CEO Dingin Yang Bucin

CEO Dingin Yang Bucin
Sakit


__ADS_3

Pagi ini Jingga terbangun dengan sakit kepala yang luar biasa, ia segera berlari ke kamar mandi saat merasakan perutnya yang mual.


Dengan selimut yang menutupi tubuh polosnya, Jingga mengeluarkan isi perutnya, dan Lucas yang menyadari itu, membantu istrinya.


Dia tidak peduli dengan usiran Jingga, dia tetap memegamgi rambut Jingga seraya memijit tengkuk istrinya, karena menurut wanita itu, dia dalam kondisi menjijikkan dan Lucas tidak boleh melihatnya.


" Apa kamu tidak apa-apa ?" Tanya Lucas khawatir, melihat kondisi istrinya yang terlihat pucat.


" Tidak, aku baik-baik saja, mungkin hanya masuk angin saja."


" Tidurlah, aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu." Ucap Lucas sembari menuntun istrinya untuk tidur di atas ranjang.


" Tidak perlu, istirahat sebentar akan membuatku kembali pulih."


" Tidak, dokter akan memeriksamu."


" Tidak perlu."


" Jingga !" Ucap Lucas dengan tatapan mata yang tajam, penuh dengan intimidasi.


Percayalah saat ini Lucas tengah menahan kemarahannya, Jingga sangat keras kepala, gadis itu seperti tidak tahu betapa khawatirnya Lucas melihat keadaan Jingga seperti ini.


" Baiklah." Ucap Jingga menyerah, setiap berdebat dengan Lucas dia tidak akan pernah menang. Entah kenapa setiap kata yanh Lucas ucapkan seakan penuh penekanan yang tidak mampu terbantahkan.


" Sekarang pakai bajumu, dan kembali lah istirahat, aku akan meminta Nisa membuatkan sarapan untukmu."


Oh ya, aku belum memakai baju, bagaimana bisa aku lupa.


Jingga mengitip tubuhnya di balik selimut yang menutupinya, sungguh sangat polos tanpa sehelai benang yang menutupinya.


Jingga melihat ke arah Lucas, gadis itu betapa kesal, bagaimana hanya dia yang polos tanpa pakaian sedangkan Lucas sudah memakai kaos dan memakai boxer.


" Tunggu dulu, kenapa hanya aku yang tidak pakai baju ?" Tanya Jingga.


" Tadi malam, selesai kita olah raga malam, kamu langsung tidur." Ucap Lucas dengan entengnya seakan tanpa dosa.


" Terus, kenapa kamu tidak membangunkanku untuk memakai baju ?"


" Tidak, aku suka melihatmu tanpa baju. Sudah jangan banyak bertanya, cepat pakai baju, apa kamu mau dokter memeriksa kamu dalam keadaan seperti ini.

__ADS_1


" Boleh, tidak apa-apa." Goda Jingga.


" Jingga ! " Ucap Lucas dengan keras, kali ini sorot matanya tajam mengisyaratkan kemarahan besar.


Jingga di buat takut oleh tatapan itu, tanpa menunggu lama gadis itu bergegas mengambil pakaian dan segera berlari menuju kamar mandi, gadis itu tidak tertekan dengan tatapan itu.


Lucas yang melihat itu hanya tersenyum tipis.


Tak lama Jingga keluar dari kamar mandi.


" Apa kamu mandi, badanmu kurang sehat, jangan mandi dulu ?" Tanya Lucas, melihat wajah Jingga yang basah.


" Tidak, aku hanya mencuci muka dan mengosok gigi."


" Baguslah, cepat istirahat." Ucap Lucas, dengan penuh perhatian pria itu menuntun kembali istrinya ke atas ranjang.


Jingga menganggukkan kepalanya menanggapi itu.


" Aku akan turun, meminta Nisa untuk membuatkanmu sarapan." Ucap Lucas, lalu bergegas keluar dari kamar itu.


" Apa kamu akan turun hanya menggunakan boxer seperti itu ?" Tanya Jingga.


" Iya."


" Kenapa ?"


" Aku tidak suka orang lain melihatmu seperti itu."


" Baiklah." Ucap Lucas, senyum dibibirnya tidak bisa hilang, melihat sikap Jingga yang begitu over protektif terhadapnya, dan Lucas menyukai itu.


Lucas mematuhi perintah istrinya itu, dan begegas memakai celana panjang, tidak terlalu panjang yang sampai mata kaki, tapi celana yang panjangnya selutunya, setidaknya itu lebih baik dari pada hanya keluar kamar menggunakan boxernya yang sangat pendek tadi.


1 jam berlalu, bukannya istirahatnya, Jingga malah bermain dengan ponselnya. sesekali gadis itu menoleh ke arah pintu, berharap Lucas masuk kedalam ruangan itu.


Kemana Lucas pergi ? Kenapa dia belum kembali ?


Jingga cukup gusar, karena Lucas tak juga kembali, tapi kegundahan tergantikan dengan senyuman saat melihat sosok pria yang ditunggu membuka pintu dengan membawa nampan berisikan makanan.


" Kamu kemana, Kok lama ?" Tanya Jingga.

__ADS_1


" Kenapa, apa kamu merindukanku ? Aku membuatkan sarapan untukmu ." Ucap Lucas.


" Kamu membuat sendiri makanan ini ?" Tanya jingga tidak percaya, semangkuk bubur yang begitu menggugah selera yang ada diatas nampan buatan Lucas ? Jingga tidak percaya.


" Iya, kenapa kamu nggak percaya aku bisa masak ?"


"Tidak sama sekali."


" Baiklah, aku buang aja makanan ini, udah dibuatin makanan bukannya dipuji ." Ucap Lucas pura-pura kesal.


" Jangan, aku akan memakannya, dengan sigap Jingga meraih mangkuk berisikan bubur itu, tanpa menunggu lama dengan lahapnya gadis itu menyatap makanan itu.


" Enak ?" Tanya Lucas.


" Enak, aku baru tahu kalau kamu pintar masak."


Lucas tersenyum mendengar pujian istrinya itu, pria itu senang masakannya disukai oleh Jingga.


Tak lama dokter datang, diikuti Jimmy dibelakangnya.


Dan segera memeriksa Jingga.


" Bagaimana dokter, istri saya tidak kenapa-napa kan ?" Tanya Lucas khawatir.


" Semua baik-baik saja tuan, hanya saja Nyonya mengalami anemia, apa beberapa hari ini nyonya susah tidur ?" Tanya dokter itu.


" Ya, setiap malam aku tidak bisa tidur dok." Ucap Jingga seraya melirik kearah Lucas yang sedang membuang muka, karena menyadari Jingga meliriknya dengan tatapan menyindir.


" Oh begitu, kalau begitu saya akan meresepkan obat, tidur, tapi saya tidak menyarankan untuk meminumnya setiap hari, lebih baik nyonya Jingga berusaha untuk tidur tanpa bantuan obat."


" Baik dok, terima kasih, Jimmy antarkan dokter keluar." Ucap Lucas, dia tidak mau mendengar lagi penjelesan dokter, karena itu seperti mengingtkan dia kalau penyebab Jingga sakit karena dia.


" Kenapa ?" Tanya Lucas pada Jingga, karena istrinya itu terus menatapnya sambil tersenyum.


" Nggak apa-apa, cuma mengingatkan, kamu denger kan kata dokter, aku harus banyak tidur."


" Iya aku tau, sekarang istirhatlah." Ucap Lucas.


Jingga tersenyum penuh kemenangan, bagaimana tidak karena hampir tiap malam, Lucas seakan tidak membiarkan dia tidur, pria seakan tidak ada lelahnya untuk berhubungan dengannya, Jingga seakan tidak bisa menolak, karena Lucas selalu tiba-tiba menyerangnya dan Jingga tidak bisa menolak itu.

__ADS_1


" Kamu tidak kerja ?" Tanya Jingga, saat Lucas tiba-tiba tidur disampingnya dan memeluknya.


" Tidak, aku juga butuh tidur, aku setiap malam juga tidak tidur." Ucap Lucas, seraya mempererat pelukannya.


__ADS_2