
Sore ini entah bagaimana Lucas merasa benar-benar bahagia, Lihat saja bagaimana senyuman yang tidak luntur dari bibir seorang Lucas Arkana Putra tersebut, Tabg lebih membuat Lucas bahagia, ternyata ia adalah pria pertama yang menyentuh seorang Matahari Jingga. Lucas tidak pernah mengira, jika ia adalah pria pertama bagi Jingga Mengingat bagaimana kehidupan di jaman sekarang.
Perasaan senang itu membuncah dalam dirinya, hingga seolah-olah Lucas tidam mengenali dirinya sendiri.
Sangking bahagianya, meeting ya g di adakan bahkan sama sekali tidak ia perhatikan. Bagaimana para karyawannya menyampaikan masalah saham, bagaimana dia yang memiliki sahan lebih di salah satu perusahaan, bagaimana perusahaannya yang memenangkan tender besar, semua itu tidak di acuhkan oleh Lucas..
Padahal dalam sejarah, Lucas adalah seorang yang profesional yang tidak akan melakukan sedikit saja kesalahan. Tapi sekarang ? Perasaan bahagia menyita jiwanya, bahkan para Karyawan terkejut oleh Lucas yang menyudahi meeting dan memerintahkan untuk meletakkan semua berkas-berkas tersebut di atas meja. Yang lebih membuat mereka terkejut adalah saat dimana Lucas berpamitan untuk meninggalkan ruang meeting seraya tersenyum tipis.
Siapapun tahu apa penyebab hilangnua senyuman hangay yang dulu pernah ada pada Lucas. Dan sekarang apa senyuman itu akan kembali ?
***Rumah***
Sore itu Jingga baru saja keluar dari kamar, karena dia merasakan sakit yang ia rasakan sudah lebih baik. Dia benar-benar malus saat bertemu dengan Nisa. Lihat saja bagaimana gadis yang umurnya tidak terpaut jauh darinya itu menatapnya seraya tersenyum lebar. Dan itu semakin membuatnya Jingga merona malu saat dengan polosnya Nisa bertanya kenapa dia berjalan dengan sangat aneh, menahan rasa sakit di daerah sensitifnya.
Nisa adalah sosok gadis yang cocom di jadikan saudara perempuan, bagaimana senyum hangat penuh perhatian itu, Melihat itu membuat Jingga merasa bersyukur di kelilingi orang-orang yang sangat baik padanya.
Namun kini yang menjadi pemikiran Jingga adalah ucapan yang Nisa katakan, gadis itu bahagia melihat Jingga bahagia bersama Lucas, dia bersyukur Jingga bisa menikah dan membuat Lucas kembali hidup, karena semua tahu setelah kematian kakaknya kehiduoan Lucas seakan hancur.
Terkadang Jingga berpikir kenapa Lucas mau menikahinya, padahal banyak wanita di luar yang mengantri menjadi istrinya, kenapa harus dia ?
Dan saat itu Jingga menjawab, jika sedari awal Lucas tidak pernah mau berurusan dengan namanya wanita, Sebelum berbincangan mereka semakin panjang, tiba-tiba Lucas datang menghentikan setiap kata yang akan terucao oleh Jingga.
Di detik itu pula Jingga terlupa akan berbincangan asyik bersama Nisa. Bagimana tidak, jika Lucas langsung saja membawanya kembali ke dalam kamar dan langsung bertanya.
" Apa kamu sudah lebih baik ? Apakah masih sakit ?" Tanya Lucas khawatir.
Jingga mengulum bibirnya mendengar pertanyaan Lucas yang penuh dengan nada khawatir, jika Jingga mengulum bibirnya menahan malu Lucas menatap istrinya dengan tatapan bingung.
__ADS_1
" Apa perlu kita kerumah sakit ?"
Rumah sakit ? Apa dia sudah gila, apa nanti yang harus akau jawab jika dokter memeriksaku. Tidak, ini sangat memalukan.
" Tidak perlu, aku baik-baik saja." Ucap Jingga mencoba menenangkan suaminya itu.
" Kamu tidak bohongkan ?" Tanya Lucas memastikan.
" Sungguh, aku baik-baik saja."
Lucas merasa lega mendengar itu seraya berjalan mendekat kearah Jingga.
Lucas dan Jingga sama-sama kembali saling menatap satu sama lain, seakan tidak ada yang ingin memutuskan kontak mata tersebut.
Seakan mereka ingin menyelami manik mata yang berada di hadapan mereka, seakan mereka mencari semua arti desiran yang mereka rasakan hanya dengan tatapan. Jujur, mereka lelah merasakan tanda tanya besar tentang arti semua ini.
Lucas memeluk erat istrinya itu.
" Aku sangat mencintaimu, aku berjanji akan menjadikanmu wanita yang paling berharga di dunia ini." Ucap Lucas , Jingga tersenyum bahagia mendengar setiap.kata itu. Kini dia sepenuhnya percaya pada pria yang saat ini bersetatus sebagai suaminya itu.
" Aku juga mencintaimu." Balas Jingga.
" Jangan pernah tinggalkan aku."
" Ya aku berjanji tidak akan meninggalkanmu."
Pelukan hangat malam itu, seakan tidak bisa lepas, rasanya merek bedua ingin selalu seperti ini, tidak ingin semua ini berakhir.
__ADS_1
Lucas menggendong istrinya itu dan meletakkan di atas ranjang dengan lembut.
" Sekarang istirahatlah, aku akan mandi." Ucap Lucas, secara mencium kening istrinya itu dengan mesra.
" Haruskan aku ikut." Goda Jingga, Lucas tersenyum tipia me dengar itu.
" Apakah kamu menggodaku ?" Tanya Lucas.
" Kalau iya, apakah aku tidak boleh menggodamu ?"
" Boleh, sangat boleh, tapi tidak hari ini, aku tidak ingin membuatmu semakin tidak nyaman, karena aku tahu pasti rasanya sangat perih." Ucap Lucas, lalu di sentilnya dahi istrinya itu dengan pelan.
" Baguslah, lagian aku juga cuma bercanda." Ucap Jingga seraya tertawa kecil.
" Lain kali kalau kamu bercanda seperti ini, aku akan menghukummu."
" Menghukumku ?"
" Ya, mengukummu sampai kamu tidak bisa berjalan, aku juga tidak akan membiarkanmu tidur." Bisik Lucas ditelinga istrinya itu.
Mendengar itu sontak membuat wajah Jingga merona merah karena malu, di cubitnya perut suaminay itu.
Tapi alih-alih kesakitan, Lucas justr tertawa, rasanya menyenangkan menggoda istrinya itu.
" Sudahlah, aku mau mandi." Ucap Lucas seraya beranjak bangun dan segera menuju kamar mandi.
Jingga melihat kepergian suaminya itu dengan senyuman, rasa bahagia tidak bisa ia tutupi, gadis itu bersyukur telah bertemu dan bersama Lucas saat ink, gadis itu tidak bisa membayangkan jika saja saat ini dia tidak bertemu dengan Lucas, hidup sendiri tanpa orang tua yang pergi entah kemana.
__ADS_1