
" Kenapa, ada apa ? Itu mulut ngomel mulu' ? Tanya Riva. Gadis itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, mendapati sahabatnya itu, datang ke kosnya sambil marah-marah nggak jelas.
Keningnya berkerut menatap Jingga yang saat ini duduk disampingnya, bagaimana tidak, Mulut Jingga begitu sibuk mengomel sambil makan snack yang ada di tangannya.
" Jangan bilang, kamu kabur ?" Tanya Riva, ia mencoba menabak alasan sahabatnya saat ini berada disini.
Dan seperti dugaannya, dengan entengnya Jingga menganggukkan kepalanya.
" Aku baru aja berantem."
" Terus ?"
" Aku berantem sama pelakor ?"
" Pelakor ? Serius ?" Riva begitu bersemangat, ia berubah posisi duduknya, menyila dan menghadap sahabatnya itu, kupingnya sudah stand by mendengar setiap detik dari peristiwa besar yang baru saja di alami Jingga.
" Siapa yang menang ? Bentar-bentar, kalau ngelihat kamu sekarang, kayaknya kamu yang menang ?"
" Itu kamu tahu."
Riva menganga menatap Jingga.
" Bagus ! Jangan jadi istri lemah, menje-menje apalagi nanggis lihat suami selingkuh ."
" Selingkuh ?"
" Iya, suamimu selingkuhkan, dan kamu baru aja ngelabrak pelakor itu."
Selingkuh ? Lucas tidak selingkuh ! Hanya saja dia membela wanita ular itu.
Jingga kembali emosi mengingat kejadian tadi, saat Lucas terlihat begitu melindungi Tsania.
" Lucas nggak selingkuh, tapi ada wanita ular yang mencoba menggoda suamiku." Ucap Jingga berapi-api, snack yang ada di tangannya sudah diremasnya kuat-kuat, untuk melampiaskan kekesalannya.
" Terus, kamu apa in itu wanita ular ?"
" Aku jambak rambutnya, sampai rontok itu rambut." Tangan Jingga sibuk memperagakan bagaimana ia menjambak rambut Tsania tadi.
" Tunggu, dulu. Suamimu nggak selingkuh, wanita ular itu juga udah kamu hajar, terus sekarang ngapain kamu kabur ?"
" Ya aku kesal aja, kalau ingat Lucas. Tuh orang bisa-bisanya bentak aku di depan wanita ular itu, dia bilang aku nggak tahu sikon lah gara-gara berantem, kayak dia belain itu wanita ?"
" Belain gimana ?"
__ADS_1
" Ya dia, mencoba menghentikanku saat aku lagi jambak itu wanita ular."
Dan lagi-lagi, Riva hanya bisa menggelengkan kepalanya.
" Kalau Lucas tidak menghentikanmu, itu wanita pasti udah mati." Ucap Riva dengan polosnya.
" Iya juga, habis aku emosi banget. Dia bilang aku nggak pantes lah, nggak sepadan dengan Lucas, dan kamu tahu dia pernah ngirim foto sexy, dan lebih parahnya dia tanya aku bisa muasin Lucas apa nggak ? Gila nggak sih, itu wanita. Ya udah aku kasih lihat aja, gimana aku muasin Lucas. Sayang aja tadi, nggak aku ajak gelud itu wanita ular, dia aku maki-maki dengan sejuta sarkasme yang aku punya, Tapi, itu wanita masih bisa jawab dengan sombongnya, langsung aku jambak aja rambutnya."
Riva tidak tahu harus berkata apa lagi, sosok wanita di depannya saat ini sungguh luar biasa. Riva menyebutnya wanita berani, bisa-bisa nya dia dengan entengnya memperlihatkan hal intim seperti itu.
" Kukira kau cupu, ternyata suhu." Ucap Riva kagum, kedua tangannya menepuk bangga pundak Jingga.
" Dia cantik nggak sih ?" Tanya Riva.
" Aku akui cantik, tapi sayangnya kelakuan,nggak secantik wajahnya, body bagus, ya tipe-tipe wanita sosialita lah, pakaian brand terkenal, sepatu hak tinggi selalu terpakai. Tapi sepertinya dia nggak tahu, orang dingin kayak Lucas, suka-sukanya wanita polos kayak.gini." Ucap Jingga menyombongkan dirinya.
Tapi Riva memundurkan kepalnya, menatap Jingga dari atas sampai bawah.
Polos dari mana ? Nggak ada wanita polos yang mempelihatkan adegan ranjangnya dengan santai.
" Dia nggak tahu apa ? Lawannya siapa ?" Ucap Jingga bangga.
Hingga tiba-tiba ponsel Riva bergetar, terang saja perempuan itu langusng menyeletuk.
" Udah nggak usah di angkat."
" Jangan ah, aku udah lama nggak denger suaranya." Ucap Riva dengan centilnya.
" Dasar ganjen." Ucap Jingga ngeledek.
" Biarin, yang penting gue nggak ganjen sama suami orang."
" Jangan bilang aku ada disini, itu pasti Lucas yang nyuruh, aku lagi males sama dia."
Riva menganggukan kepalanya, mendengar instruksi sahabatnya itu.
Dengan suara lembut Riva mengangkat telfon itu.
" Hallo."
" Mana Jingga ?"
Lucas ?
__ADS_1
Tiba-tiba raut wajah Riva berubah, dari senang menjadi tegang, mendengar bukan suara Jimmy, yang terdengar di telinganya. Riva hafal betul suara berat Jimmy, pria itu selalu sopan ketika menelfonnya, walau itu hanya sekali ia mendengarnya.
" Aku suaminya Jingga, dia di tempatmu kan ?"
Riva diam sesaat, menatap Jingga yang sedang asyik dengan snack di tangannya. Jingga bersikap biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa, dengan santainya ngemil tanpa ia tahu suaminya sibuk mencarinya.
" Tolong jaga dia, nanti malam aku akan menjemputnya, ada pekerjaan kantor yany tidak bisa aku tinggalkan, setelah selesai aku akan menjemputnya." Ucap Lucas, dan tiba-tiba memutus panggilan itu, tanpa menunggu jawaban dari Riva.
" Jingga, yang telfon barusan suamimu, katanya aku di suruh jagain kamu, nanti malam dia akan menjeputmu, sekarang ada pekerjaan, yang tidak bisa ia tinggalkan."
" Dia cuma bilang begitu ? Suruh jagain aku ?"
" Iya."
" Emang aku anak kecil, pakai di titipin segala."
" Dia kan mesti kerja, realistis aja."
" Dasar nggak peka, samperin kek, bujukkin istrinya, dia sadar nggak sih, aku lagi marah sama dia ?"
" Dia sibuk Jingga, dia orang sibuk." Riva mencoba mengingatkan, ia kesal sendiri melihat tingkah Jingga.
Jingga kembali kesal, di raihnya ponsel di dalam tasnya.
Mati. Ya, tadi ia sengaja mematikan ponselnya, dan untuk saat ia ingin mengaktifkan ponselnya. Ia penasaran apa Lucas menghubunginya, atau mengirim pesan minta maaf karena sudah membentaknya.
Tapi sayangnya, ia tidak mendapati pesan dari suaminya, yang ada malah pesan-pesan nggak penting
dari pinjol.
Jingga cemberut, di telfonnya Lucas.
" Denger ya ! Aku nggak mau tahu, jemput aku sekarang di tempantnya Riva ! Kalau kamu sayang sama aku, buktiin !"
Jingga segera memutuskan panggilan dan Riva hanya bisa cengo dibuatnya.
" Kamu nelfon Lucas ?" Tanya Riva.
" kali ini, aku yakin dia bakal dateng, kamu lihat aja, dia baka jemput aku sekarang ?" Ucap Jingga yakin.
Riva lagi-lagi hanya bisa menarik nafas panjang, mencoba menahan emosinya, bagaimana tidak emosi, melihat tingkah Jingga, yang keras kepala, sudah menguras emosinya.
Yang berantem siapa ? Kok aku yang pusing .
__ADS_1
" Terserah dah."