
Pagi ini Jingga bangun dengan perasaan yang bercampur aduk, bagaimana tidak pagi hari ketika dia membuka mata gadis itu berharap Lucas berada di sampingnya, nyatanya tidak ada, sejak tadi malam Lucas tidak pulang dan juga tidak menghubunginya.
Jingga tidak tahu apa yang harua dia lakukan, gadis itu sudah mencoba menghubungi suaminya itu, tapi hasilnya masih nihil, ponsel Lucas masih tidak bisa dihubungi.
Sempat terbesit untuk menghubungi Jimmy, dan bertanya dimana Lucas berada sekarang, karena tidak menutup kemungkinan, pria itu tahu atau bahkan saat ini bersama Lucas, tapi entah kenapa rasa ragu mengusik gadis itu, entah kerena malu atau memang takut menerima kenyataan kalau Lucas memang bersama Jimmy, tapi masih saja tidak mengabarinya, mengomel sendiri dan bertanya-tanya Kenapa tidak menyuruh Jimmy mengabariku, apa dia sengaja mematikan ponselnya.
Pikiran itu juga yang membuat Jingga kini bersikap untuk menunggu, karena dia berpikir dia akan bicara pada Lucas nanti saat dia kembali.
" Mbak Jingga mau berangkat kuliah ?" Tanya Nisa, saat menyiapkan sarapan untuk gadis itu.
" Iya." Jawab Jingga layu, raut wajah sedih tercipta di wajahnya.
" Mbak Jingga sakit ?" Tanya Nisa, penasaran.
"Nggak."
"Oh ya mbak, tadi malam tuan nggak pulang ?" Tanya Nisa. Dan Jingga hanya mengelengkan kepalanya menanggapai pertanyaan Nisa.
" Oh, sabar mbak, mbak Jingga pasti kangen ya, dulu tuan waktu belum nikah sama mbak Jingga, juga jarang pulang." Ucap Nisa mencoba menghibur.
" Tapi dia ngabarin kamu kan kalau nggak pulang ?" Tanya Jingga dengan bodohnya.
" Ha , ngabarin saya ? Emang saya siapa, mbak ini aneh aneh aja tanyanya ." Ucap Nisa sambil tertawa kecil.
" Iya juga ya." Ucap Jingga.
" Emang tuan, nggak ngabarin mbak Jingga ?" Tanya Nisa. Dan lagi - lagi Jingga hanya menggelengkan kepalanya.
" Mbak Jingga lagi bertengkar ya ?" Tanya Nisa seakan dia tahu. Jingga hanya diam tidak menjawab tidak juga memeberi isarat kepalanya.
Nisa yang menyadari pertenyaannya mungkin sudah terlancang meminta maaf.
" Maaf ya mbak, saya sudah lancang bertanya." Ucap Nisa menyesal.
" Saya berangkat dulu ya, Oh ya kalau nanti tuan pulang bilang aja saya ada kegiatan di kampus jadi pulang telat." Ucap Jingga sambil tersenyum, berusaha menyembunyikan kesedihannya.
" Baik mbak."
Kampus
" Kenapa muka lo kusut banget ?" Tanya Riva, saat berpapasan dengan Jingga ketika hendak masuk kedalam kelas.
__ADS_1
Tapi Jingga hanya diam, tidak menanggapi pertanyaan itu.
" Hey, di tanya diem aja, lo lagi ada masalah ?" Tanya Riva penasaran.
" Lucas marah sama gue." Jawab Jingga akhirnya, rasanya dia sudah tidak bisa menahan kesedihannya, dia butuh tempat untuk mencurahkan kesedihannya, dan rasanya Riva tampat yang tepat.
" Marah kenapa ?"
" Em, gue ..... nggak ..... mau ....diajak..." Ucap Jingga ragu, karena malu.
" Ngomong yang jelas, kenapa lo tiba-tiba gagap gitu sih, bikin gue penasaran." Ucap Riva kesal, melihat sikap Jingga.
" Gue... nggak mau diajak ..." Ucap Jingga sambil menepuk kedua tangannya.
Riva yang melihat itu semakin tidak mengerti.
" Ini apa ?" Tanya Riva penasaran sambil memeragakan tangannya seperti Jingga tadi.
" Ih, jangan pura-pura bego." Ucap Jingga kesal, kenapa Riva tidak mengerti, padahal dia sudah memberi isyarat dengan kedua tangannya, rasanya terlalu malu jika dia harus mengatakan sejujurnya, setidaknya dia berharap sahabatnya itu mengerti dengan isyarat tangan yang dia buat.
"Tunggu dulu, sebenarnya yang bego itu lo atau gue, siapa juga yang bakal mengerti dengan maksud lo, ngapaij juga pakai tangan lo gini-gini." Ucap Riva kesal, tangannya lagi-lagi menirukan isyarat Jingga tadi.
" Dia ngajak gue ML ." Ucap Jingga berbisik.
" Ha, Lo belum ML ." Teriak Riva tidak percaya, melihat itu dengan sigap Jingga langsung membumkan mulut Riva dengan tangannya.
" Mulut lo ya, kenapa lo nggak umumin aja pakai toa, biar semua orang dengar." Ucap Jingga kesal.
" Kalian belum malam pertama ?" Tanya Riva penasaran, raut wajah bersemangat sontak tercipta diwajahnya, mendengar cerita Jingga baginya akan menjadi hal yang menarik.
" Belum." Jawab Jingga malas.
"Kok bisa sih, dia masih normalkan ?"
" Maksud lo ?" Tanya Jingga kesal, pertanyaan Riva seakan menuduh Lucas, suaminya bukan pria normal.
" Iya aneh aja, kalian udah lama nikah udah hampir 6 bulan loh, dan sampai sekarang kalian belum ngapa-ngapain, selama ini kalian ngapain, main bola bekel tiap malam ?"
" Bukan, main lompat tali setiap malam, lagian kita itu baru aja memulai kehidupan baru setelah kehidupan palsu itu, wajar aja lah, selama ini kita nggak ngapa-ngapain."
" Tapi menurut gue, Lucas bener-bener cowok sejati, rela menunggu selama ini, padahal secara agama dan hukum kalian itu udah sah , dan dia bisa aja maksa dan ngelakuin itu ke lo, nyatanya dia rela menunggu, dan menurut gue wajar aja sih dia marah, penatian dia dan kesabaran dia lo tolak secara mentah-mentah."
__ADS_1
" Gue nolak secara halus."
" Sama aja, intinya tetap sama lo nolak dia, lo harus sadar dia itu suami lo, berhak atas diri lo, walaupun lo dulu nggak cinta tapi sekarang kenyataannya lo cinta sama dia, kalaupun kalian lakuin itu wajar dan sah-sah aja." Ucap Riva menjelaskan.
" Iya, tapi entah kenapa hatiku gue belum siap.".
"Emang apa yang membuat lo belum siap ?"
" Gue sedih aja, orang tua gue tidak tahu kalau gue udah nikah."
Riva menanggukkan kepalanya, mulai mengerti dengan alasan Jingga.
" Iya juga sih, tapi kalau menurut gue lo nggak bisa kayak gini terus, lo harus sadar selama ini selama orang tua lo pergi, Lucas yang selalu disamping lo, lo nggak bisa menggunakan alasan itu untuk menolak Lucas, ingat dia itu suami lo."
Jingga hanya diam, mendengar ucapan Riva ada benarnya juga.
Rasanya dia sudah bersikap egois, tanpa memikirkan perasaan Lucas sebagai suaminya.
" Terus gue sekarang harus ngapain ?" Tanya Jingga sedih.
" Ya lo minta maaf lah."
" Sejak tadi malam dia nggak pulang dan ponselnya mati."
" Ya lo cari dia lah, lo yang salah ya lo juga yang harus berusaha minta maaf, lo mau nunggu dia datang terus lo baru minta maaf."
" Apa gue telfon Jimmy ya, tanya ke dia ?"
" Emang lo belum telfon Jimmy ?" Tanya Riva.
" Belum, gue takut."
" Takut kenapa ? Ih gue gemes banget sama lo, sekarang telfon Jimmy tanya dimana Lucas dan segera lo minta maaf."
" Iya iya gue telfon dia sekarang." Ucap Jingga .
Jingga bergegas mengambil ponsel disakunya dan menelfon Jimmy.
Riva yang dari tadi sudah bersabar menahan emosinya karena kesal dengan sikap Jingga hanya bisa membuang nafas berat.
Kenapa gue bisa punya sahabat polos kayak gini sih.
__ADS_1