
Hari ini sebuah pekerjaan mengharuskan sepasang suami istri harus berpisah untuk sementara, tidak lama hanya 5 hari. Perjalanan bisnis keluar negeri.
Lucas yang sedari tadi sudah membujuk Jingga untuk ikut dengannya, 5 hari berpisah dengan istri tercintanya membuat gundah gulana.
Berbagai macam usaha dan rayuan ia lakukan, tapi sepertinya Jingga benar-benar enggan untuk ikut.
" Ayolah sayang, ikut ya ?" Rengek Lucas.
" Nggak, mau ngapain aku di sana, cuma diem nungguin kamu seharian, udah kamu berangkat aja, aku dirumah nungguin kamu, ok ? " Jingga menepuk pundak suaminya, seakan ia memberi tanda untuk bersabar.
" Ini 5 hari lo sayang, kita nggak ketemu selama itu ?"
" Please jangan lebay, cuma 5 hari bukan 5 bulan apalagi 5 tahun."
" Pokoknya aku nggak mau jauh dari kamu !"
Jingga seakan tidak peduli dengan rengekkan suaminya, tangannya sibuk menyiapkan pakaian yang akan Lucas bawa, menata setiap pakian dan memasukkannya kedalam koper.
" Nanti kalau aku di ganggu Tsania gimana ?" Ucap Lucas, sontak membuat Jingga menoleh kearahnya. menatap dalan diam dan berpikir keras. Lucas yang melihat itu, sontak senyum simpul tercipta dari sudut bibirnya.
" Kamu nggak takut, di sana aku ketemu Tsania, dan dia godain aku lagi ?" Tanya Lucas lagi.
" Nggak !"
" Nggak, kamu nggak khawatir sama sekali, suami kamu digodain wanita lain ?" Lucas kaget dan tidak percaya.
" Ya Nggak mungkin dia godain kamu lagi, emang masih kurang usaha kita buat dia menjauh dari kita, dan terkahir kita bertemu, kamu bilang dia bodoh dan kamu nggak mau ketemu lagi sama dia, sebagai wanita yang normal dan punya harga diri, aku yakin dia udah nggak punya muka dan nyali buat ketemu sama kamu, apalagi godaiin kamu, kecuali kalau kamu masih berharap ketemu sama dia ?" Tanya Jingga sedikit menyindir.
" Ya nggak lah, aku sama sekali nggak berharap ketemu sama dia ?"
" Sumpah ?"
" Sumpah, kalau kamu nggak percaya, makanya kamu ikut aja ?"
Jingga diam, mencoba menimba-nimba, haruskah ia ikut pergi ?
" Nggak lah, aku di rumah saja, kuliahku lagi banyak tugas, lagain udah ada Jimmy yang nemenin kamu kan ?"
" Ya beda lah, aku tu maunya kamu ikut, itung-itung kita bulan madu sayang ?" Lucas memasang wajah berharap.
" Lagian percuma juga aku ikut, aku lagi datang bulan, kalau aku ikut jadinya bukan bulan madu, tapi bulan kelam kelabu." Ucap Jingga seraya tertawa kecil.
__ADS_1
Mendengar penolakan dari istrinya, sontak Lucas terlihat kecewa.
" Udah ah, jangan sedih gitu, 5 hari itu cuma sebentar kok."
" Itu lama, sedetik aja nggak ketemu kamu aku udah rindu, kamu tahu kan, kata Dilan, rindu itu berat."
" Ya itu urusan Dilan, bukan urusan aku ." Jawab Jingga dengan cueknya.
Jingga mengerenyitkan alisnya, merasa heran. Kenapa suaminya menjadi semanja dan selebay ini.
" Ya udahlah, kalau kamu nggak mau ikut, aku berangkat sekarang." Ucap Lucas kecewa.
" Nih, kopernya." Jingga tersenyum semanis mungkin, menyerahkan koper hitam kepada suaminya itu. bukannya bersikap berat melepaskan, Jingga malah seakan biasa saja.
" Hati-hati di jalan ya, jangan lupa makan, jangan capek-capek ya sayangku." Jingga memeluk Lucas, sembari kedua tangannya menepuk punggung suaminya itu dengan lembut.
Dan Lucas hanya bisa menangguk pasrah.
*****
Paris
musim dingin berlangsung selama 3,7 bulan, dari bulan november hingga maret, dengan suhu tertinggi harian rata-rata di bawah 10°C.
Sesekali Lucas meregangkan tangan dan lehernya, mencoba melemaskan otot-otot tubuhnya yang rasanya sudah menegang dan terasa kaku.
Di lihatnya ponselnya, sekedar memeriksa apakah ada pesan dari istrinya itu, dan benar saja istrinya itu mengirimkan sebuah pesan. Good nigt sayang .
ya perbedaan waktu yang lumanyan jauh, saat ini di paris pukul tengah malam, tapi di Indonesia masih sore hari.
Lucas tersenyum, ia merasa bahagia, mendapat perhatian dari istrinya itu dan di balasnya pesan itu.
Tapi lagi-lagi ia berharap Jingga berada di sisinya, bukan hanya pesan-pesan dari istrinya itu yang menemaninya.
Hingga tiba-tiba suara ketukan pintu membuyarkan pikirannya.
Lucas sejenak bertanya-tanya, siapa malam-malam mengetuk pintu kamarnya, dia tidak memesan layanan kamar, tidak juga menyuruh Jimmy datang ke kamarnya.
Lucas segera membuka pintu, karena sejujurnya dia juga penasaran, ketukan dari balik pintu cukup membuatnya penasaran, siapa sosok di balik pintu itu.
" Tsania ?" Ucap Lucas pelan, rasa kaget dan tidak percaya terlihat jelas dari wajahnya. Sosok.wanita yang sama sekali tidak.diharapkan padanya, dan seakan peekataan adalah doa, dia masih ingat betul menjadikan Tsania alasan untuk membujuk Jingga ikut, walupun hasilnya percuma saja. Dan saat ini tuhan seakan mengingatkannya untuk berhati-hati dalam berucap.
__ADS_1
Kenapa dia ada di sini ?
" Boleh aku masuk ?" Tanya Tsania to the point.
Lucas diam sejenak, tidak menjawab, dari ekspresi wajahnya terlihat jelas kalau ia tidak suka dengan kedatangan Tsania.
" Boleh aku masuk ?" Tanya Tsania sekali lagi.
" Ada urusan apa ?" Tanya Lucas dengan dinginnya.
" Aku hanya ingin ngobrol santai denganmu."
" Rasanya, kita sudah tidak dalam keadaan yang pantas untuk saling ngobrol di tengah malam seperti ini."
" Hanya sebentar, 10 menit saja. Ada sesuatu yang mau aku omongin sama kamu. Please ." Ucap Tsania memohon.
Lucas seakan tidak bisa berkutik, Tsania teman lamanya, terlepas dari semua yang akhir-akhir ini terjadi diantara mereka.
" Ok, aku hanya memberimu waktu 10 menit."
Kemudian Lucas mempersilahkan masuk wanita itu, masuk kedalam kamarnya, hanya mereka berdua di dalam sana.
" Dari mana kamu tahu aku di sini ?" Tanya Lucas langsung tanpa basa-basi, dia tidak dalam mode untuk bisa diajak bicara santai apalagi ngobrol-ngbrol dengan wanita yang duduk di depannya itu.
" Oh aku tidak sengaja melihat Jimmy, jadi aku pikir kamu juga ada di sini."
Lucas tidak percaya.
" Bukankah kamu stay di Bali ?"
" Aku kangen papaku, jadi aku balik ke sini."
Lucas seakan lupa, orang tua Tsania tinggal di sini, jadi wajar saja jika dia ada di sini saat ini, Sempat terbesit Tsania berbohong dan mengikutinya, tapi lagi-lagi ia di sadarkan oleh kenyataan.
" Cepat katakan, ada apa ?" Lagi-lagi tidak ada keramahan di wajah Lucas.
" Apa kamu punya gelas ?" Tsnaia mencoba mengalihkan pembicaraan. Mengeluarkan sebuah Wine dari dalam kantong yang tadi di bawanya.
" Kalau kamu mau minum, jangan di sini, cari tempat lain." Ucap Lucas memperingatkan.
" Hanya satu gelas, temani aku minum, setelah itu aku akan pergi dan mungkin tidak akan lagi muncul di hadapanmu lagi." Ucap Tsania, lagi-lagi ia memohon agar Lucas menyetujui permintaannya.
__ADS_1
Lucas hanya diam, dia tidak tahu harus bagaimana. Tapi entah kenapa rasanya tidak ada salahnya, ia ingin memberi kesempatan terakhir untuk Tsania bertemu dengannya. Ini terakhir.