
" Lucas."
Suara Jingga terdengar menyebut nama suaminya itu. Lucas mengangkat kepalanya, karena sedari tadi dia tidak punya keberanian untuk mengangkat kepala dan menatap Jingga.
" Ini tidak benar kan ? Aku percaya padamu, jika kamu bilang ini semua bohong, aku akan percaya. Jadi katakan, jangan diam seperti orang bodoh !" Suara Jingga bergetar. Saat ini Lucas bisa merasakan luka dari cara pandang istrinya itu kepadanya.
" Lucas jawab !" Teriak Jingga, dia benar-benar sudah tidak bisa menahan perasaannya saat ini.
" Maaf, aku benar-benar minta maaf Jingga."
" Maaf ?" Tanya Jingga memastikan, dia saat ini tidak sedang mimpi kan, atau memang ada masalah dengan telinganya.
Bukan ini jawaban yang mau aku dengar Lucas !!
Dan tanpa mengatakan apapun, Jingga melangkah mudur semakin jauh, memutar tubuh dan kembali melangkah menjauh, meninggalkan sejuta kekecewaan dibelakangnya.
Kali ini air mata tak lagi turun membasahi pipinya, padangannya lurus kedepan, menatap nanar pintu didepannya.
Melihat itu Lucas, melangkah mendekat, saat ini dia memang tidak bisa berkata apa-apa lagi, semua sudah jelas, tapi dia tidak ingin diam saja, dia harus menahan dan meminta maaf kepada Jingga, entah bagaimana caranya, bersujudpun akan dia lakukan asal Jingga tidak meninggalkannya.
" Berhenti di situ, jika kamu mendekat aku akan..." Ucap Jingga sedikit mengancam, karena langkah Lucas terdengar jelas ditelinganya.
__ADS_1
" Tidak... please..jangan ." Ucap Lucas memohon, suara Lucas tidak kalah bergetar, entah dia seakan tahu apa yang ada dipikiran Jingga.
" Kenapa, kenapa kamu bisa melakukan itu ?" Tanya Jingga, Suara Jingga sangat pelan, tapi Lucas bisa mendengar itu.
" Aku... Aku tidak tahu, malam itu aku minum dengan Tsania, dan bangun aku sudah...." Lucas tidak bisa melanjutkan ucapannya, itu seakan mengingatkannya tentang kebodohannya.
" Kamu minum dengan Tsania ?" Tanya Jingga dengan sinisnya diiringi tawa kecil mengejek.
" Aku bener-bener bodoh, malam itu Tsania memohon, dia ingin bicara sebentar, karena dia berjanji tidak akan menemuiku lagi setelah itu."
" Dan ternyata malam itu, kalian...?"
" Aku minta maaf Jingga, aku benar-benar minta maaf, aku tidak ada niat untuk menghianatimu, malam itu hanya kesalahan, tidak akan lagi terulang kembali." Ucap Lucas, ia semakin mempererat pelukannya.
Tapi Jingga, hanya diam. Wajahnya terlihat dingin.
Kesalahan ?
Jingga tersenyum sinis.
" Sialan."
__ADS_1
Umpatan itu terdengar bersamaan dengan Jingga yang meraih Lucas, di lahapnya bibir itu dengan sama keras dan basahnya. Diciumnya Lucas dengan rasa frustasi yang sudah tidak bisa ia bendung lagi. Isi kepala maupun benaknya bergejolak dalam kurun satu jam ini, iti hanya bisa dilakukan oleh seorang Lucas Arkana Putra, pria yang dicintainya dan saat ini memporandakan hati dan pikirannya.
Bahkan Jingga tidak tahu rasa asin yang menyerang lidahnya adalah dari air mata Lucas atau mungkin miliknya sendiri. Yang jelas, Jingga hanya ingin menuntaskan gejolak batin yang sejak tadi menyerang benaknya dengan berada sedekat mungkin dengan suaminya itu.
Dengan satu dorongan kasar, masih dengan bibir yang saling mencecap satu sama lain, Jingga membawa tubuh mereka ke atas ranjang, mereka sudah saling melucuti pakaian satu sama lain. Ketika Lucas semakin membawa tubuhnya merapat, instingnya yang bangsat dengan cepat terkoneksi dengan cara membawa tubuh itu ke kedalam pelukan dan kemudian mengangkatnya, meletakkannya dipangkuannya.
Lucas mengerang saat sesatu masuk kedalamnya, gerakan naik turun mengikuti ritme permainan.
Meski begitu nyatanya Jingga tidak berniat untuk menghentikan jelajahan yang dilakukan bibirnya disekujur tubuh Lucas, menjilat apa yang bisa dijilat dan ******* apa yang bisa ia cerup, bagaikan lagu bermelodi indah, lenguhan dan ******* Lucas menjadi baksound yang mengiringi penelusaran lidah Jingga.
Bertahan dalam kondisi half naked, seakan menyadarkan Jingga.
Dia akan membuang sisa Tsania di tubuh suaminya, tidak akan membiarkan jejak disana.
Hingga keduanya telah mencapai kepuasan, saling mengatur nafas yang terengah-engah.
Saling berpelukan, dengan eratnya. Mata saling menatap dalam-dalam,Tapi tidak ada yang bicara.
Mulut seakan enggan untuk berucap, mungkin hanya mata mereka berdua yang bisa bicara.
Dan setelah ini entah apa yang akan terjadi antara mereka berdua, entahlah..
__ADS_1