjadi.
" Kamu lihat deh, gila nggak sih, ada yang ngedit foto kamu sama Tsania lagi tidur bareng, tanpa busana pula."
__ADS_1
Lucas masih diam, tangannya mengepal mencoba mengontrol dirinya.
" Kayaknya ini Tsania deh yang ngirim foto murahan ini, gila nggak sih, dia nggak kapok-kapok, sekarang malah ngedit foto-foto kayak gini." Jingga masih tertawa, melihat foto diponselnya itu.
Hingga tiba-tiba ia menyadari, hanya ia yang tertawa di ruang itu, karena Lucas hanya diam, dengan wajah paniknya.
" Sayang, kamu kenapa ? Wajah kamu pucat, kamu sakit ?" Jingga turun dari ranjang, menghampiri suaminya.
" Nggak, aku nggak apa-apa." Lucas mencoba tenang, dia tidak ingin memperlihatkan kepanikan dan ketakutannya.
Lucas melangkah mundur, sedikit memberi jarak antara dirinya dan Jingga.
" Kamu kenapa sih, aku yang dikirimi foto murahan itu, kok kamu yang takut dan panik ?" Jingga mulai merasa curiga dengan sikap Lucas.
" Haha, nggak kok, gila ya ada-ada aja orang yang ngedit foto kayak gitu." Lucas berpura-pura berkomedi dengan keadaan saat ini, dia harus tenang, Jingga tidak menanggapi mempercayai foto itu.
seharusnya aku senang. Jingga tidak percaya itu.
Tapi kali ini ganti Jingga yang diam, menatap mata Lucas dalam-dalam. Lucas menatap balik tatapan itu.
" Lucas ?"
" Ya ?"
Lucas diam, entah kenapa mulutnya seakan tidak bisa berucap apa-apa, jatungnya berdetak lebih cepat, Lucas tidak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya, matanya seakan berbicara. Maafkan aku Jingga.
Di raihnya tangan Jingga, digengam erat tangan itu.
" Itu tidak.... "
" Ini bohongkan ?." Jingga memotong ucapan Lucas.
wanita itu tersenyum, sebuah senyum pahit. Senyuman yang mengartikan dia tidak baik-baik saja, ini tidak benar.
Jika mulut bisa berdusta tapi tidak dengan hati. Dan mata juga bisa berbicara lewat tatapannya.
Ya Jingga tahu betul, siapa Lucas. Mulut Lucas bisa membohonginya tapi tidak dengan hati dan matanya. Mata yang yang selalu menatapnya penuh cinta, tapi kini mata itu seakan lemah, mata itu seakan berkata Maaf Jingga.
" Foto-foto ini palsu kan ? Cuma editankan ? Cuma orang gila yang kirim foto itu, oh tidak, pasti Tsania cuma mau manas-manasin aku, ngebuat kita bertengkar. Hahaha. Gila ya wanita itu." Jingga mencoba sekuat tenaganya untuk tidak percaya, mencoba mengesampingkan hati dan logikanya. Saat ini dia mencoba bodoh. dan mempercayai Ini semua tidak benar.
__ADS_1
Jingga melepas gengaman Lucas, mencoba melihat kembali foto-foto diponselnya itu, setelah itu kembali tertawa. Tapi-tapi lagi-lagi hanya dia yang tertawa. Seharusnya Lucas ikut tertawa bersama, mentertawai foto-foto itu. Tapi kenapa saat ini Lucas hanya diam, hanya menatapnya sendu, seakan dia bersalah.
Jingga berhenti, melihat Lucas dalam diam.
Dan Lucas menatapnya, sebuah tatapan yang tidak Jingga sukai, Lucas terlihat lemah disana.
" Sayang ?"
" Ya ?" Jawab Lucas berat, pria itu mencoba tersenyum, tapi lagi-lagi Jingga tahu itu senyuman palsu penuh rasa bersalah.
" Lucas ?"
" Ya ?"
" Kamu tahukan, aku sangat mencintaimu ?"
" Aku lebih mencintaimu."
" Kamu tahukan, aku tidak suka melihat kamu bersama wanita lain."
" Aku lebih tidak suka, melihat pria lain bersamamu, bahkan aku tidak akan membiarkan pria lain menatapmu, apalagi mendekatimu, hanya boleh aku."
" Ini di pariskan ?" Jingga memperlihatkan foto itu kembali.
" Ya." Jawab Lucas dengan polosnya.
Jingga tersenyum mendengar jawaban Lucas.
Dia bahkan dengan bodohnya mengakuinya.
Lucas memang bodoh, saat ini dia pria terbodoh dimuka bumi ini, bagaimana tidak. Jingga sengaja menunjukan foto yang di sana terlihat jelas Tsania dan dirinya sedang tidur bersama.
Dan ada salah satu foto yang memperlihatkan dengan jelas menara eiffel sana. Karena sedari Lucas belum melihat foto-foto itu.
Tapi kini, setelah melihat sikap dan jawaban Lucas. Jingga sadar, ini semua benar adanya. Foto-foto ini asli dan nyata.
Jadi ini alasannya selama di Paris, Lucas tidak pernah menganggkat telfon dariku, dan semua perubahan sikap setelah pulang dari Paris karena ini.Bagaimana bisa dia tidur dengan Tsania ? Bagaimana bisa dia menghianatiku ?
Tidak mungkin ? Lucas tidak mungkin melakukan itu ?
__ADS_1
Jingga melangkah mundur, air matanya sudah membasahi pipinya, raut wajahnya terlihat jelas dia sedang tidak baik-baik saja, dia hancur saat ini.