
Jingga mengerjap-ngerjapkan mata menatap langit-langit kamarnya.
Langit-langit kamar yang tidak asing buatnya. Ya dia sekarang sudan dirumah.
Saat ini Lucas, tidur disampingnya, sudah lewat satu minggu sejak mereka kembali, setelah perjalanan Dinas itu.
Dan sudah satu minggu pula ia tidak melihat pergerakan Tsania, entah memang sudah menyerah atau memang dia malu sendiri, karena sudah melihat kejadian vulgar itu.
Tapi Jingga tidak peduli, baginya itu bagus, Wanita itu sudah tidak lagi menggoda suaminya lagi.
Jingga bangkit dari tidurnya, Rutinitasnya hari-harinya sudah kembali kesemula. Ia harus bangun dulu, banyak hal yang harus ia lakukan, mulai dari ia yang harus memasak, hingga menyipakan segala keperluan Lucas yang akan berangkat kerja seperti halnya baju dan lain-lain.
Kalu dulu sebelum menikah, mungkin Jingga tidak perlu memasak dan memilih untuk sarapan di kantin kampus, atau mungkin kalau dia sangat lapar ia akan merebus mie instan. Namun, kondisi sekarang berbeda, ia tidak mungkin memasakkan suaminya mie instan tiap pagi untuk suaminya.
Apalagi menyuruh Lucas untuk makan di luar padahal ada istrinya di rumah. Dan bisa saja dia meminta asisten rumah tangga mereka untuk membuat sarapan, hanya saja Jingga ingin sepenuhnya menjadi seorang istri, menyiapkan segalanya untuk suaminya.
Oleh karena itu, walaupun dia tidak begitu lihai di dapur, tetapi untuk memasak nasi goreng, memanggang roti, ,membuat kopi ataupun jus dan segela masakan simpel lainnya, Jingga masih bisa.
" Udah bangun ? Kenapa belum mandi ?" Jingga masuk kedalam kamar dan sudah mendapati suaminya duduk dipinggir ranjang, sambil fokus dengan ponselnya.
" Ya sebentar lagi." Ucap Lucas, matanya masih sibuk melihat ponsel ditangannya.
Jingga mulai curiga. Entah kenapa dia sekarang lebih sensitif, dan overposesif jika Lucas sudah memegang ponselnya.
Jangan-jangan Tsania, kirim pesan aneh-aneh lagi ?
" Kamu lagi lihat apa sih ? Udah siang loh ?" Tanya Jingga.
" Aku lagi lihat Jadwal hari ini, yang kirim Jimmy sayang."
" Oh, kiraiin."
Lucas tersenyum mendengar itu, di letakkannya ponsel di atas kasur.
Di hampiri istrinya itu, dan langsung memeluknya dari belakang. Entah sebuah rutinitas atau bukan, sejak menikah, Lucas akan memeluknya terlebih dahulu sebelum mandi pagi.
" Kenapa, kamu takut Tssania kirim pesan aneh-aneh lagi ?"
" Nggak." Jingga mencoba mengelak.
" Kalau kamu nggak percaya, bawa aja ponselku."
" Terus kamu ?"
" Ya beli lagi."
" Ya percuma, Tsania bakal hubungin kamu lagi."
" Nggam sayang, nggak bakal, cuma kamu dan Jimmy yang tahu kontak ponselku."
" Terus kerjaan kamu ?"
" Kan ada Jimmy."
__ADS_1
Benar juga, masih ada Jimmy, semua pekerjaan Lucaskan semua yang handel Jimmy.
Tapi Nggak lah, aku nggak boleh overprotekrif kayak gitu, lagian aku sudah ngasih pelajaran sama Tsania, dia pasti udah nyerah dan nggak berani macem-macem lagi.
" Nggak usah, aku percaya kok sama kamu."
" Beneran ? Aku beneran nggak masalah, kalau kamu pegang ponselku ."
" Iya aku tahu, tapi nggak usah, aku percaya sama kamu, kamu nggak bakal aneh-aneh di belakang ku, udah sana mandi."
Jingga mendorong mundur Lucas dengan sikunya.
" Morning kiss dulu, baru aku mandi ?"
" Please deh sayang, jangan manja, udah siang, nnti kamu terlambat."
" Aku..."
" Bos." Potong Jingga cepat, ia sudah hapal betul kata-kata itu.
Lucas tersenyum. Tiba-tiba, Lucas langsung membalik tubuh jingga menghadapnya dan menciumnya dalam-dalam.
Morning kiss apanya ? Ini lebih bisa di sebut ciuman panas.
" Selesai, aku udah puas, thank you, Sayang."
Ucap Lucas, sambil mengelus lembut ujung kepala istrinya. Lucas langsung menunu kamar mandi. Jingga menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Lucas. Tanpa sadar, senyum Jingga terbit, Ternyata menikah sangat menyenangkan.
*****
Jingga sedikit terkejut saat melewati meja seketaris, karena di sana selalu ada Jimmy, tapi ini sudah tergantikan oleh seorang wanita. Cukup cantik.
Jingga tidak tahu sejak kapan seketaris Lucas sudah berganti, karena memang Lucas tidak pernah cerita.
" Kemana Pak Jimmy ?" Tanya Jingga sopan, pada seketaris itu.
" Oh pak Jimmy, sedang dinas luar kota, Bu."
" Kamu seketaris baru ?"
" Iya, Bu. cuma sementara selama pak Jimmy dinas."
Oh sementara ? Baguslah !
" Pak Lucas nya ada ?" Tanya Jingga.
" Maaf, bu kalau boleh tahu, sudah buat janji sebelumnya ?"
Jingga tersenyum kecil, sepertinya pegawai ini benar-benar masih baru.
" Saya istrinya ?" Ucap Jingga.
Mendengar ucapan wanita di depannya, seketaris itu hanya diam, melihat Jingga dari atas sampai bawah.
__ADS_1
Jingga cukup memaklumi, setiap dia berkata Saya istrinay Lucas. Saat itu juga setiap mata akan menatapnya dengan tatapan menilai.
Jingga sudah terbiasa untuk itu.
" Kamu nggak percaya ?" Tanya Jingga.
" Maaf, Bu, saya tanyakan pak Lucas dulu, soalnya di dalam ada tamu ."
" Tamu ? Masih urusan kantor ya ?"
" Sepertinya begitu, soalnya yang di dalam Bu Tsania ."
" Tsania ?"
Mendengar itu, Jingga langsung bergegas masuk, tanpa harus mengetuk pintu terlebih dahulu.
Benar seperti yang di katakan seketaris itu. Tsania ada di sana, duduk berhadapan dengan Lucas, meja besar menajadi pemisah antara mereka berdua. Tapi tetap saja Jingga tidak menyukai itu.
" Sayang." Ucap Lucas kaget, melihat Jingga yang sudah berdiri di depan itu.
Jingga tidak mengubris sapaan dari Lucas, mata wanita itu masih tertuju pada Tsania, menatap tajam seolah dia siap untuk menghabisi wanita itu saat ini juga.
Tapi segera ia tersadar.
Jingga berjalan penuh percaya diri, dan langsung memeluk manja Lucas.
" Ada apa ?" Tanya Lucas lembut, entah kenapa suasana saat ini seakan mencekam, dua wanita diruang itu sekan enggan berbagi udara, saling mengintimidasi lewat tatapan tidak suka.
" Aku mau minta uang ." Ucap Jingga dengan manjanya, sambil bergelayut di lengan suaminya.
" Uang kamu habis ?"
" Iya."
Lucas tersenyum, entah kenapa manjanya Jingga saat ini terlihat mengemaskan.
" Tunggu, aku ambilkan dulu." Lucas berjalan menunu mejanya, dan diambilnya kartu ATM dari dalam lacinya.
Dan Jingga tersenyum sinis pada Tsania,yang berpura-pura sibuk dengan berkas-berkas di depannya, Jingga tahu, Tsania sering melirik kepadanya.
" Ini, pin-nya seperti biasa." Ucap Lucas sambil menyodorkan kartu itu.
" Makasih sayang." Jingga mencium pipi suaminya itu.
Dan lagi-lagi Lucas hanya tersenyum.
" Nanti aku jemput, kalau kamu sudah selesi kuliah." Ucap Lucas.
" Ok." Ucap Jingga dengan senyum kemenangannya.
Bagaimana, kamu sudah lihat, bagaimana Lucas memperlakukanku ?
" Aku berangkat dulu ya." Ucap Jingga, lagi-lagi dia mencium suaminya, kali ini bukan di pipi, tapi di bibir pria itu, ciuman singkat. karena itu sudah bisa membuat Tsania kepanasan.
__ADS_1
Tsania melihat kepergian Jingga dengan tatapan marah, tangannya meremas keras.
Lihat aja, aku akan balas penghinaan ini .