CEO Dingin Yang Bucin

CEO Dingin Yang Bucin
Kau telan itu part 2


__ADS_3

Hari ini Lucas sengaja mengosongkan jadwalnya untuk mengajak Jingga jalan-jalan, banyak tempat yang mereka datangi, salah satunya obelix hills sunset view, tempat wisata yang terletak di perbukitan wilayah prambanan atau sekitar 22 km dari kota jogja. Pemandangan objek wisata ini begitu indah, menyuguhkan deretan candi dan perbukitan gunung kidul secara langsung dari ketinggian, salah satu daya tarik utamanya tentu saja pemandangan matahari terbenam yang bisa di saksikan secara langsung saat sore hari.


Dan untuk hari ini juga, Jingga sengaja meminjam ponsel suaminya itu, ia harus selalu waspada bila mana Tsania mengirim pesan aneh-aneh lagi pada suaminya.


" Sayang, aku boleh pinjam ponsel kamu kan ?"


" Boleh, bawa aja, tapi kalau ada telpon dan pesan masuk dari kantor, kasih tahu langsung ya."


Orang kantor kan ? Jadi Tsania ngak termasuk kan ?


" Oke."


Masih siaga dengan ponsel Lucas, hingga suatu pesan masuk, membuat mata Jingga membelalak.


Seperti dugaannya, Tsania mengirim pesan.


Lucas sekarang kamu di mana ?


Aku kesepian, bisa kamu kekamarku ?


Jika kamu bosan, dengan Jingga, aku siap menemamimu .


Apa Jingga bisa memuaskanmu ? Kalau tidak, kemarilah .


Amarah Jingga langsung memuncak, bagaimana bisa seorang wanita, menggunakan cara murahan untuk mengoda suami orang. Jingga tidak habis fikir. Jingga merasakan giginya bergemretak membaca pesan yang baru saja kirim Tsania. Wanita itu secara terang-terangan mengoda, mengundang Lucas ke kamar hotelnya.


Ini wanita , otaknya di mana sih ?


Jingga mencoba tenang, bersikap biasa saja, agar Lucas tidak curiga padanya, Lucas tidak boleh tahu pesan Tsania yang kurang ajar ini.


Tapi sayangnya, itu tidak bisa, wanita itu kembali mengirim pesan.

__ADS_1


Jingga begitu gelisah, tangannya mengepal keras membaca pesan Tsania, sepertinya dia harus memberi pelajaran pada wanita ular itu.


" Kenapa sayang ?" Tanya Lucas, melihat Jingga yang begitu serius dengan ponselnya.


" Siapa sih yang kirim pesan ?" Tanya Lucas, penasaran dengan berusaha mengitip ponsel yang dipegang istrinya itu.


" Bukan siapa-siapa, cuma pesan penipuan kok yang katanya dapart hadian uang 145 juta." Ucap Jingga beralasan sambil menyembunyikam ponsel ke belakang.


" Oh, udah biarin aja."


" Sayang, ayo pulang ke hotel." Tiba-tiba Jingga menawarkan untuk balik ke hotel.


" Pulang ? Katanya kamu mau ke toko buku ?"


Jingga menggelengkan kepalanya.


" Nggak jadi, kita pulang aja aku mau tidur."


" Bukan tidur begitu, aku mau anu."


" Anu ? Sekarang ? Beneran ?" Tanya Lucas antusias.


Jingga hanya membalas dengan senyuman atas pertanyaan suaminya itu. Seketika wajah Lucas begitu bersemangat.


" Oke, aku juga mau anu ."


Lucas pun langsung menuruti permintaan Jingga untuk cepat-cepat kembali ke hotel. Jingga tersenyum lembut pada suaminya itu.


Sesampainya di kamar hotel, Jingga mengeluarkan sesuatu dari dompetnya dan meletakkanya di atas meja kecil di dekat pintu masuk.


" Mandi dulu." Tangan Lucas memeluk Jingga dari belakang.

__ADS_1


Jingga dengan cepat memutar guna menghadap pria itu, tangan satunya bermain-main di kancing baju bagian depan Lucas.


" Aku mau sekarang, gimana ? Bisa ?" Tanya Jingga dengan Nakalnya.


" Sekarang ? Di sini ?" Tanya Lucas, pria itu tidak menyangka Jingga akan berinisiatif duluan seperti ini.


Jingga tidak menjawab, jemari lentiknya makin nakal bermain, mengelur dada Lucas. Pria itu pun tidak tahan lagi. Langsung di ciumnya bibir yang sedang menggodanya itu. Sambil menuntun tubuh Jingga menuju ranjang. Tangannya terlalu terampil melucuti segala hal yang melekat pada istrinya itu.


" Tunggu, aku mau di sofa." Jingga menahan Lucas yang ingin mengulingkannya di atas ranjang.


" Sofa, terlalu sempit." Ucap Lucas


" Sempit lebih asyik." Ucap Jingga nakal.


Jingga langsung menarik Lucas menuju sofa. Dijatuhkannya tubuh itu di sana dan segera didudukinya Lucas. Ciuman mereka semakin menggebu, kemeja Lucas masih melekat di tubuhnya sudah berhasil di buka dan di lempar Jingga entah kemana. Hanya menyisakan celana panjang Lucas, dengan segera Jingga membuka kancing dan resleting lalu membuka sesuatu yang menutupi di balik sana. Dan Lucas tak mau kalah, di singkapnya ke atas rok Jingga, dengan posisi sedang memangku Jingga, keduanya sudah menyatu. Jingga melenguh, Lucas mengerang. Lucas bersandar di punggungs sofa , matanya mengembun dan tanpa ia sadari, kepalanya sudah di tarik oleh Jingga dan mereka kembali menyatukan bibir satu sama lain.


Jingga terus mencium Lucas cepat, tubuhnya juga bergerak pelan di pangkuan suaminya itu. Di dengarkannya suara pintu hotel mereka terbuka, senyum Jingga terbit. Di jauhkannya bibirnya dari Lucas, lalu di peluknya bahu pria itu sambil terus mende***. Bisa didengarnya juga erangan suaminya memasuki telinganya. Tepat saat itu juga Jingga melihatnya, Matanya bertemu dengan mata Tsania yang sedang membulat menatap ke arah sofa. Meski posisi sofa membelakangi pintu masuk, Jingga yakin wanita itu bisa tahu apa yang sedang mereka lakukan.


Sementara itu, Tsania yang begitu bersemangat masuk kedalam kamar hotel Lucas pun langsung terdiam ketika baru saja masuk.


Wajahnya berubah merah, bisa di lihat punggung Lucas dan sosok Jingga sedang bergerak teratur di pangkuannya. Bagaimana Lucas begitu memuja wanita yang ada di pangkuannya itu.


Jingga tersenyum kearah Tsania, sambil menunjuk kearah sesuatu yang ia letakkan di atas meja dekat pintu, credit card dan beberapa lembar uang tunai.


Tapi Tsnaia tidak mengambil barang itu, ia lebih memilih pergi dan segera menutup pintu itu.


Jingga tersenyum lebar, ketika suara pintu yang tertutup sudah terdengar, bukannya wanita itu sendiri yang ingin tahu bagaimana Jingga memuaskan suaminya ? Jingga hanya membatu menemukan jawaban secara nyata.


Jawabannya sudah jelas, Lucas sangat puas !


Sekali lagi ! Kau telan itu, wanita ular !!!!

__ADS_1


__ADS_2