CEO Dingin Yang Bucin

CEO Dingin Yang Bucin
Perang


__ADS_3

Siang ini Tsania segaja meluangkan waktunya untuk menemui Lucas, wanita itu berniat untuk berpamitan karena sudah tidak ada alasan lagi untuk nya bisa bertemu Lucas, walaupun dengan status sebagi teman lama, ia tidak bisa menggunakan itu. Tsania sadar diri, bagaimana Lucas menjaga jarak padanya.


Dan satu alasan yang kuat adalah Jingga, Tsania memang membenci Jingga, ingin membalas setiap perbuatan wanita itu, tapi semua niatnya sirna saat ia melihat bagaimana Lucas menjaga dan melindungi Jingga.


Dan oleh karena itu, untuk melepas kekalahannya, ia ingin bertemu dengan Lucas.


" Lucas." Panggil Tsania, saat tak sengaja berpapasan di loby kantor pria itu.


Lucas hanya menoleh, tatapan biasa, tidak ada senyum apalagi ucapan selamat datang.


" Ada apa ?" Tanya Lucas to the point.


" Nggak apa-apa, cuma mampir aja, besok aku mau pindah ke Bali."


" Oh, baguslah."


Bagus ?


wajah Tsania terlihat kecewa mendengar ucapan Lucas, begitu senangkah dia, melihat aku pergi.


" Aku cuma mau pamitan aja, sekalian ada yang mau aku omongin."


" Ok, ke ruanganku saja." Ajak Lucas, Tsania mengekor dibelakang Lucas, mengikuti pria itu.


Dari belakang, Tsnaia hanya bisa melihat sosok pria yang dulu begitu dekat dengannya, kini menjauh. Ada rasa tidak terima, tapi kini ia sadar, waktu telah berlalu, bisa merubah hati yang dulu ada, kini pergi.


Lucas mempersilahkan Tsania duduk di sebuah sofa di ruangan itu, dan Lucas duduk di depannya hanya terpisah meja antara mereka berdua.


" Mau ngomongin apa ?" Tanya Lucas, lagi-lagi pria itu selalu bicara tanpa basa-basi.


" Em... bukan apa-apa, hanya aku ingin mengucapkan selamat atas pernikahanmu, mungkin terdengar klise. dan terlambat, tapi jujur aku senang melihat dirimu yang sekarang." Ucap Tsania.


" Oh, terima kasih, aku juga berharap kamu juga cepat menyusul dan lupakan tetang masa lalu."


Raut wajah Tsania langsung berubah mendengar ucapan Lucas.


Masa lalu ? Apakah aku bisa melupakannya ? Dan sekarang melihatmu bahagia ? Bagaimana aku bisa menerima itu.


" Aku ingin kita kembali seperti dulu." Ucap Tsania lirih.

__ADS_1


" Kamu bilang apa ?" Tanya Lucas tidak mendengar dengan jelas gumaman Tsania tersebut.


" Nggak kok, bukan apa-apa."


Tiba-tiba ponsel Lucas yang di letakkan di atas meja bergetar. Lelaki itu melirik sejenak layar ponselnya, tersenyum singkat. Mengetikkan sesuai di sana dan setelahnya kembali meletakkan ponsel di atas meja. Melihat itu entah kenapa membuat Tsania sudah bisa menebak siapa yang sedang bertukar pesan dengan lelaki itu.


Entah kenapa, untuk terakhir kali, Tsania ingin memastikan.


" Em... Boleh aku tanya ?" Tanya Tsania.


" Apa ?"


" Apa yang membuat kamu suka dari Jingga ?"


" Tidak ada." Jawab Lucas cepat, tanpa berpikir, Tsania yang melihatnya merasa heran.


" Tidak ada ?" Tanya Tsania memastikan.


" Iya, hanya saja aku tidak bisa hidup tanpa dia."


JLEB Jawaban yang singkat dan jelas, tidak ada penjelasan yang berlebihan, tapi dengan jelas Tsania tahu.Sudah tidak ada alasan lagi untuk dia berada di sisi Lucas.


" Maksud kamu ?"


" Iya, dulu cuma aku yang bisa dekat dengan kamu."


" Dan kamu lupa, dengan siapa akhirnya kamu menjalin hubungan ?" Tanya Lucas dengan pedasnya.


" Rasanya aneh, kamu yang dulu dingin kepada wanita, kini bersikap lemah bahkan tunduk pada Jingga, dia tidak pantas bersanding denganmu, kamu tahu betul riwayat keluarganya gimana, aku benar-benar tidak pernah membayangkan jika orang seperti dia menjadi istrimu."


Lucas mulai emosi mendengar ucapan Tsania.


" Tsania, saya kira...."


" Aku menyukaimu Lucas." Ucap Tsania tanpa sadar, entah keberanian dari mana, kata-kata itu bisa keluar dari mulutnya.


Lucas menarik nafas panjang setelah mendengar ucapan itu.Memijat keningnya karena frustasi.


" Aku sudah menikah Tsania, terlebih aku cuma menganggapmu teman, tidak lebih."

__ADS_1


" Kita bisa kembali seperti dulu, aku yang lebih mengenalmu, bukan dia."


" Dengar, aku menghargai perasaanmu terhadapku, tapi aku pikir kamu sudah terlalu melewati batas dengan berbicara seperti ini.


" Aku hanya.... tidak ingin kita seperti ini, aku ingin kita kembali seperti dulu, kamu selalu ada buatku, dan hanya aku yang mengerti kamu."


" Tsania cukup ! Kamu dari tadi bicara masa lalu ? Sekarang aku tanya ? Wanita apa yang mempermainkan perasaan dua pria. Kita memang dekat. Itu dulu . Dulu kamu lebih memilih Hiro, dari pada aku. Aku terima. Sekarang kamu bicara, ingin kembali seperti dulu. Dulu kita tidak memiliki Kisah. Kisah kita hanya sebatas teman tidak lebih." Ucap Lucas dengan keras.


" Sekarang aku sadar, kamu yang terbaik, dan aku lebih baik dari Jingga."


" Apa maksud kamu lebih baik ? Kamu......"


" Jadi maksudmu, ****** sepertimu yang seharusnya bersama Lucas ? Iya ?" Potong Jingga, sontak membuat Lucas dan Tsania sama kegetnya.


Baik Lucas dan Tsania menoleh kearah pintu, bahkan Lucas sampai harus berdiri dari duduknya melihat Jingga yang sudah berdiri di sana. Istrinya itu tampak bersedekap dan menatap Tsania dengan senyum mengejek, Lucas segera melangkah menghampiri Jingga. Lelaki itu mencoba meraih tangan Jingga untuk mengajaknya keluar. Tapi Jingga menepis tangan itu, menolak dan malah berjalan semakin mendekati Tsania.


" Harus banget ya mengemis cinta ke suamiku ?" Tanya Jingga dengan sinisnya.


" Jingga." Tegur Lucas.


" Kamu seharusnya, lihat dulu lawanmu seperti apa, Apa semua yang udah aku tunjukkan masih kurang ?"


" Aku lebih mengenal Lucas, dia pernah menyukaiku."


" Woah, bisa jawab juga. Ternyata kamu lebih licik dari yang aku kira.Selama ini aku salah menilaimu. Sayang, lihatlah teman mu ini, kayaknya dia nggak tahu secinta apa kamu padaku."


Melihat Jingga sudah semakin panas, Lucas kembali menghampiri sang istri, perkiraannya meleset. Ia kira Tsania tidak akan bicara lagi, karena sudah jelas Seperti apa Ucapan Lucas tadi. Celakanya Tsania semakin memancing emosi Jingga.


" Kita keluar ya, kamu mau makan siang kan." Ajak Lucas. Ya sebenarnya tadi mereka berdua sudah janjian untuk makan siang bersama. Dan Lucas tidak menyangka Jingga akan datang lebih awal dari jam yang sudah mereka rencanakan.


" Makan siang ? Aku bahkan lebih kepengen makan orang sekarang."


Mata Jingga masih menatap tajam Tsania, namun selayaknya bermuka tembok. Perempuan itu malah menatap Lucas.


" Lucas, aku permisi dulu, mungkin nanti kita akan bicara lagi."


Dan setelah mengatakan itu, Tsania berjalan dengan santainya, melewati Jingga. Melihat itu semakin membuat darah Jingga mendidih.


" Berhenti."

__ADS_1


__ADS_2