CEO Dingin Yang Bucin

CEO Dingin Yang Bucin
seasion 2. Part 5


__ADS_3

Jingga sedang bertopang dagu ketika pintu ruang kerjanya diketuk dari luar. Tidak lama setelah itu muncul asistennya yang bernama Risa dari balik pintu. Mata Jingga pun langsung tertuju pada asistennya itu.


" Gimana ? Orangnya udah pergi ? Tanya Jingga cepat.


" Sudah, Bu." Jawab Risa.


Jingga menarik napas dalam-dalan saat mendengar jawaban Risa. Orang yang dimaksud adalah Lucas. Laki-laki yang dengan seenaknya muncul dan berkata ingin mem-booking seisi restoran tanpa adanya acara khusus.


Seharusnya Jingga sudah merasa aneh mendengar maksud tidak wajar laki-laki itu, Tapi Jingga mencoba tetap bersikap profesional. Awalnya Jingga sedikit tidak nyaman, karena sejujurnya dia belum siap bertemu kembali dengan suaminya itu. Entah kenapa bayang-bayang pernghianatan itu masih terpampang nyata di mata. Sulit untuk melupakan apalagi memaafkan itu.


Seseorang yang kita percaya dan sangat kita cintai, menghianati, walaupun dengan alasan tidak sadar. Entahlah Jingga masih tidak bisa menerima itu.


" Untuk kedepannya, kalau orang tadi kembali muncul, saya minta kamu aja yang berurusan sama dia. Nggak perlu langsung ke saya. Tolong kasih taju pegawai yang lain."


Risa mengangguk dan segera keluar dari ruangan. Sejujurnya Risa sedikit bingung kenapa Ibu Jingga sangat antipatu dengan laki-laki barusan. Bahkan dari radius sepuluh meter saja Risa sudah bisa melihat masa depan cerah saat melihat Mas-mas tadi. Secara, Zaman sekarang itu langka banget bisa menemukan laki-laki yang tampang dan isi dompet sama-sama bagus.


Setelah Risa keluar dari ruangannya, Jingga langsung menjatuhkan kepalanya di atas meja. Dia masih belum siap jika harus berhadapan dengan Lucas.


Hingga tiba-tiba dering ponselnya berbunyi, Jingga mengangkat kepala dari atas meja dan dengan cepat meraih ponselnya, untuk beberapa saat dahi Jingga berkerut membaca nomor yang tidak dikenal yang tertera di layar.


" Halo ?" Jingga mengangkat penggilan tidak jelas itu. Mungkin telepn penting. Pikirnya.


" Jingga ?"


" Iya, saya sendiri. Ini siapa ya ?"


" Ini Aku, Lu...."


Dengan cepat Jingga menutup panggilan itu sambil melempar agak jauh ponsel tersebut darinya. Ekspresi Jingga berubah horor matanya menatap ponselbitu dengan tidak percaya. Dari mana laki-laki Itu bisa tahu nomer ponselnya.


Karena setelah kepergiannya itu, Jingga sudah menutup jalur yang berhubungan dengan Lucas, termasuk menganti nomor ponselnya.


Dan selama tiga itu juga, Lucas tidak pernah menghubunginya.


******


Mata Jimmy mengamati lelaki di depannya dengan seksama. Saat ini keduanya sedang berada di ruang kerja Lucas, dengan setumpuk berkas di atas meja, yang harus mereka selesikan sesegera mungkin.

__ADS_1


Tapi yang terjadi malah Lucas yang tak berhenti menatap layar ponselnya.


" Jimmy."


" Ya, Pak."


" Kurang sabar aku tiga tahun ini ?"


Jimmy mengerenyitkan kedua alisnya, dia masih belum mengerti maksud dan arah tujuan pembicaraan tuannya itu.


" Kamu tahukan, tiga tahun ini seperti apa ?"


Tuan Lucas, tidak sedang curhat kan ?


Jimmy perlahan mulai tahu arah pembicaraan tuannya. Yang bisa membuat tuannya seperti ini hanya istrinya, Jingga.


Tapi entah kenapa Jimmy seakan tidak mampu berkata apa-apa lagi, harus berucap apa untuk menghibur atau mencoba menyemangati tuannya lagi. Selama tiga tahun ini dia sudah mencobanya, tapi nyatanya percuma, hanya Jingga yang bisa membuat tuannya kembali seperti dulu.


" Apa dia tidak capek, gantung kayak gini. Tadi aku mencoba menelponnya. Baru aku jawab ini aku.. malah di tutup." Ucap Lucas begitu putus asa, layaknya remaja yang sedang galau diputus pacarnya.


" Kok kamu bisa tahu nomor Jingga ?" Tanya Lucas tidak terima.


" Maaf tuan."


" Kenapa kamu selama ini diam saja, kalau kamu tahu nomornya Jingga, dan lagi kenapa kamu simpan nomor istri saya ?" Tanya Lucas marah.


Tapi hanya menundukkan kepalanya, dia tidak mejawab pertanyaan tuannya itu.


"Maaf tuan, soalnya tuan tidak tanya saya." Jawab Jimmy.


Saya cuma jaga-jaga tuan, kalau tuan berbuat aneh-aneh.


Untuk sesaat Jimmy menyesali kebodohannya, kenapa juga dia harus mengusulkan menelpon istri tuannya itu.


" Kamu ya, saya potong bonus kamu bulan ini." Ucap Lucas marah.


" Baik tuan."

__ADS_1


Lucas masih saja melihat layar ponselnya, aplikasi whatsapp nama Jingga tertulis di kontak apalikasi itu.


Mencoba melihat foto Jingga di profil whatsaapnya. Sekedar melepas rasa rindunya.


Dahi Lucas mengerenyit, ah nggak mungkin, tadi masih ada ?


" Kok nggak ada, tadi ada ?" Ucap Lucas panik.


" Ada apa tuan ?" Tanya Jimmy.


" Ini, tadi Jingga masih pasang foto profil, kenapa sekarang malah nggak ada ?"


Jimmy mencoba mengambil alih ponsel tuannya. Dia ingin memastikan. Kenap ? Tuannya sampai panik seperti itu.


" Itu, Tuan... maaf, mungkin saya salah. setahu saya kalau foto profil di kontak kita nggak kelihatan seeprtinya itu, tanda kita diblokir sama orang itu. " Ucap Jimmy dengan sangat hati-hati.


Lucas melongo.


" Maaf tuan, bukannya saya lancang.... Sepertinya tuan harus lebih bersabar dan memberi nyonya Jingga waktu lebih." Tambah Jimmy.


" Waktu ?" Tanya Lucas dengan nada mengejek.


pria itu tertawa keras, seakan itu hal lucu.


" **** ! tiga tahun aku nunggu dia, sama sekali tidak mengganggunya masih kurang, dia anggap aku apa ? Aku masih suaminya, coba cari mana ada suami sepertiku ini, di gantung tiga tahun tanpa kepastian !" Teriak Lucas, dia benar-benar di penuhi emosi.


Semua berkas di meja dileparkannya ke lantai, saat ini dia benar-benar butuh pelampiasan.


" Apa dia tahu bagaimana aku selama tiga tahun ini ? Tidak kan ? Aku tahu aku salah, aku sudah minta maaf, mengemis bahkan bersujud meminta dia kembali. " Bagai bom yang sudah lama siap meledak, dan sekarang Booom ! Lucas benar-benar mengatakan semua keresahan hatinya yang selama ini ia pendam.


Jimmy hanya bisa diam, dia tidak tahu harus berbuat apa. Semua teriakan begitu menggema dia ruangan itu.


" Tidak bisa ! Persetan dengan waktu ! Aku akan membawa dia kembali, bagaimana pun caranya." Ucap Lucas dengan penuh ambisi.


Sudah cukup tiga tahun dia membuatku seperti ini ? Sudah saatnya aku membawanya kembali, bagaimanpun caranya ! Walaupun harus dengan cara kasar sekali pun !


Dan Lucas tersenyum licik.

__ADS_1


__ADS_2