CEO Dingin Yang Bucin

CEO Dingin Yang Bucin
Di balik semua


__ADS_3

Lucas, membuka mata ketika telinganya mendengar suara pintu yang ditutup. Semetara itu, di pangkuannya, Jingga masih bergerak pelan.


" Sayang....., ada yang datang ?" Lucas mendongak menatap Jingga, di tatapnya wajah sang istri.


" Tsania."


" What ?"


Lucas terkejut setengah mati.


" Kok kamu nggak bilang kalau ada Tsania ? Maksudku..... ah bentar." Lucas menunda terlebih dahulu bicaranya. Ada yang lebih penting yang harus ia selesaikan. Dengan cepat, Lucas menambah ritme gerakan mereka berdua.Pelukan Jingga di bahunya semakin erat.


Baik dirinya maupun Jingga akhirnya sama-sama mendapatkan apa yang mereka mau. Dengan masih dalam posisi saling berpelukan, tubuh Jingga lemas, sedangkan Lucas bersandar pada sandaran sofa dan memeluk tubuh istrinya dengan erat. Nafas keduanya saling beriringan menghirup oksigen. Lucas meraih kepala Jingga dan mengelusnya lembut, di ciumnya bahu istrinya itu penuh sayang.


" Kenapa kamu nggak ngasih tahu kalau Tsania datang ? Kita lagi begini, kamu nggak malu ?" Lucas membuka suara. Lucas sejujurnya tidak peduli dengan Tsania, hanya saja ia tidak nyaman aktivitas intimnya bersama sang istri di lihat orang lain.


" Kamu pikir aku mau ?" Jingga melepas pelukannya dari Lucas.


" Kamu pikir aku nggak malu ?" Tiba-tiba, Jingga menaikkan nada suaranya.


Lucas tersentak, tunggu. Lucas tidak bermaksud menyalahkan Jingga. Sumpah !.


" Sayang, aku nggak bermaksud begitu ."


" Aku bener-bener kesel sama kamu, tahu nggak ? Aku nggak akan bersikap kekanak-kanakan macam ini kalau nggak karena kamu !"


Jingga menjauhi Lucas, dan bangkit dari pangkuan pria itu. Di rapikannya sepintas penampilannya dan memilih duduk di samping Lucas.


" Kamu nggak tahu ?"


" Tahu apa ?"


" Tsania berusaha deketin kamu."

__ADS_1


" Tahu."


" Terus, kamu biarin dia kayak gitu."


" Terus aku harus ngapain, lagian aku sama sekali nggak nanggepi dia, aku cuma menganggap dia teman, tidak lebih."


" Sejak tadi malam, dia terus menggoda kamu, mengirim foto sexy lah, kirim pesan nggak pentinglah dan yang lebih buat aku kesal, dengan entengnya dia tanya apa aku bisa muasin kamu atau tidak ."


Mulut Lucas terbuka lebar tanpa sadar. Ternyata ini alasan Jingga meminjam ponselnya.


" Terus hari ini kamu mau buktiin itu ?"


" Jelas, aku udah dia kesempatan untuk melihat sendiri, Apa kamu tahu Tsania menyimpan rasa buat kamu ?"


" Aku tidak peduli dengan dia, itu urusan dia."


" Tidak peduli ? Aku yang nggak terima, sekarang istri mana yang terima ada wanita yang mengajak suaminya ngamar, hah ?"


" Atau kamu nggak masalah juga kalau ada pria lain ngajak aku ngamar ?" Iya ?"


Lucas langsung beranjak bangun, sambil membenarkan resleting celananya, matanya melotot. Ia langsung menggeleng cepat. Kalau ada pria seperti itu, jangan berharap pria itu bisa hidup.


" Ada pria lain yang godain kamu ? Siapa bilang cepat ?"


Jingga menatap Lucas dengan pandangan tidak habis pikir.


" Lihatlah, kamu aja nggak suka kan kalau ada yang godain aku ? Begitu juga aku tidak suka Tsania mengoda kamu, kirim foto-foto dan pesan yang menjijikan seperti itu. Atau kamu memang segaja membiarkan dia bertindak seperti itu ?"


" Nggak, demi tuhan aku nggak kayak gitu. Udah aku bilang, aku cuma menganggap dia teman tidak lebih."


" Wanita kayak Tsania itu, nggak cukup cuma di cuekin aja, dia harus dikasih pelajaran, kamu yang tegas sama dia ! Aku nggak suka kamu deket-deket sama dia, apalagi kamu tiap hari ketemu sama dia."


Lucas menarik nafas dalam-dalam, sebenarnya dia juga cukup terganggu dengan sikap Tsania, Lucas hanya menghargai Tsania sebagi teman lama, terlebih wanita itu dulu kekasih kakaknya. Rasanya dia punya andil untuk menjaga wanita kakaknya. Dia ingat betul betapa sayang dan cintanya, Kakanya Hiro, pada Tsania. Lucas hanya berharap menjaga Tsania, bisa membuat kakaknya tenang di sana.

__ADS_1


" Kenapa ?" Tanya Jingga yang melihat sikap Lucas yang hanya diam, seolah dia membiarkan semuanya terjadi.


" Nggak apa-apa, sayang, oh ya kamu tadi ngundang dia buat lihat kita lagi bercinta ?"


" Ih, stress, siapa juga yang ngundang dia. Dia aja yang mau datang, sebenarnya dia tadi kirim pesan, dia bilang kartu ATM nya hilang dan dia mau pinjam uang, ya udah aku balas aja. " Kenapa nggak kamu aja yang datang ke kamarku ?" Dia tanya. " Emang istri kamu kemana ?" Aku bales aja ." Jingga lagi tidak ada di kamar." Dia langsung bales. " Ok." Pakai emot cium. Aku bacanya jadi emosi."


Jingga yang sudah tenang kembali berapi-api.


" Aku sengaja menyiapkan kartu ATM, dan beberapa lembar uang di meja deka pintu itu." Ucap Jingga lagi sambil menunjuk kearah meja dekat pintu.


" Pantes, kamu tiba-tiba minta pulang, ternyata cuma buat ngerjain Tsania."


" Siapa suruh nanyaiin gimana kamu puas nggak sama aku ? Ya udah aku kasih tahu langsung, biar dia nggak penasaran."


Jingga kembali berapi-api.


Namun, selagi ia yang sedang menahan emosi, tiba-tiba bibir Lucas sudah berlabuh di telinganya, Jingga kegelian akibat ulah Lucas.


" Jadi aku cuma diperalat dong sama kamu tadi ?" Bibir lucas turun ke leher Jingga, mengecupnya lembut.


" Ya mau gimana lagi, habis aku kesal sama dia."


" It's ok, aku suka kalau diperalat kamu kayak gini, tiap hari juga nggak apa-apa."


Jingga merasakan tubuhnya diangkat Lucas lagi di pangkuannya. Ia pun berpegang pada bahu pria itu, senyum Jingga terbit sadar, di belainya kening Lucas tak kalah lembut.


" Jadi apa kita mau mereka adegan lagi kejadian tadi, rasanya kurang tepat dan karena seperti pura-pura ?"


" Pura-pura ? Mana ada ?"


Lucas tertawa pelan, Jingga juga ikut tertawa, Lucas menarik pelan wajah Jingga dan menciumnya lagi bibir sang istri. Lucas berjanji di dalam hatinya, terlepas dari rasa ingin menjaga wanita kakanya, ia tidak akan membiarkan hal itu melukai istrinya, apa pun akan ia lakukan untuk membuat Jingga bahagia, apa pun akan ia terima.


Mungkin ia tidak bisa lagi menjaga atau menepati janjinya, Sekali lagi yang terpenting sekarang hanya istrinya. Matahari Jingga. wanita yang sangat ia cintai.

__ADS_1


__ADS_2