
Akhirnya hari yang di tunggu tiba, sesuai rencana Jingga dan Riva berangkat bersama. dan Lucas akan menyusul keesokan harinya.
Kuping Jingga terasa panas mendengar omelan Riva, tentang ultimatum Lucas yang mengatakan Jangan kemana-mana, diam di hotel. Tunggu aku !
Ya itu juga berlaku bagi Riva, entah kenapa dia hanya bisa mengangguk patuh saat Lucas berpesan itu.
Dan sampai dia mulai sadar, Jingga menjadi sasaran omelannya.
Jingga hanya bisa diam, mendengarkan tidak bisa menjawab berkata apa-apa lagi, mau bagaimana lagi, salah satu syarat dia bisa berangkat ke bali adalah dia harus menunggu Lucas jika ingin berpergian.
Riva sudah sangat dongkol, rasanya percuma liburan jika hanya berdiam diri di hotel, tidak boleh kemana-mana.
" Kita mau ngapain sekarang ? Aku capek dari tadi tidur mulu, pengen jalan-jalan ke pantai, pengen ke seminyak nongkrong pinggir pantai sambil cuci mata melihat bulu-bule cakep." Omel Riva kesal, tubuhnya sudah terasa kaku, setelah di hotel dia hanya bisa rebahan menunggu Lucas yang entah kapan datangnya.
" Sabar, besok Lucas baru kesini."
" Ih, ngapain sih harus nunggu dia, lagian dia nggak disini kan, nggak tahu juga kita keluar, bilang aja kita seharian cuma tidur."
" Kamu lupa ya siapa dia ? Hotel ini jaga punya dia, lihat keluar gih, kamu hitung berapa orang yang jaga di sana ?
" Kamu serius ? Ini hotel punya dia ?" Riva seakan tidak percaya, sahabatnya ternyata menjadi istri seorang myliader, Untuk memastikan omongan Jingga benar, Riva bergegas menuju jendela melihat dari atas.
Wow, luar biasa ! Kita sudah seperti di penjara ! Benar-benar luar biasa !
Riva menggelengkan kepala sangking tidak percayanya.
Belasan penjaga berbaju hitam stand by di bawah, cuma menjaga dia dan Jingga tidak keluar dari hotel.
" Kenapa aku merasa jalan hidup mu kayak nikah sama seorang mafia, kayak cerita di novel-novel. "
" Bisa di bilang begitu, dengan sekali tunjuk dan sekali anggukan, apa yang dia mau, kayak bakal dia dapet."
" Ya contohnya kamu, sekali tunjuk dan anggukan bisa dia dapat." Goda Riva.
" Enak aja, aku aja nikah karena di jebak."
" Iya juga ya, gara-gara baju doang, kamu jadi tumbal."
" Kamu kira pesugihan, udah sana balik ke kamarmu, aku mau tidur capek."
" Aku tidur sini ya."
__ADS_1
" Nggak, udah sana."
" Takut."
" Ih takut apa an sih, kayak anak kecil aja, biasanya di kos juga sendiri."
" Tapi ini beda, tidur sendiri di kamar yang luas rasanya aneh aja."
Jingga hanya diam, mulai mengerti, yang dikatakan Riva ada benarnya, kamar yang mereka tempati saat ini jenis presidential suite.
" Ah udah jangan manja, sana balik kemarmu sendiri, sekarang kamu simpan tenaga buat besok kita jalan-jalan."
" Ih pelit banget sih." Ucap Riva kesal, dan bergegas kekuar dan kembali ke kamarnya.
Dan Jingga hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu, di liriknya jam di dinding masih menunjukkan pukul tujuh malam, rasanya masih terlalu sore untuk dia bersiap tidur.
Untuk mengusir rasa bosannya gadis itu hanya bisa bermain dengan ponselnya.
Tidak ada notifikasi panggilan maupun pesan dari Lucas, Jingga cukup kecawa di buatnya.
Kenapa dia tidak menghubungiku, bertanya apa aku sudah sampai apa belum ? Udah makan apa belum ? masih bernafas atau tidak ? Ah bodoh amat, terserah lah, awas aja kalau besok dia datang !
Jingga mencoba menahan amarahnya, bermain dengan ponselnya hingga dia tertidur.
Malam semakin larut, suara jam dinding terdengar jelaa di sunyinya malam, Hingga Jingga terbangun karena haus, berjalan dengan sempoyongan, karena kantuk yang tidak tertahankan. Dua tenggukan air putih membasahi tenggorokkannya, hingga dia mulai sadar.
Kenapa lampunya jadi remang-remang gini, perasaan tadi dia tertidur dan dia tidak mematikan lampu.
Jingga mengerinyitkan alis, mencoba memahami apa yamg saat ini terjadi, rasa takut mulai melanda pikiran macam-macam berkecamuk di otaknya.
Apa ada maling di sini ? Atau jangan-jangan orang mesum masuk kamar ini ? Atau jangan-jangan perampok, penguntit dan sejenisnya.
Hingga terdengar germicik air di kamar mandi. Jingga bertambah takut dan mulai waspada, dengan langkah pelan dan hati- hati dia mengambil ponsel di ranjang, wanita itu sengaja tidak menyalakan lampu, karena dia tidak ingin orang di dalam kamar mandi menyadari kalau dia sudah bangun.
Mengambil sebuah bantal sebagai pelindung dan ponselnya ia gunakan sebagai senter penunjuk jalannya.
Dengan langkah hati-hati berjalan mendekat kearah kamar mandi, terlihat samar-samar sosok manusia di balik pintu kamar mandi yang transparan dengan kaca yang buram, tidak terlihat dengan jelas siap itu, tapi Jingga memastikan itu laki-laki, karena terlihat samr-samar rambut orang di dalam sana pendek.
Jingga bersiap di samping pintu, menunggu pelaku yang masuk kamarnya tanpa ijin itu keluar dari kamar mandi. Bantal di tangannya di pegang erat bersiap untuk menjadi benda pelindungnya, bersiap memukul dengan sekuat tenaga dan bertubi-tubi, hingga pelaku itu kalah dan minta ampun padanya.
Tak lama oranga di dalam keluar dari kamar mandi itu, dengan gerakan cepat Jingga memukulnya dengan bertubi-tubi.
__ADS_1
" Maling.... maling... dasar orang mesum..... siapa kamu.... bagaimana kamu bisa masuk... ?" Jingga terus memukul, hingga tangannya berhenti, saat mendengar suara yang tidak asing baginya.
" Jingga.... stopp... Aku suamimu !!" Teriak Lucas di sela pukulan istrinya yang membabi buta.
" Lucas ?" Tanya Jingga tidak percaya, di arahkannya ponsel di wajah pria di depannya itu.
Beneran Lucas.
" Kapan kamu tiba ?" tanya Jingga.
" Dari tadi."
" Kok aku nggak tahu."
" Kamu tidur kayak orang pingsan."
Pingsan ? Enak aja, tidurku anggun dan terlihat cantik !
" Bagaimana kamu bisa masuk ?"
Bukannya jawaban yang Jingga dengar, malah sentilan mendarat di dahinya.
" Aku yang punya hotel ini, semua kamar di sini, aku bisa masuk !"
" Oh ya lupa." Ucap Jingga dengan polosnya.
" Tunggu dulu, kamu mau mukul maling pakai bantal ini ? Maling tidak akan pingsan apalagi mati karena di pukul bantal ini." Tanya Lucas kesal, sambil menunjuk bantal di tangan istrinya itu.
" Bukannya kamu datang besok ?" Tanya Jingga mengalihkan, gadis itu terlalu belum siap mendengar ceramah Lucas, hanya karena bantal. Jingga berjalan mengekor di belakang Lucas yang akan mengambil baju di koper di atas sofa .
Lucas tidak menjawab pria itu malah sibuk memakai baju, melepas handuk yang sedari tadi melilit di pinggangnya. Ya dengan jelas Jingga bisa melihat sesuatu yang cukup vulgar di depan matanya, sangat polos !
" Aaaa..... Lucas kenapa kamu melepas handukmu ?" Teriak Jingga seraya membalik badannya memunggungi d
" Terus ? Kalau nggak di lepas bagaimana mau pakai celana ?" Jawab Lucas dengan santainya.
" Aku datang hari ini, nggak mau kecelongan kamu keluar terus pakai bikini itu."
Keluar ? Gimana mau keluar ? kalau yang jaga belasan orang di bawah !
" Udah ayo tidur besok aku akan ajak kamu jalan-jalan ."
__ADS_1
Seketika senyum cerah tercipta dari bibir Jingga, ia sudah tidak sabar menantikan besok.