
Kali ini Lucas kembali stuck dengan layar ponselnya. Lucas baru saja menembakkan amunisinya menuju perempuan itu. Sekitar sepuluh bukey bunga baru saja Lucas kirimkan menuju restoran Jingga. Sejsuh ini tidak ada satu pun wanita yang menolak pemberian Lucas.
Lucas tidak peenah mengirimkan bunga. Dia bisa saja langsung mengirimkan Gucxi, channel, Prada, Dior Louis vuitton , berserta kawan-kawannya Tapi berhubungan ini Jingga, bukan seperti wanita lainnya. Lucas tidak mau mau menambah rasa marah Jingga marah padanya.
Jingga pasti sangat menyukai bunga-bunga yang aku kirim.
Tiba-tiba ponsel Lucas berbunyi, dari kursinya Lucas nyaris melompat saat membaca nama kontak yang muncul. Nama Istriku Jingga tertulia disana.Senyum Lucas muncul seketika . Luar biasa, kalau tahu seperti ini, sudah dari kemarin Lucas mengirimkan bunga satu truk untuk istrinya itu.
Lucas tahu, Jingga tidak menelponnya karena menyukai apa yang ia kirimkan. Tapi masa bodoh, yang penting perempuan itu akhirnya mau menghubunginya. Satu lagi, sepetinya Jingga sudah tidak memblokir nomer Lucas lagi.
" Hallo ?" Suara Lucas menghalu oelan, senyumnya tidak bisa ditahannya.
" Ini aku, Jingga. Kamu di mana ?"
" Aku di kantor, kenapa ?"
" Aku mau ketemu sama kamu !"
" Biar aku jempu kamu, sekarang ?"
" Nggak perlu. Biar aku sendiri."
Panggilan singkat itu terputus dengan cepat. Tapi bukan itu yang menjadi pusat perhatian Lucas saat ini. Tidak hanya membuka blokiran whatssap, Jingga juga ungin bertemu dengannya.
Sialan ! Kalau tahu akan seperti ini, Lucas rela mngirmkan bunga sebanyak apapun. Masa bodoh kalau hal yang ia lakuin akan disukai atau tidak oleh perempuan itu. Yang jelas, Pancinganny berhasil !
****
Restoran Jingga
Awalnya Jingga mencoba untuk beraktivitas seperti biasa meski kedongkolan akibat kejadian kemarin masih menyisakan kekesalan yang perlu disalurkan. Jika dipikir-pikir lagi, Jingga sungguh tidak mengerti dengan pola pikir Lucas. Jingga sangat paham, Lucas memiliki ego yang tinggi dan tahu apa yang ia inginkan. Tapi, tiba-tiba memintanya kembali, saat dia mulai nyaman sendiri. Entahlah... Jingga sendiri bingung dengan perasaannya sendiri.
Dia pikir Jingga tidak bisa berdiri denhan kakinya sendiri, memang benar penghasilannya tidak akan bisa menyamarkan penghasilan Lucas. Tapi Jingga yakin, jika uang yang dihasilkan selama ini cukup, tanpa harus menyentuh uang yang setiap bulan Lucas itu kirimkan padanya.
Belum selesai kedongkolan yang ia rasakan, tepat saat membuka pintu ruang kerja, dahi Jingga berkerut melihat apa yabg ada didalam sana. Sekitar belasan buket bunga memenuhi ruangan kantornya. Kiriman bunga ? siapa yang kirim ?
" Tadi ada kurir gitu, Bu, yang datang. Mereka bilang ada kiriman bunga buat bu Jingga, ya udah saya iyain. Nggak taunya bukab cuma satu buket, ternyata mereka bawa hampir satu mobil."
Jingga hanya bisa menganga saat Risa menjelaskan kepada Jingga, perihal bunga-bunga itu. Setahu Jingga, restoran ini sudah lumayan lama dibangun dan diresmikan. Jadi kenapa ada kiriman bunga ?
__ADS_1
Jingga melangkah menuju salah satu buket yang berada paling dekat. Diambilnya sebuah kartu dari sana dan dibacanya sesuatu yang tertulis disana.
Aku tahu kamu paling suka bunga mawar, jadi aku kasoh buat kamu !
Suamimu tercinta.
Jingga kembali melongo. Suamimu tercinta ?
Jingga kembali mengambil kartu-kartu lainnya dari buket yany berbeda dan membacanya.
Bunga yang cantik untuk wanita yang cantik- Suamimu tercinta.
Aku merindukanmu sayangku- Suamimu tercinta.
Aku benar-benar minta maaf, kembalilah padaku -Suamimu tercinta.
Jangan marah lama-lama, nggak capek ya tiga tahun marah. Love you -Suamimu tercinta.
Jingga menarik napas dalam-dalam setelah membaca beberapa kartu ucapa. dari tumpukan bunga-bunga di atas meja. Dahi anya mengerut dahinya fristasi.Dia tidak tahu harus bagaimana. Sejak kapan Lucas jadi lebay kayak gini ?
Oleh sebab itu Jingga sekarang sedang melangkah di koridor kantor Lucas, dimana Lucas berada. Laki itu benar-benar harus disadarkan dengan segara. Apa tendangam diselangkangannya kamarin masih belum cukup ?
Sekarang tiba-tiba Lucas dimana-mana, hanya karena sebuah kejadian yang tidaj sengaja mempertemukan mereka kembali. Lalu secara tiba-tiba meminta Jingga kembali padanya dan laki-laki itu sekarang mengirimkan banyak buket bunga ke kantornya.
Sambil menarik napas pelan, Jingga berdiri depan pintu ruangan Lucas. Jingga masih ingat dan hapal diama letak ruangan Lucas itu. Sesaat kenangan masa lalu terbayang samar di ingatannya.
Ah... Kenapa aku jadi ingat hal-hal nggak penting itu.
Dan sekali ketukan pintu, Jingga mendorong pintu tersebut pelan.Seakan memang menunggu kehadirannya, diruangan itu hanya ada Lucas seorang yang duduk dikursi kerjanya dengan banyak berkas di mejanya.
" Aoa maksud kamu kirimkan bunga sebanyak itu ?" Tanya Jingga to the point, tanpa basa-basi, menyapa apalagi ngobrol santai.
" Oh, bunga udah sampai ? Gimana Suka ?"
Jingga speechles ketika Lucas malah berbalik tanya padanya.
" Apa aku terlihat menyukai bunga-bunga itu sekarang ?" Tanya Jingga ketus.
" Aku tawarin uangku, kamu pasti juga nggak mau. Uang yang aku kirimkan setiap bulan aja tidak pernah kamu sentuh." Ucap lucas santai, sembari berjalan menuju sofa lalu duduk di sana, tangannya memberi isyaray Jingga untuk ikut duduk disofa.
__ADS_1
" Aku serius ?" Tanya Jingga.
" Iya duduk dulu, dan tutup pintunya, kamu mau semua yang lewat tahu perdebatan suami istri ini." Ucap Lucas, tak lupa senyum manis tercipta di bibirnya itu.
Seakan diingatkan, di lihatnya pintu dibelakangnya masih terbuka.
Dengan segera Jingga menutup pintu itu, dan segera duduk, tepat di hadapan Lucas, tapi terhalang meja didepan mereka.
" Menurut kamu aku ngirim bunga satu mobil itu, aku nggak serius ?" Tanya Lucas.
" Pokoknya bawa pulang bunga-bunga itu. Aku nggak terima !"
" Kalau nggak mau ya buanh aja ! Toh aku nggak ngarep kamu bakal terima."
"What ?! Jadi apa maksud kamu kirim bunga ini buat aku ? Jelas-jelas sudah tahu nggak bakal aku terima !"
Mendengar nada bicara Jingga yang semakin naik, Lucas memajukan tubuhnya, menyondongkan kepalanya hingga jarak antara mereka semakin dekat, walau terhalang meja.
" Alasanya ? Ya, kayak sekarang. Biar bisa lihat kamu dari jarak kurang dari satu meter. Biar dengar suara kamu secara langsung. Biar bisa natap wajah kamu tanpa penghalang. Walau ada meja sialan ini !"
Jingga yang tampak bingung, melihat sejenak meja yang sudah di buat Lucas bertumpuan menahan tubuhnya.
" Dasar gila ?" Ucap Jingga.
" Gila karena kamu, istriku !" Ucap Lucas ssmbari tersenyum.
Melihat wajah Jingga yang memerah padam mendnegar ucapan Lucas tak tahan untuk terus tersenyum.
" Apa-apa senyum-senyum ? Kamu kira aku lagi ngelawaj, hah ?" Tanya Jingga judes pada Lucas.
Lucas menggeleng. Masih dengan senyuman tipis di bibirnya. Laki-laki itu menatap Jingga lurus. Kini posisinya sudah kembali seperti semula.
" Sebenarnya mau kamu apasih ?"
" Kan aku sudah bilang, kembalih padaku."
Jingga mengangga...
Akh..... Lucas kenapa kamu sangat menyebalkan !!!
__ADS_1