
" Kamu mau kemana ?" Tanya Jingga, saat melihat Lucas sudah bersiap memakai jas hitamnya.
Ya ini masih terlalu pagi untuk mereka bangun di kegiatan libur mereka, terlebih tadi malam mereka seperti tidak ada waktu untuk tidur.
" Pulang." Jawab Lucas singkat.
" Pulang ? Sekarang ? " Dilihatnya jam di dinding masih menunjukkan pukul tujuh pagi.
" Iya."
" Kan janjinya kita disini 4 hari, ini baru 3 hari." Ucap Jingga kecewa.
" Aku ada kerjaan yang tidak bisa ditinggal sayang, ayo siap-siap."
Jingga diam, ia sangat kecewa.
" Aku tetap di sini ya ?"Tanya Jingga memohon.
" Tidak."
" Sayang ?!" Jingga sudah memasang wajah sedih dan memelas, berharap Lucas mengabulkan permintaannya.
Melihat itu Lucas hanya bisa menghela nafas berat.
" Ok, tapi ada satu syarat."
" Apa ?" Tanya Jingga antusias.
" Sini bikini nya ?"
Bikini lagi ? Dia belum menyerah ?
" Tapi...kamu..udah.."
" Tetap disini apa ikut aku pulang ?" Potong Lucas dengan nada ancaman.
" Di sini." Jawab Jingga sedih.
" Pintar, mana ?"
Mulut Jingga sudah cemberut sangking kesalnya. Dengan langkah berat ia mengambil bikini yang sudah ia bawa, di serahkannya pada pada suaminya itu.
Sempat terjadi tarik ulur dalam transaksi itu, ya Jingga msih berat melepas bikini itu, dan Lucas sudah tidak tahan ingin mengambilnya.
Tapi ingat, siapa yang selalu menang dan benar ? Ya Lucas, pria itu seakan memegang kendali penuh dalam hidup Jingga.
__ADS_1
" Oh ya, nanti akan ada pengawal yang bakal ngikutin kamu."
" Pengawal ?"
" Iya."
" Kenapa, pakai pengawal segala sih ?"
" Harus, itu salah satu syarat kamu bisa tetap liburan disini."
" Ah..Sayang jangan gitu dong, aku disini ada Riva, nggak bakal kenapa-kenapa."
" Karena kamu disini cuma sama Riva, makanya aku nyuruh pengawal ngikutin kamu kemana saja. Kalian wanita, kalau ada apa-apa gimana ?"
Please Lucas ? Jangan lebay kayak gini ?
" Jingga !" Ucapan Lucas begitu berat, penuh dengan itimidasi, seakan Jingga tidak boleh menolaknya.
" Ok ok , aku nurut sama kamu."
" Pintar, oh ya besok sore langsung pulang ya, aku udah pesenin tiket buat kalian." Ucap Lucas ,sembari mengelus lembut ujung kepala istrinya itu.
" Iya." Jawab Jingga malas.
Banyak pekerjaan menanti Lucas dan Jimmy, setumoik berkas sudah menanti mereka, Lucas mencoba fokus pada pekerjaannya, tapi lagi-lagi dia tidak bisa, pikirannya dengan Jingga, baru beberapa jam tidak ketemu, pria itu sudah sangat merindukan istrinya itu.
" Tuan, nona Tsania sudah menunggu ?" Ucap Jimmy, yang langsung membuyarkan lamunan Lucas tentang istrinya.
" Suruh dia masuk."
" Baik."
Dan tak lama Tsania masuk keruangan Lucas, wanita yang dulu pernah ada di hati Lucas itu, masih tetap cantik. Tapi Lucas tidak lagi menaruh hati padanya, karena hati dan hidupnya sudah ia serahkan pada wanita yang sangat di cintainya, Jingga.
Baginya saat ini mereka hanya teman lama dan patner kerja.
" Kamu baru pulang liburan ?" Tanya Tsania basa-basi, karena setelah kejadian itu, Lucas menjadi sangat dingin padanya.
" Ya."
" Aku denger istri kamu masih di Bali ya ?"
Tapi sayangnya, Lucas tidak berminat menjawab pertanyaan Tsania itu.
" Kamu ke sini mau bahas kerjaan apa bahas yang lain ?" Tanya Lucas tanpa basa-basi.
__ADS_1
Mendengar itu, Tsania sangat kecewa,
" Sorry, ayo kita mulai." Ucap Tsania.
" Oh ya kamu, apa kamu lupa hari ini tanggal berapa ?" Tanya Tsania, di sela rapat mereka , dari nada ucapannya terdengar bergetar, seakan menahan rasa sedih .
Hari ini ? Tanggal 27....
Ya hari dimana kakaku pergi untuk selamanya.
" Apa kamu mau bareng, aku setelah makan siang mau kesana ?"
" Ya." Jawab Lucas singkat.
Hari ini, luka lama yang sudah mulai di lupakan, kini terkorek kembali, masih teringat jelas di pikirannya saat itu, bagaimana hancurnya dia, bagaimana dia ingin mengakhiri hidupnya, putus asanya dia, sosok kakak yang selalu ada untuknya meninggalkannya untuk selamanya.
Jika bukan karena Jingga, entah seperti apa sekarang, entah sadar apa tidak, alasan Lucas bertahan saat itu adalah Jingga, gadis kecil yang menyelamatkan hidupnya, memberi arti yang membekas di hidupnya.
****
Jam makan siang telah usai, seperti yang sudah mereka rencanakan, Lucas dan Tsania berkunjung ke makam Hiro, sosok lelaki yang sangat berarti di hidup mereka berdua.
Tak ada suara di dalam mobil itu, baik Lucas, Tsania dan Jimmy yang mengemudi, sama sekali tidak bicara. Lucas dan Tsania saling membuang pandangan keluar jendela, melihat hiruk pikuk sibuknya kota di siang ini
Entah karena memang tidak ada bahan pembicaraan atau bahkan mulut mereka sama sekali tidak ingin berucap.
Jika bisa di bilang hati dua manusia yang duduk di kursi penumpang itu, dalam kondisi tidak baik-baik saja. Luka lama mereka berdua terkorek kembali, ingatan sedih dan putus asa terbayang nyata di ingatan mereka, rasa sedih mengingat betapa bahagianya mereka bertiga dulu.
Tak lama mereka sampai di makam Hiro, lagi-lagi tidak ada yang bersuara, rasa sedih mereka berdua, di sembunyikan di balik kaca mata hitam yang terpakai.
Tapi Tsania tidak bisa menahannya, air matanya membasahi pipinya, rasa sedih dan rindu berkecamuk di hatinya, pria yang dulu di cintainya, sudah terkubur di bawah sana.
Lucas yang melihat itu merasa iba, di sodorkannya sapu tangannya pada Tsania.
Pria itu bisa merasakan kesedihan wanita yang saat ini berdiri di sampingnya itu.
Di pegang pundak Tsania, sekedar untuk menguatkan.
Tsania yang merasakan tangan Lucas di pundaknya seketika menoleh ke arah pria itu.
Sorot matanya penuh kesedihan.
Andai kamu tidak berubah, aku rasa aku bisa kuat dan bahagia bersamamu. Aku rindu kita yang dulu.
Lucas tidak menyadari tatapan itu, karena dia sendiri bersikap tidak peduli, tindakannya saat ini baginya tidak berarti apa-apa, tidak lebih dari simpati, melihat wanita yang di cintai kakaknya sedang bersedih hati.
__ADS_1