CEO Dingin Yang Bucin

CEO Dingin Yang Bucin
Seasion 2. part 15


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Jingga sudah keluar dari apartemennya, perempuan itu sengaja berangkat pagi untuk menghindari bertemu dengan Lucas. Jingga sudah tidak ada muka lagi jika harus bertatapan dengan Lucas. Jingga tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya jika kembali bertemu dengan laki-laki itu. Karena setelah Lucas pergi dari unitnya, Jingga terus-terusan mengalami untuk tidak memikirkan Lucas. Coba bayangkan jika dia harus bertemu dengan laki-laki itu hari ini ? Entah kenapa Jingga merasa malu, bahkan, bahkan saat dia mendorong Lucas menjauh untuk menghentikan ciuman mereka. Tapi ketika laki-laki itu sudah pergi dari unitnya, rasa malu itu semakin bertambah berkali-kali lipat.


" Gila. Aku benar-benar sudah gila !"


Entah sudah berapa kali Jingga mengutuk dirinya sendiri. Dengan kata gila. Jingga menutup map di depannya dengan kasar. Bahkan setelah berganti hari isi kepalanya masih berputar-putar memperlihatkan visualisasi Lucas. Tidak hanya visual, isi kepalanya juga tidak berhenti melakukan reka ulang kejadian gila itu. Mulau dari bibir merwka bertemu dan kemudian saling *******, hingga saat tangannya dengan nakalnya menyisik tubuh Lucas .


Kamu benar-benar gila , Jingga ! Kenapa kamu bisa seliar itu !


Jingga mengurut dahinya yang mulai pening. Apalagi setelah itu dirinya dengan santai mondar-mandir hanya mengenakan kaos tipis yang dengan jelas memperlihatkan bentuk dan warna bra nya.Lucas pasti sedang menganggap Jingga sedang berusaha mengodanya. Jingga mengeleng pelan dengan sesekali meringis, kembali ia membenamkan wajahnya ke atas meja. Dirinya benar-benar tidak sanggup lagi menahan rasa malu ini lebih lama.


Jingga kembali mengangkat kepala dari meja saat merasakan keberadaan benda asing di ruangannya. Tiba-tiba matanya fokus dengan sesuatu yang berada di atas meja.


Dahi Jingga berkerut. Sejak kapan ada benda itu di sana ? Jingga menekan tombol pada telepon di atas meja kerja. tidak lama dari itu Risa, asistennya muncul.


" Ris... Siapa yang bawa masuk pot ini ?"


" Saya, Bu. Tadi kan, ibu juga ada diruangan waktu saya masuk."


Jingga mengerjap-ngerjapkan mata. Ternyata terlalu fokus dengan kenestapaannya, dirinya bahkan tidak sadar kalau Risa masuk ke dalam ruangannya dan meletakkan pot bunga itu disana.


" Oh iya, ya ? kayaknya saya lagi sibuk saat itu, jadi nggak ngeh. Makasih ya Ris."


" Iya Bu, sama-sama."


Setelah Risa sudah menghilang dari balik pintu. Untuk pertama kalinya Jingga bangkit dari kursi setelah berjam-jam duduk di sana. Langkahnya tertuju pastu kearah pot bunga yang diletakkan di atas meja sofa. Diambilnya kartu yabg tergantung di sana dan segera membacanya.


I hope you doing well today, Love. Karena aku juga luar biasa baik hari ini.


Aku harap kali ini kamu nggak balikin bunganya lagi.


Suamimu. Lucas.


Jingga menganga setelah membaca isi karty itu, apalagi pada kata suami di kartu itu. Dengan cepat dinkembalikannya kartu itu ketempatnya semula. Sambil menginggit bibir bawanhnya tanpa sadar dan mengipas-ngipas wajanya yang seketika menjadi panas. Jingga menggerutu pelan, sejak kemarin entah kenapa reaksinya sedikit tidak normal. Jika ia berurusan dengan Lucas.

__ADS_1


****


Lucas melangkah memasuki restoran dengan tenang. Pekerjaannya di kantor sudah selesai, dan hal pertama yang akab dirinya lakukan adalah menghampiri Jingga. Walaupun mereka sekarang tinggal dalam satu gedung, tapi sangat sulit untuk Lucas bertemu dengan wanitanya itu.


Sejak insiden kemarin Jingga seolah menghindarinya. Oleh karena itu saat ini dia ingin menghampiri perempuan itu.


Dan lagi mengingat kerjadian kemarin, Lucas rasa ia nggak salah bilang kalau Jingga sudah memiliknya. Karena memang faktanya Jingga masih berstatus sebagai istrinya.


Apalagi saat Jingga mengirim pesan padanya.


*From : Istriku


Terima kasih bunganya, udah aku terima*.


mendapat pesan itu, membuat Lucas semakin bersemangat untuk segera bertemu pujaan hatinya itu.


" Jingga-nya ada ?" Tanya Lucas pada Risa yang langsung menghampirinya di pintu masuk, seakan asisten Jingga itu memiliki radar akan kehadirannya. Entah apa yang Jingga tugaskan pada asisitennya itu sampai bisa seketat ini jika itu menyangkut kehadiran Lucas.


" Bu Jingga sedang ada tamu, Pak. Mungkin Pak Lucas mau menunggu ?"


" Laki-laki pak."


" Apa ? Laki-laki ?" Tanya Lucas memastikan, matanya sekana membalak tidak percaya. Laki-laki itu manarik napas sebanyak-banyaknya dan mengehembuskannya dengan kasar. Bisa di lihat ekspresi Risa yang tampak syok melihat reaksinya yang lumayan lebay.


Sialan, laki-laki mana yang berani deketin Jingga ?


" Mereka berduan di ruangan itu ?"


" Iya pak, mereka cuma berdu.....Loh Pak Lucas mau kemana ?"


" Saya masuk ke ruangan Jingga." Jawab Lucas. Setelah itu laki-laki itu dengan santai melangkah menuju ruangan Jingga. Seharusnya Lucas tidak bersikap santai dan mengendurkan waspadaan hanya karena kejadian kemarin. Seharusnya dia ada laki-laki lain yang berkeliaran di sekitar Jingga.


" Jadi maksud kamu, nanti di sini......"

__ADS_1


Jinggw menghentikan kalimat saat pintu ruangannya tiba-tiba terbuka. Baik dirinya dan tamu laki-laki itu yang tengah duduk di sofa sama-sama menoleh dan melihat siapa gerangan yang muncul di sana.


Untuk beberapa saat mata Jingga menyipit saat menemukan keberadaan Lucas di dekat pintu. Laki-laki itu terlihat diam sambil mengamati dirinya dan tamu Jingga secara bergantian. Namun, ketika Lucas mulai melangkah masuk, Jingga ikut buka suara.


" Kamu, kenapa ...."


Jingga tidak jadi menyelesaikan kala sebuah kecupan bersarang di kepalanya. Jingga melotot seketika.


" Aku mau jemput kamu, sayang." Ucap Lucas tiba-tiba duduk di sofa yang sama dengan Jingga.Tidak menyadari jika laki-laki lain di ruangan itu yang duduk berseberangan dengan keduanya tampak menegang atas apa yang ia lihat barusan.


" Kalian ngobrolin apa ? Aku nggak ganggu kan ?" Tanya Lucas pada Jingga yang bahkan sudah menggertakkan gigi menahan kesal sambil melotot padanya. Lucas tersenyum pada perempuan itu, ia tahu Jingga pasti sangat ingin mencincangnya saat ini. Tapi alih-alih takut, perempuan itu malah semakin menggemaskan dimatanya.


Sialan! Anadai hanya ada mereka berdua di ruangan ini, ingin sekali rasanya ia menghimpit Jingga lagi dan mengulangi kejadian kemarin. Apalagi saat perempuab itu sedang mengenakan kemeja fit body berwarna krem dengan bawahan celana slim fit hitam. Terasa pas dan nyaman jika kaki jenjang itu kembaku melingkari pinggangnya selama mereka berciuman. Ugh, memikirkan itu membuat Lucas tiba-tiba trun on.


" Maaf, Revan sedikit ada penganggu."


Lucas yang tadinya udah trun on gara-gara membayangkan Jingga, seketika lengsung trun off saat suara Jingga terdengar, terlebih kata penganggu, membuat dahinya berkerut.


"Penganggu ?" Tanya Lucas pada Jingga.


Tapi Jingga hanya diam, perempuan itu malah melototinya. Bertanda kamu harus diam !!!


Mendapati itu Lucas hanya tersenyum.


" Perkenalkan saya Lucas... sua...." Ajak Lucas berkenalan pada tamu Jingga, tapi belum selesai dia berucap Jingga tiba-tiba mencubit perutnya.


" Awh,, sakit sayang." Ucap Lucas sok manja.


" Maaf Revan, aku bawa keluar dulu orang ini." Ucap Jingga cepat, di dorongnya Lucas untuk keluar.


" Kenapa, aku mau tunggu kamu disini. Lagian aku nggak bakal ganggu kok." Ucap Lucas, dan tubuhnya seakan mengeras seakan tidak mampu digerakkan dan Jingga masih berusaha.


" Emang nggak masalah, Jingga. Kalau aku kita bahas urusan profesional kita sama orang yang nggak ada sangkut pautnya ?" Ucap Revan.

__ADS_1


Sontak membuat Lucas kesal, tangannya mengepal keras. Rasanya ingin dia melayangkan pukulan pada laki-laki di depannya itu.


Sialan laki-laki ini ! Cari mati dia !!


__ADS_2