
Lucas mencoba tenang, saat ini bukan waktunya untuk kesal dirinya di panggil Pak oleh istrinya yang sudah lama tidak bertemu, sejujurnya Lucas berharap Jingga akan memanggilnya dengan panggilan sayang seperti dulu.
" Kamu mau Booking restoran malam ini ?" Tanya Jingga sekali lagi.
Tapi Lucas tidak menjawab, ia mengelilingi ruang kerja Jingga. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Seolah sang pemilik ruangan tidak berada di sana.
Seharusnya Jingga tahu sekali dia bertemu dengan laki-laki ini, maka akan sulit untuk menghindar.
" Ruangan kamu bagus. Aku suka." Komentar Lucas.
Jingga mendelik mendengar ucapan Lucas, tidak peduli dengan komentar laki-laki itu soal ruangannya, Jingga menghembuskan napas jengah sambil menatap tajam Lucas.
" Bisa kita duduk dan mulai bicara bisnis ?"
Lucas menghentikan langkahnya sejenak, mulai berjalan menuju sofa yang di sediakan. Jingga hanya memberikan tatapan jengah untuk laki-laki itu. Dia seperti sudah bosan dengan tingkah Lucas yang seolah ingin menarik perhatian Jingga lewat pesonanya.
Untuk sebagian perempuan di luar sana, mungkin melihat gerak-gerik Lucas bisa membuat mereka histeris. Tapi, tidak berlaku bagi Jingga, ia justru merinding. Kalau dipikir-pikir, kenapa dulu ia bisa manikah dengan Lucas ?
" Oke, Aku ulangi lagi. Kamu mau boo**king seisi restoran ?" Tanya Jingga dengan penuh penekanan.
Lucas mengganguk. Keduanya sedang duduk berhadapan di sofa ruang kerja Jingga. Membuatnya bisa dengan leluasa melihat sosok Jingga tepat dihadapannya.
Hari ini, Jingga sedang memaki dress selutut berwarna biru, warna favorit istrinya itu. Tidak seperti sebelumnya yang dibiarkan tergerai, kini Jingga menggulung rambutnya, membuat Lucas bisa dengan jelas memandangi leher jenjang istrinya itu.
Sia*lan ! Jingga terlihat sangat sexy ! Sudah lama aku tidak.....
" Ehm ! Kata pegawaiku kamu mau booking untuk malam ini dan nggak ada acara khusus, benar ?" Ulang Jingga.
Jingga sengaja berdehem cukup keras karena menyadari arah pandangan Lucas yang tidak fokus padanya, melainkan ke arah lain.
Nih, laki-laki liat kemana, sih ? Sama sekali tidak berubah ! Dasar mesum !
" Benar."
" Ini serius ? Tidak maksud lain-lainkan ? Sejujurnya aku akan bersikap profesional, terlepas siapa kamu. " Ucap Jingga dengan tegas.
" Tidak ada maksud apa-apa, aku cuma laper pengen makan."
" Makan dirumah bisa."
__ADS_1
" Nggak bisa nggak ada kamu."
Terus selama 3 tahun ini kamu nggak makan ?
Jingga membuang nafas, mencoba mengatur emosinya, entah kenapa Lucas kemari malam ini, snegaja ingin menguji kesabarannya.
" Aku serius, aku nggak bisa makan kalau nggak ada kamu ." Ucap Lucas mencoba meyakinkan, tapi sayangnya Jingga malah membalas dengan senyuman kecut.
Untuk beberapa saat, ruangan itu mendadak hening, baik Jingga maupun Lucas sama-sama diam. Terlebih Jingga, dia seolah tidak percaya lagi setiap ucapan Lucas.
" Aku serius mau booking restoran malam ini." Ucap Lucas mencoba memecah keheningan, mencoba menghilangkan kecanggungan.
Eh, ini Lucas baru bilang gitu doang, belum ngajak balikan, belum memohon untuk Jingga kembali padanya. Tapi kenapa reaksi Jingga udah kayak jijik banget begini, sih !"
" Kalau seperti itu,maaf kayaknya nggak bisa ." Jingga menolak permitaan Lucas.
Alis Lucas naik sebelah.
Nggak bisa ! Nggak bisa yang mana, nih ! Nggak bisa masalah diseriusin apa masalah booking restoran ?
" Nggak bisa kenapa ?" Tanya Lucas langsung.
" Karena nggak sesuai sama visi misi restoran ini dari awal, kami memang mengedepankan pelayanan. Tapi kalau kasusnya yang seperti kamu bilang, restoranku nggak bisa. Karena menurutku, pelayanan kami jadi nggak bisa maksimal dan mendadak juga.Maaf."
" Oke, nggak masalah. Aku bisa cari restoran lain. Lagian, ini juga sebenarnya nggak segaja lewat dan ternyata yang punya adalah kamu." Ucap Lucas berbohong, dia mencoba mempertahankan harga dirinya karena di tolak.
Jingga mendengkus pelan, giginya bergemeletuk menahan rasa kesal yang siap meledak. Tolong ingatkan Jingga untuk membuat pengumuman resmi kepada para pegawainya agar mem-blacklist laki-laki ini dan daftar tamu restorannya. Sambil terus menahan rasa kesal, Jingga menyodorkan tangannya kepada Lucas untuk mengajaknya bersalaman.
Lucas yang masih duduk bersandar di sofa pun siap menyambut uluran tangan tersebut.Namun, saat tangannya akan menggapai tangan Jingga, Lucas melihat cincin tersemat jari manis Jingga.
" Maaf, aku nggak bisa penuhi permintaan kamu, dan jujur aku berharap tidak ada kerja sama diantara kita." Ucap Jingga dengan santai, tak lupa senyum manis tercipta di bibir merahnya.
Lucas merasakan rahangnya mengeras. Dia sudah tidam memedulikan lagi ya g diucapkan Jingga saat ini. Apa yang ada di kepalanya hanyalah sebuah pertanyaan, kenapa bisa ada cinxin di jari manis Jingga ? Itu bukan cincin pernikahan mereka ? Terus itu apa ? Apa selama ini Jingga diam-diam sudah memiliki pria lain ?
Tidak bisa ! Ini tidak mungkin ! Bahka pernikahan kami masih sah di depan negara ! Jingga tidak mungkin .
" Sepertinya hidup kamu benar-benar bahagia ya selama 3 tahun ini ?" Tanya Lucas dengan nada menyindir. Dia sudah tidak bisa berpikir jernih.
Jingga tampak bingung saat Lucas tiba-tiba berbicara seperti itu.
__ADS_1
" Ya aku selama tiga tahun ini baik-baik saja, dan bahagia."
" Walau tanpa aku disisimu ?" Lagi-lagi Lucas bertanya dengan menohok.
Jingga hanya bisa tersenyum kecut, mendengar itu.
Lucas mengepal tangannya dengan keras. Seakan tidak bisa menahan perasaan setelah melihat cincin di jari Jingga. Lucas harus mencari tahu apa arti cincin itu.
" Tiga tahun aku diam dan menunggu, memberimu waktu. Tapi,, ternyata, ini yang aku dapat." Lucas tidak bisa menganti nada bicara yang seolah menyindir itu.
" Maksud kamu apa sih ?" Tanya Jingga bingung, dia semakin tidak mengerti maksud ucapan Lucas.
"Cincin di jari kamu ?"
" Cincin ?" Jingga masih bingung, tapi akhirnya sadar. Sejenak dia melihat jari manisnya, dimana tersemat cincin di sana.
Lagi-lagi Jingga hanya tersenyum.
" Ini benda keberuntunganku." Ucap Jingga membanggakan benda itu.
Mendengar itu semakin membuat amarah Lucas mendidih. Rasa marah berkecamuk dihatinya.
" Ini cincin pernikahan orang tuaku." Ucap Jingga tanpa sadar.
Tunggu dulu, kenapa aku harus menjelaskan cincin ini pada Lucas !
Lucas mengerjap.
Jadi itu bukan cincin dari pria lain ? Baguslah, Aku yakin Jingga masih mencintaiku !
" Terus cincin pernikahan kita mana ?" Tanya Lucas dengan polosnya.
" Nggaka tahu, hilang mungkin." Jawab Jingga dengan santainya.
Deg
Lagi ! Ketenangan hanya berlaku beberapa detik, bagai terbang tinggi lalu jatuh dengan kerasnya.
Dia membuang cincin pernikahan kita !
__ADS_1
Ketika wajah Lucas menjadi muram.
Rasa kecewa berkecamuk dihatinya. Cincin pernikahan tidak pernah ia lepaskan dari jari manisnya, selalu tersemat disana. Lucas terus melihat cincin di jari manisnya itu. Menatap nanar cincin itu, seakan harapannya untuk bersama Jingga sudah sirna.