CEO Dingin Yang Bucin

CEO Dingin Yang Bucin
Dika


__ADS_3

Sore ini seperti yang sudah Lucas janjikan, dia akan menjeput Istrinya, Jingga.


Lucas yang sedang bersandar di kursi mobilnya, sambil bermain dengan ponselnya, ia cukup panasaran seperti apa pesan yang di kirim Tsania.


Pria itu hanya bisa tersenyum geli melihat setiap pesan itu, karena pesan itu Jingga bisa cemburu. Tapi tiba-tiba ada satu foto yang membuatnya cukup kaget. Ya, foto yang diambil Jingga untuk membalas Tsania.


Oh pantesan, waktu itu, bangun-bangun baju ku sudah nggak ada, ternyata buat ini.


Lucas tersenyum puas, tapi tiba-tiba senyumnya hilang, saat mendengar nama Jingga, di sebut oleh seorang pria, di luar sana. Lucas melihat jelas sosok istrinya sedang berjalan ke arahnya, tapi tiba-tiba berhenti saat seoarang pria memanggilnya.


" Jingga !"


" Dika ?"


Lucas makin terkejut saat mendengar Jingga yang berucap sebuah nama. Itu artinya Jingga kenal dengan pria itu. Tangan Lucas meremas keras setir mobil di depannya.Pria itu semakin terguncang saat pria itu langsung memeluk Jingga, istrinya. Dan lebih marahnya lagi, Jingga memabalas pelukan itu.


Sialan siapa pria kurang ajar itu !!


Lucas merasakan wajahnya sudah memerah padam menahan amarah. Dengan cepat ia keluar dari mobilnya dan menghampiri Jingga. Namun, langkahnya terhenti saat di lihatnya mata Jingga yang sedang berkaca-kaca. Tidak, bukan berkaca-kaca lagi. Wanita itu menanggis.


Hal itu di dukung oleh pria berkaos hitam yang sedang mengusap air mata Jingga dengan jemarinya.


Lucas rasa akan lebih mudah jika Jingga menangis karena sedang di sakiti, maka Lucas tentu saja akan langsung menerjang pria di sana sekarang juga.


Namun, yang terjadi tidak seperti itu, air mata Jingga yang di lihatnya kini adalah air mata haru.


Ia tidak pernah melihat Jingga seperti ini. Terakhir Lucas melihat Jingga menangis saat dulu mereka awal menikah, sikap dinginnya, sikap seenaknya yang membuat Jingga tersiksa.


Lucas benar-benar tidak sanggup berkata apa-apa lavi sekarang. Ia harus segara mengetahui siapa pria yang tengah mengusapkan jemarinya di pipi istrinya itu.


Lucas meregangkan tangannya yang sedari tadi mengepal erat. Jemarinya mengatur menahan amarah dan rasa geram yang tengah menderanya. Ia mencoba menahan rasa meledak-ledak di dalam dirinya agar tidak berkobar.


Lucas benar-benar tidak menyukain pemandangan yang ada di depannya itu. Beberapa kali ia mencoba menahan tangan dan kakinya yang gatal untuk menyerang pria yang sedang bersama Jingga di sana. Sebab, bagaimanapun, ia masih di tempat umun, akan sangat tidak lucu jika besok akan muncuk di Headline News, yang menggambarkan jika seorang Lucas Arkana Putra melakukan perkelahian di kampus istrinya, selayaknya remaja labil.


Sstelah beberapa kali mengatur nafas dan sudah merasa cukup yakin jika ia tidak akan melayangkan tinju , akhirnya Lucas bergerak maju. Langkahnya menapak pasti, matanya tajam memelototi sosom pria di depan sana.


Ketika dirinya sudah tepat di samping Jingga, Lucas langsung memanggil nama istrinya " Jingga." , seraya meletakkan tangan kanannya di pinggang istrinya, dia ingin memberi tanda . Ini wanita ku !!


Suaranya terdengar datar dan dingin. Matanya membidik tajam sosok pria di hadapannya, mengukur kemampuan pria itu melalui pengamatannya.


Sialan, tampang pria ini ternyata ok juga !

__ADS_1


" Siapa ?" Tanya Lucas dingin yang tertuju pada si pria itu.


" Lucas, kenalin ini Dika, dia...."


" Bentar, Jingga. Biar aku yang bicara." ucap Dika, memotong ucapan Jingga.


Lucas yabg memang sudah dalam mode marah pangkat seribu itu makin bertambah marah saat pria itu terlihat sama sekali tidak bergetar akan tatapan tidak bersahabat yang ia lempar secara terang-terangan.


" Kamu siapanya Jingga ?" Tanya Dika.


Lucas mengegertakkan giginya geram, kala pertanyaan malah di balikkan oleb pria di depannya itu.


" Aku rasa, pertanyaan itu harus kamu dulu yabg jawab !"


Jingga mengamati kedua oorua di depannya secara bergantina. Namun, akhirnya, Jingga memilih memanjangkan satu tangannya,mencoba memisahkan dua pria yanh terlibat siap membunuh satu sama lain ini.


Jingga memegang bahu Dika, mencoba kembali berbicara.


" Dika, ini Lucas. Dia suamiku."


Mata Dika langsung melotot sangking dia tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengar.


" Iya."


" Kapan lo nikah ?"


" Ceritanya panjang."


" Dan Lucas, ini Dika..."


" Aku pacarnya Jingga."


Mendengar itu sontak mata Lucas meloto tidak percaya, siapa pria yang saat ini di depannya ini ? Bisa -bisanya dia bicara ngawur seperti ini.


Dan Jingga langsung memukul kepala Dika. Dan membuat Dika mengaduh kesakitan.


" Jangan bicara ngawur.Dika ini sepupu aku." Ucap Jingga.


Sepupu ?


" Kamu beneran suaminya Jingga ?" Tanya Dika.

__ADS_1


Dan Lucas hanya menganggukkan kepalnya.


" Kamu beneran sepupunya Jingga ?" Tanya Lucas, dia masih tidak percaya, ia ingin memastika sekali lagi.


Mendengar pertanyaan itu, Dika hanya tersenyum, bukannya menjawab Dika malah bergerak maju menuju Jingga, dan langsung merangkulnya.


" Jingga, dia nggak percaya ? Lagian nggak papa juga kamu nggak percaya, banyak orang yang lihat kalau aku sama Jingga itu kaya pasangan kekasih." Ucap Dika bangga, tapi seketika dia kesakitan lagi, karena Jingga menyikutnya dengan keras.


" Sekali lagi kamu bicara ngawur, aku lempar dari sini." Ucap Jingga.


" Ih, galak banget sih, kamu nggak berubah ya, masih kayak preman."


" Enak aja."


" Udah ayo Lucas, kita pulang. Kita tinggal aja, manusia ini di sini." Jingga menarik tangan Lucas, meninggalkan Dika yang masih berdiri kesakitan.


" Eh, tunggu." Dika mengejar, hingga menyaman posisi langkah Jingga dan Lucas.


" Aku ikut."


" Nggak."


" Terus aku gimana ?"


" Terserah."


" Padahal aku kesini buat ngasih tahu tentang om dan tante."


Seketika Jingga menghentikan langkahnya, Lucas dan Dika juga sama, ikut berhenti.


Jingga diam, tak bicara apapun, tatapannya dingin. Lucas yang menyadari itu, mengengam erat tangan instrinya itu. Dia tahu Jingga pasti sangat kaget mendengar kabar tentang orang tuanya.


" Mereka masih ingat kalau punya seorang anak ?" Tanya Jingga dingin.


Dika tidak menjawab, dia tidak tahu harus berkata apa-apa, pembelaan seperti apa yang membenarkan orang tua meninggalkan putrinya sendiri, dengan banhak hutang di mana-mana.


" Sayang." Lucas mencoba menenangkan dan memecah keheningan .


" Ayo kita pulang." Ucap Jingga, di tariknya tangan Lucas, menuju mobil. Lucas tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti tanpa banyak bertanya. Dia tahu betul bagaimana perasaan istirnya saat ini


Dan Dika, pria itu masih mengekor di belakang Jingga. mengikuti kemanapun Jingga pergi, karena memang tujuannya kesini adalah menemui Jingga.

__ADS_1


__ADS_2