
Malam ini Lucas mengajak Jingga untuk ikut acara makan malam bersama rekan bisnisnya. Jingga sudah susah payah menolaknya, karena baginya dia tidak pantas untuk ikut acara resmi seperti itu, terlebih lagi dia tidak punya pakaian yang pantas untuk di pakai, ssmua pakaian yang ada di lemarinya kebanyakan hanya celana jeans dan kaos kemeja yang selalu dipakainya saat kuliah, mungkin ada beberapa baju dres tapi itu model lama, sangat tidak pantas dipakai di acara seperti itu.
Tapi lagi-lagi gadis itu hanya bisa menyerah pasrah, karena Lucas terus memaksanya, bahkan Lucas bisa saja menyeretnya, Ya itu bisa terjadi. Tapi Lucas lebih memilih mengendong paksa istri tercintanya itu, pria itu tidak mau mendengar alasan apapun, apalagi cuma masalah baju dan penampilan. Tanpa menunggu lama di gendong paksa istrinya itu dan diantarkannya ke salon.
Karena tidak suka menunggu, pria itu memilih meninggalkannya dan akan menjeputnya ketika semua sudah selesai.
Lucas menelan Ludah dengan susah payah, ia sekuat tenaga tetap berkonsentrasi untuk menyetir, sayangnya, matanya benar-benar benar-benar tidak bisa diajak kompromi, sejak Jingga keluar dari salon, saat itu juga. Lucas tahu jika matanya tidak akan bisa lepas dengan mudah dari wanita itu. Jingga benar-benar membuatnya bungkam. Padahal, banyak rayuan serta gombalan yang sudah siap ia bayangkan apalagi Jingga selesai di make over. Namun yang terjadi, Lucas merasa dadanya sesak sendiri.
Apa melihat wanita yang kita cintai dengan penampilan luar biasa cantik, bisa membuat kita bersikap salah tingkah seperti ini ? Lucas tidak tahu. Namun, bahkan, menatap mata Jingga saja Lucas merasa tidak sanggup.
Sialan, Jingga cantik sekali.
" Lucas, nanti siapa saja yang datang ? Apakah akan banyak orang di sana ?" Tanya Jingga, setelah dari salon, wanita itu benar-benar baru merasakan kegugupan menyerangnya.
Jingga merasa pertanyaannya sangat tidak penting, apa yang ia tanyakan ? Ini makan malam para pembisnins, tentu saja pasti orang penting dan terkenal yang akan datang.
" Lucas nanti kamu kasih tahu ya, kalau misal tingkahku ada yang salah, aku tidak mau membuatmu malu." Ucap Jingga gugup, gadis itu berpesan seperti itu karena sadar akan dirinya sendiri, ia tidak bisa bersikap anggun seperti wanita lain.
" Lucas...."
" Jingga...."
Jingga yang terus-terusan meracau akibat gugup pun menolah, Lucas memanggilnya.
" Iya ?"
" Tolong jangan ajak aku ngomong dulu."
Awalnya, Jingga mengernyit mendengar ucapan Lucas, namun, saat menyadari pria itu tengah berkeringat, tangan Jingga refleks menyentuh pelipis Lucas.Dingin.
" Lucas, kamu kok grogi juga sih ? Jangan grogi !" Jingga semakin panik.
" Kamu, pasti takut aku malu-maluin kamu ya ? please Lucas aku akan berusaha sebaik mungkin tidak membuatmu malu, kalau perlu aku di sana cuma duduk tidak ngapa-ngapain."
Lucas menarik nafas pajang, mencoba mengatur nafasnya. Tentu saja bukan itu penyebab kegusaran Lucas saat ini. Ia gugup karena ada wanita cantik di sebelahnya. Lucas tidak menggubris ucapan Jingga, pria itu seolah tidak peduli, dengan omong kosong itu.
Namun, tidak lama dari itu, dengan penuh perjuangan, mobil yang dikemudikan Lucas akhirnya sampai juga.
Jingga mengerutnya dahi saat melihat gerbang besar didepan sana. Wajah Jingga makin terlihat bingung, malihat antrean beberapa mobil di depannya. Beberapa petugas keamanan berbaju hitam juga siaga di sekitar gerbang.
__ADS_1
Tunggu, kenapa ramai sekali ?
" Lucas kenapa ramai sekali ?" Jingga kembali bertanya, tapi pertanyaan itu juga tidak bertemu jawabannya. Lucas justru terus memajukan mobil mereka hingga persis di depan gerbang, Lucas membuka jendela mobilnya, seorang petugas keamanan hanya menganggukan kepala tanpa bertanya apalagi memeriksa. Jingga merasa aneh, karena dari tadi dia melihat mobil-mobil di depannya di periksa dengan teliti tapi mereka membiarkan Lucas dan dirinya masuk tanpa pemrisaan apapun.
" Kenapa mereka membiarkan kita masuk begitu saja ?" Tanya Jingga penasaran.
" Kenapa mereka harus memeriska pemilik gedung ini." Ucap Lucas dengan entengnya.
Pemilik gedung ? Gedung yang besar dan mewah ini milik Lucas, apa aku tidak salah dengar, sebenarnya seberapa kayanya pria disampingku ini ?
Jingga menggelengkan kepalanya tidak mengerti.
Tepat di depan gedung, tanpa harus memakirkan mobilnya, seorang petugas keamanan menghampiri mereka.
" Ayo keluar." Ajak Lucas.
Jingga yang masih bingung hanya bisa mengikuti dengan patuh, Lucas melempar kunci mobilnya pada petugas kemanan itu, dengan tepat sasaran dia melemparnya, hingga dengan mudah petugas keamanan itu bisa menangkapnya.
Jingga dengan tatapan terkesima memandang luasnya bangunan yang Lucas miliki ini. Benar-benar bangunan mewah dengan interior gaya eropa yang terkesan mahal dan sangat menakjubkan. Senyumnya makin lebar saat melihat taman bunga mengelilingi gedung itu.
" Tampat yang bagus ." Puji Jingga.
" Siapa ? "
" Milikmu, Matahari Jingga, aku memberikannya padamu, dan sudah bersertifikat atas namamu ." Ucap Lucas lagi-lagi tanpa beban.
" Kamu serius ?"
" Ya."
" Ya .... Apa kamu sudah gila !" Teriak Jingga, tidak percaya.
Apa dia sudah gila, memberiku gedung sebesar ini !
Entah kenapa bukannya senang, gadis malah marah mendengar itu.
Dengan kesal berjalan meninggalkan Lucas.
" Tunggu dulu, kenapa kamu marah ?" Tanya Lucas tidak mengerti.
__ADS_1
" Kamu masih bertanya kenapa aku marah ?" Ucap Jingga kesal, mengehentikan langkahnya, mencoba mengatur nafasnya yang sudah memburu karena kesalnya.
" Apa aku pernah memintamu memberikan hartamu ?" Tanya Jingga.
" Tidak, aku hanya ingin memberimu."
" Tapi aku tidak mau !" Ucap Jingga kesal.
" Kenapa ?"
" Ya pokoknya aku tidak mau."
" Terserah, pokoknya aku memberikan gedung ini padamu." Ucap Lucas, sambil berlalu meninggalkan Jingga yang masih kesal.
" Lucas tunggu ." Teriak Jingga, dengan susah payah gadis itu menyusul langkah suaminya itu, ya sepatu hak tingginya cukup membuat dia kesusahan, apalagi dia belum terbiasa dengan itu.
" Kenapa kamu meninggalkanku ." Ucap Jingga kesal, di cubitnya lengan suaminya itu.
Bukannya kesakitan, Lucas malah tertawa senang.
" Apa kamu sudah siap ?" Tanya Lucas.
" Untuk ?"
" Saat aku membuka pintu di depan, semua mata akan tertuju pada kita."
Semua mata ? Kenapa aku merasa ini seperti cerita di dongeng, pangeran tampan mengajak putri untuk datang kesebuah pesta dansa, dan semua mata tertuju pada meraka.
" Apa harus selebay itu." Ucap Jingga tidak percaya.
Tapi lagi-lagi Lucas tidak menjawab, ditariknya tangan istrinya dan digenggam erat tangan itu seakan dia tidak akan melepasnya untuk selamanya.
Hingga dua pelayan membuka pintu saat Lucas memerintahkannya dengan anggukan kepalanya.
Jingga mencoba mengatur nafasnya, jantungnya seakan berpacu, dan berdetak tidak beraturan.
Lucas yang bisa merasakan itu, menoleh kearah istrinya itu, sorot matanya seakan berkata Tenanglah, aku di sini bersamamu.
melihat senyuman itu, seketika Jingga merasa semua akan baik-baik saja. Dia hanya perlu menjaga sikap, tidak usah ngapa-ngapain, cukup duduk diam, dia tidak ingin mempermalukan Lucas. Ya hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang.
__ADS_1