CEO Dingin Yang Bucin

CEO Dingin Yang Bucin
seasion 2. part 9


__ADS_3

" Dengar ya Lucas, aku belum berpikir apalagi berniat untuk kembali !" Ucap Jingga penuh penekanan.


" Kenapa ?"


" Kenapa ? ya, karena tiga tahun ini aku mulai terbiasa sendiri."


" Aku memberimu waktu sendiri, bukan untuk membuatmu terbiasa jauh dariku. Kamu yang dulu minta waktu untuk sendiri, aku turuti. Kamu minta aku jangan ganggu kamu. Aku turuti. Tiga tahun Jingga, aku nunggu kamu. Dan sekarang kamu bilang, kamu terbiasa sendiri. Hahaha.... Kamu anggap aku apa ? Ha ? Jawab ? Kamu anggap aku apa ?" Lucas mulai frustasi memdengar ucapan istrinya, di longgarkannya dasi yabg sedari tadi mengikat di lehernya, saat ini dia seakan butuh oksigen lebih. Dadanya terasa sesak.Pikirannya benar-benar kacau.


Jingga hanya diam. Dia sendiri bingung. Kenapa hatinya begitu berat untuk kembali. Sejujurnya dia sudah tidak memikirkan masalah tiga tahun lalu, waktu suaminya itu bersama Tsania. Tapi entah kenapa hatinya seakan berat.


" Jika kamu tidak niat kembali, kenapa kamu balas ciumanku waktu direstoran ?" Tanya Lucas.


Mendengar itu mata Jingga melotot, Jingga gelagapan, dia bingung harus menjawab apa. Dia sendiri menyesali kebodohannya. Entah kenapa saat Lucas mulai mendekatinya dan menyentuhnya dia seakan hilang kendali.


Wajahnya seketika merah padam.


" Aku..... "


" Ya memang setelah itu kamu tiba-tiba melintir tangan aku. Tapi aku masih ingat betul, gimana lidah kamu bergerak di mulutku malam itu." Potong Lucas. Pria terlihat tenang. Beranjak berdiri mendekati istrinya itu.


Jingga yang menyadari itu mulai tahu, bahwa alarm tanda bahaya telah berbunyi. Dengan segera dia menggeser duduknya ke tepi sofa.


Dan lagi Jingga masih tergagap mendengar kalimat tidak senonoh itu keluar dari mulut Lucas.


" Me-mang salah ? Kita masih suami istri ? Lagian itu cuma ciumankan ?" Cuma hal kecil." Jawab Jingga tanpa berpikir. Nada suara Jingga terlihat panik.


Mendengar itu Sontak senyuman tercipta di bibir Lucas.


Dasar istri nakal, masih berani jual mahal sekarang ! Lihat saja...


" Oh, jadi cuma sekedar ciuman ?" Nggak ada penting dan spesial ?"


" Ya cuma ciuman ?" Balas Jingga cepat.


Lucas mengangguk-angguk paham. Meski begitu, Jinga bisa kilatan emosi memancar dari mata laki-laki itu.


" Kalau gitu, kayaknya nggak masalah, dong. Kalau kita berdua kembali ngelakuin hal yang disebut biasa itu ? Kali aja bisa jadi luar biasa ?" Lucas berkata sambil mempersempit jarak antara keduanya. Jingga langsung siaga.


" Kamu mau apa ?"


" Kenapa? Takut ? Katanya udah biasa ?"


Jingga beranjak bangun dari duduknya, melangkah mundur. Menyadari hal itu, Luvas tersenyum tipis.


" Ini kantor, kamu jangan macam-macam ?"


" Macam-macam, apa sih sayang ? Kita cuma ngelakuin hal biasa aja kok. Bukannya dulu kamu kita pernah bermain nakal di sini, kamu nggak ingat ? Apa perlu aku ingatkan lagi ?" Ucap Lucas tenang, senyuman di bibirnya seakan tidak pergi dari sana.

__ADS_1


Tapi Jingga semakin takut melihat senyuman itu.


Jingga melotot horor ketika Lucas tiba-tiba melepas jas hitamnya, sembari berjalan mendekat ke arahnya. Jingga bisa melihat kemeja biru menempel pas di tubuh laki-laki itu.


" Aku teriak ya ?" Ancam Jingga.


" Teriak aja yang keras, kamu lupa ya, ruangan ini kedap suara ."


Akh... Kenapa jadi begini, tau begini aku nggak kesini... siapapun tolong... Aku mau keluar dari sini.. Aku nggak mau khilaf lagi...


Jingga berjalan cepat menuju pintu, tapi langkahnya terhenti ...


" Kamu mau kemana ? Pintunya udah aku tutup !" Ucap Lucas, matanya menoleh kearah remot di atas meja.


Kapan dia nekan itu remot... lagian itu pintu bisa ditutup pakai remot sialan itu sih....


Tangan Jingga mengepal keras. Dia benar-benar kesal. dan menyesali sudah datang ke kandang buaya ini..


" Buka pintunya aku mau pulang !" Perintah Jingga.


" Iya nanti ."


" Lucas !" Teriak Jingga kesal.


Tinggu dulu.. apa yang akan dia lakukan... ? Kenapa itu kancing kemeja sudah terlepas...


Lucas memiliki postur tubuh luar biasa untuk ukuran laki-laki .Dengan tinggi sekitar 180 cm, bahu lebar, serta otot lengan yang kencang, Jingga akui tidak ada perempuan yang akab bisa tahan termasuk dirinya.


Sampai saat ini, Jingga masih bisa menahan diri dengan baik. Walaupun insiden ciumannya dengan Lucas di restoean saat itu menjadi contoh besar kegagalannya. Meski akhirnya dia bisa memberi perhitungan pada Lucas, tapi Jingga sadar ia cukup lepas kendali waktu itu. Sekaranng, melihat bagaimana luar biasanya Lucas berdiri di hadapannya, sedikit membuat Jingga sesak napas.


" Lucas, aku peringatkan kam..."


Jingga tidak melanjutkan kalimatnya saat wajah Lucas tiba-tiba bergerak cepat mendekati wajahnya. Perempuan itu spontan memejamkan mata dan memalingkan muka.


Satu detik...


Dua detik....


Tidak terjadi apa-apa. Tidak ada sentuhan seperti yang ia takutkan. Jingga membuka mata dan mendongak.


ia menoleh kebelakang. Di sana ia bisa melihat kemeja biru yabg tadi di pakai sudah tergantung. Dan saat ini Lucas sedang memakai kemeja lain dan sedang santai mengancingkan kemeja tersebut. Ketika ia mendengar suara tawa dari laki-laki itu, Jingga tidak bisa menahan kesabarannya lagi.


" Kamu ngerjain aku ya ?" Geram Jingga.


" Nggak.. Aku cuma mau ganti kemeja aja.." Jawab Lucas santai.


" L-U-C-A-S ...... " Jingga semakin geram, dari wajahnya sudah bisa terlihat Bom siap meledak kapan saja.

__ADS_1


" Hahaha... habisnya kamu... "


Lucas tidak lagi melanjutkan ucapannya saat meliht Jingga melepas tali tas dari bahunya, lalu mencengkram ujung tali dan menggilungnya mengitati kepalan tangannya.


" Jingga, kamu mau ngapain ?" Tanya Lucas yang kini sudah benar-benar berhenti tertawa. Namun ketika tas berwarna hitam itu sudah melayang ketubuhnya, Lucas bergerak menjauh.


Wah... gawat.. matan preman waktu SMA Udah mulai ngamuk..nih..


Melihat tas sudah akan melayang menuju kepalanya, Lucas terkisap. Beruntung dengan cepat ia bisa menghindar. Jingga tidak menyerah, ia kembali mengayunkan tasnya membabi buta menuju Lucas.


" Bahaya Jingga ! Tas itu keras. Kamu tahu akan ini wajah aset negara !"


" Oh kamu masih bisa mikirin itu wajah yang sangat menjengkelkan itu ?"


Kurang lebih lima menit Jingga mengejar Lucas yang tidak henti-hentinya menghindar. Selama itu pula mereka mengitari isi ruangan tanpa lelah. Jingga tahubia terlihat begitu kekanak-kanakan sekarang. Tapi sebelum ia bisa menggeplak kepala laki-laki dengan tas. Jingga belum puas. Sambil menarik napas panjang, Jingga mengayunkn tasnya dengan sekuat tenaha. Tapi dengan sigap Lucas menahan tangan Jingga.


" Lucas lepaskan !"


" Apanya ? Goda Lucas jahil.


" Isi kepala kamu !"


" Kepala atas atau bawah ?"


Jingga melotot kesal mendengar ucapan Lucas. Sekuat tenaga memberonyak agar cekalan laki-laki itu lepas. Tapi percuma saja tenaganya tidak sebanding dengan Lucas.


" Kamu tuh, ya ! Lepasin nggak ?!"


" Lepas sendiri dong, katanya pernah jadi preman waktu SMA, masak cuma segini doang tenaganya ?" Ejek Lucas.


Jingga menatap tajam Lucas yang berdiri di depannya. Sesekali ia tetap berusaha melepaskan diri dari laki-laki itu, namun tetap gagal. Kepalanya mulai berasap, apalagi saat melihat Lucas tersenyum mengejeknya saat melihat ketidakberdayaanya sekarang.


Tiba-tiba Jingga teringat akan sesuatu. Ada satu hal yang dulu paling amluh untuk mengalahkan laki-lak ini.


" Kenapa ? Nyerah ? Kalau gitu...."


Cup !


Tepat saat Lucas sedang erbicara, Jibgga berjinjit dan mengarahkan wajahnya menuju wajah laki-laki itu, mata Lucae membulat tidak percaya, saat sebuah ciuman mampir di pipinya. Refleks cengkraman tangannya pada tangan Jingga mengendor. Beberapa saat pandangan mereka bertemu. Saling menatap tanpa bicara. Lucas memandangnya dengan sorot tidak terbaca.


Melihat kesempatan yang bagus. Jingga cepat-cepat melangkah mundur.


Ternyata cara lama masih mempan !


Jingga kembali mengenakkan tasnya dengan benar dan berniat peegi saat itu juga. Namun baru saja membalik badan untuk meninggalkan ruangan itu, sebuah tangan menyentuh pinggahnya dan menariknya cepat. Jingga terkisap. Saat Lucas memutar tubuhnya dan mendekapnya erat. Mata merek kembali bertemu. Melihat cara Lucas memandangnya saat ini, sudah cukup membuat Jingga merasa gerah.


" Kalau nyium Lucas Arkana Putra itu nggak boleh tanggung. Harus dituntaskan." Lucas tersenyum penuh arti.

__ADS_1


Setelah mengucapkan hal itu, hal terakhir yang Jingga libat adalah bagaimana Lucas yang menunduk dan memiringkan wajah. Kemudian menciumnya dalam.


__ADS_2