CEO Dingin Yang Bucin

CEO Dingin Yang Bucin
Takut


__ADS_3

Sudah nyaris dua hari setelah kepulangannya dari Paris, Lucas masih mengurung diri di salah satu apartemennya. Yang dilakukan hanya mengurung diri. Dua hari itu pula minuman keras sudah menemaninya, botol-botol berserakan dimana-mana. Baju masih sama dengan terakhir dia pakai, ya Lucas belum mandi selama dua hari, tubuhnya seakan berat untuk melakukan itu, pikirannya begitu kacau, semua rasa dan berkemuk di hatinya, dia benar-benar mengutuk kebodohannya. Ia benar-benar kacau, dua hari berdiam diri seperti ini benar-benar tidak membantunya. Rasa sesal juga mengerubunginya saat ia mengingat kejadian di malam itu. Ia sangat menyesali malam itu. dipikirannya penuh dengan pertanyaan penuh rasa takut.


Bagaimana bisa dia melakukan itu bersama Tsania ?


Bagaimana dengan Jingga ?


Bagaimana jika istrinya tahu tentang apa yang terjadi di Paris ?


Bagaimana jika Jingga meninggalkannya ?


memikirkan itu saja sudah membuat Lucas tidak bisa berpikir jernih.


Kenapa dengan bodohnya dia bisa menghianati Jingga, wanita yang sangat ia cintai.


Sempat ia berpikir ingin membuat perhitungan dengan Tsania , tapi ia rasa itu percuma, semua kesalahan ada pada dirinya, semua terjadi karena kebodohannya, kenapa ia bisa dengan mudah masuk kedalam jebakan Tsania ?


Wanita sialan ! Segala umpatan telah lolos dari mulut pria itu, semua hewan di kebun binatang seakan sudah ia absen, untuk melampiaskan kemarahannya.


Hingga ponselnya tiba-tiba berdering, di lihatnya nama Jingga dilayar itu, Lucas membiarkan panggilan itu, tidak ada niat untuk mengangkat panggilan dari istrinya itu.


Lucas seakan tidak ada keberanian untuk bicara pada istrinya itu.


Dia hanya akan membalas pesan, tapi tidak untuk mengangkat telfon dari istrinya itu.


Berbagai alasan udah ia buat, agar Jingga tidak curiga.


Tapi waktu terus berjalan, tepat hari ini dia harus kembali, karena sesui rencana ini sudah 5 hari kepergiannya. Ia tidak ingin Jingga semakin curiga padanya.

__ADS_1


Lucas pun bersiap untuk mandi, ia akan pulang hari ini. Selesai berpakain rapi, Lucas pun menyempatkan diri untuk menelpon Istrinya itu. sekedar memberi kabar ia akan pulang.


Dan tidak butuh waktu lama bagi Lucas untuk bisa tiba di rumahnya. Setelah menarik pintu hingga terbuka, Lucas langsung melangkah masuk, namun kondisi kamar yang gelap benar-benar membuat perasaannya tidak nyaman. Dengan cepat, Lucas menekan sakelar dan cahaya pun sudah menerangi seisi ruangan.


Tidak ada keberadaan Jingga disana.


wajahnya seketika pucat pasi, ia panik.


Lucas mengusap wajahnya frustasi. Seketika, Lucas merasakan dingin membalur tubuhnya. Jingga tidak pergi meninggalkannya kan ?


Lucas mengambil ponsel di saku celananya, dengan tangan gemetar, Lucas mencoba mencari kontak strinya itu, lalu di dekatkannya ponsel ke telinganya. Namun, bukan nada sambung yang Lucas terima, melainkan suara operator yang mengatakan jika nomer yang sedang ia hubungi dalam keadaan mati. Lucas seketika merasa kakinya melemas dan tidak mampu lagi menopang beban tubuhnya.


Kemana Jingga ? Apa dia pergi meninggalkanku ? Apa Tsania sudah mengatakan tentang kejadian malam itu ? Tidak ! Jingga tidak boleh pergi dari hidupku!!!


" Sayang." Teriak Lucas panik. Ia berjalan kesana kemari mulai dari kamar mandi hingga balkon kamar itu, sekedar memeriksa dimana istrinya saat ini berada.


Ia segera keluar dari kamar itu, menuruni tangga sambul berteriak memanggil nama istrinya.


" Mana Jingga ?" Tanya Lucas pada Mira, saat berpapasan.


" Nyonya di belakang tuan, sedang masak buat tuan." Jawab Mira.


Lucas segera menuju tempat dimana Jingga berada, langkahnya seketika berhenti saat dari kejauhan ia bisa melihat wanita yang dicintainya sudah didepan matanya. Tubunya seakan lemas tanpa tenaga, keringat dingin sekan mengucur dari tubuhnya.


Entahlah, Lucas tidak mengerti ada apa dengan dirinya saat ini.


" Sayang, kamu udah pulang ?" Suara Jingga terdengar jelas di telinga Lucas, saat wanita itu menoleh kearahnya, senyuman manis tercipta dari sudut bibir istrinya itu.

__ADS_1


Lucas menyambut senyuman itu, dengan bahagia.


Untuk saat ini persetan dengan yang terjadi malam itu, karen yang terpenting sekerang. Jingga sudah di depan matanya, menyambutnya penuh cinta.


Lucad berjalan mendekat kearah wanita yang dicintainya itu, langsung memelukny dengan erat, seakan tidak akan membiarkannya pergi.


" Aku merindukanmu." Ucap Lucas pelan, di sambut. dengan senyuman oleh Jingga.


" Kalau rindu, kenapa telfonku nggak pernah di angkat ?" Tanya Jingga pura-pura marah.


Tapi Lucas hanya bisa tersenyum kecut, mencoba menutupi kebohongannya.


" Banyak pekerjaan di sana. Maaf kan aku." di kecupnya kening istrinya itu.


" Duduklah, sebentar lagi aku akan selesai, hari ini aku sengaja masak makanan kesukaanmu." Suruh Jingga.Dan Lucas hanya menggangguk, menuruti perintah istrinya itu.


Duduk sambil memperhatikan istrinya, membuatnya bahagia. Tapi-tapi lagi kejadian malam itu mengusik hati dan pikirannya, rasa bersalah berkecamuk dihatinya.


Bagaimana bisa ia melakukan itu ?


Jingga apa kamu akan memaafkanku ?


Apapun akan aku lakukan asal kamu tetap disisiku, aku tidak pernah membayangkan hidupku tanpamu !!


Aku akan mati jika kamu meninggalkanku !!


Nanti, entah kapan. Jika kami tahu tentang itu, kamu boleh melakukan apa saja, asal jangan pergi meninggalkanku !

__ADS_1


__ADS_2