Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Keusilan Arend, Daniel jadi bodoh


__ADS_3

Kondisi Alena sudah sangat membaik. Wanita itu sudah diizinkan untuk pulang. Raut wajah wanita hamil itu sangat cerah karena mendapat kebahagiaan yang bertubi-tubi setelah musibah yang dia alami. Kemarin, dirinya mendapat kunjungan dari Arul pamannya bersama dengan Rara dan Tasya sepupunya.


Walaupun dirinya sudah bertemu dan mungkin sudah dekat dengan Tasya, wanita itu tetap saja bahagia karena baru mengetahui kalau wanita itu ternyata sepupunya.


"Sayang, ayo pulang!" suara Arend tiba-tiba menyadarkan Alena dari lamunannya.


"Hmm, tunggu sebentar lagi, Sayang! Rara sama Tasya katanya akan ke sini. Mereka mau ikut menjemput aku pulang," Alena berucap sembari melihat ke arah pintu.


"Kenapa kamu senyum-senyum? kamu tidak sedang memikirkan istriku kan?" bentak Arend pada Daniel yang tiba-tiba senyum-senyum sambil menatap Alena istrinya.


"Te,-tentu saja tidak, Tuan! aku mana berani melakukannya," sangkal Daniel dengan cepat sembari menunduk kepalanya.


"Aku hanya senang saja, Tuan karena sebentar lagi, aku bisa kembali melihat lagi wajah cantiknya," batin Daniel sambil membayangkan wajah wanita yang berhasil menarik perhatiannya dan membuatnya selalu terbayang. Siapa lagi wanita itu kalau bukan Rara.


"Sayang! jangan marahi dia!" protes Alena, dengan mata yang mendelik tajam ke arah Arend.


"Terima kasih, Mbak! kamu memang yang terbaik," ucap Daniel yang tentunya hanya berani dia ucapkan dalam hati.


"Hai Alena, apa kamu sudah siap untuk pulang?" tiba-tiba Tasya dan Rara masuk dan menyunggingkan senyuman lebar ke arah Alena.


"Tentu saja!" sahut Alena dengan semangat.


Sementara itu, tatapan Rara langsung mengarah ke arah Daniel yang tersenyum kikuk ke arahnya.


Perilaku Daniel tentu saja tidak lepas dari tatapan Arend. Pria itu seketika tersenyum penuh makna. "Sepertinya pria kaku ini, sedang jatuh cinta. Ini pasti alasan mengapa dia senyum-senyum tadi, " bisik Arend pada hatinya sendiri. Kemudian pria itu terlihat sedang menekan-nekan tombol di ponselnya, mengirim pesan pada seseorang. Entah pada siapa, hanya dirinyalah yang tahu.


"Kamu suka Rara ya?" bisik Arend yang ternyata sudah berdiri di samping Daniel.


"Hooh!" jawab Daniel, santai. Pria itu tidak menyadari siapa orang yang baru saja bertanya padanya.


"Saran aku sih, sebaiknya kamu langsung ungkapin aja, sebelum kamu keduluan sama orang lain. Soalnya jaman sekarang, siapa cepat dia dapat," kembali Arend berbisik. Pria itu benar-benar merasa geli melihat ekspresi Daniel yang tiba-tiba seperti orang bodoh karena jatuh cinta.

__ADS_1


"Emm, seperti itu ya? ah, kalau begitu aku harus bertindak cepat. Aku tuh orangnya susah jatuh cinta, Sob. Aku yakin kalau wanita itu bisa buat aku jatuh cinta, dia pastilah orang yang istimewa. Jadi, aku tidak boleh kehilangannya," ucap Daniel dengan sungguh-sungguh. Pria itu, masih belum menyadari dengan siapa dirinya berbicara. Sampai-sampai dia memanggil bosnya sendiri dengan panggilan akrab 'sob'.


"Menurutmu, apa aku aku harus membelikan dia bunga saat ngungkapin perasaanku padanya?" Daniel meletakkan tangannya ke pundak Arend dengan mata yang tetap menatap Rara yang asik bercengkrama dengan Alena dan Tasya. Pria itu memperlakukan Arend seperti sahabat karibnya.


"Terserah kamu! kalau menurutmu itu baik, ya go ahead!" entah kenapa Arend merasa tidak keberatan dengan sikap Daniel. Justru pria itu. berusaha menahan tawanya dari tadi. Dia melihat sisi lain Daniel yang biasanya tampak tegas, bisa bodoh karena sedang jatuh cinta.


"Hmm, baiklah! nanti aku akan belikan dia bunga yang mahal, karena sekarang aku punya banyak uang. Asal kamu tahu, gajiku sekarang sangat besar. Bahkan untuk bisa membeli mulutmu mungkin aku mampu." Daniel mulai menyombongkan diri tanpa melepaskan pandangannya dari Rara.


"Menurutmu, bunga seperti apa yang dia suka?"


"Mana aku tahu? apa kamu mau aku bertanya padanya? tapi aku tidak bisa jamin kalau nantinya dia tergoda denganku, karena aku juga sedikit tertarik dengannya," Arend kembali menggoda Daniel yang seketika bereaksi mendengar ucapannya.


"Awas kalau kamu be-ra-ni," ucap Daniel yang tiba-tiba melemah pada kata berani. Karena akhirnya dia tersadar dengan siapa dirinya berbicara.


"Tu-Tuan Arend! ke-kenapa bisa jadi anda?" ucap Daniel gugup sembari menurunkan tangannya yang sempat mencengkram kerah Arend.


"Kenapa tidak lanjutkan, Sob? ayo teruskan saja marah-marah?" goda Arend dengan memasang wajah pura-pura marah.


"Kenapa dengan kalian berdua? apa yang terjadi?" tegur Alena yang kaget melihat interaksi antara Daniel dan Arend suaminya yang tampaknya sedang bersitegang.


"Ti-tidak ada apa-apa, Mbak. Hanya sedikit berakting, iya kan, Sob?" Daniel tanpa sadar kembali memanggil Arend sob sambil menyikut lengan Arend, seperti meminta pada seorang sahabat untuk mendukung ucapannya.


"Hei beraninya kamu!" bentak Arend sambil memasang wajah garangnya.


"Astaga! Ma-maaf sekali lagi, Tuan! aku benar-benar tidak sadar! " Daniel menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dengan raut wajah yang meringis. Malu dan takut, kini bercampur menjadi satu. Malu pada Rara dan takut dipecat oleh Arend.


"Kamu ya, bisa-bisanya jadi bodoh karena jatuh cinta. Baru kali ini ya kamu jatuh cinta?" Arend sengaja meninggikan suaranya.


"Iya, Tuan!" jawab Daniel dengan cepat tanpa sadar. "Eh, bu-bukan!" sangkalnya kembali setelah kembali sadar.


"Emangnya, kamu sedang jatuh cinta ya, Daniel? kamu jatuh cinta pada siapa?" Alena menarik sedikit keningnya ke atas, penasaran.

__ADS_1


"Siapa lagi kalau bukan sama sepupumu, Sayang." Arend menjawab dengan cepat sebelum Daniel menyangkal. Sementara itu, wajah Daniel sudah berubah warna menjadi merah, karena menahan malu.


"Sepupuku ada dua, yang mana satu nih?"


"Rara!" kembali Arend yang menjawab, membuat Daniel semakin malu dan tidak sanggup untuk mengangkat wajahnya lagi.


Sementara itu, Rara juga ikut-ikutan merona. Wanita itu terlihat menundukkan kepalanya. Tasya tersenyum sambil menyikut lengan kakak kembarnya itu.


"Cie, cie ada yang lagi malu-malu nih," bisik Tasya, menggoda Rara.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari arah pintu.


"Masuk!" titah Arend dengan suara yang sedikit tinggi.


"Tuan Arend, ini pesanan anda," ucap seorang pria yang merupakan anak buah Arend dengan sebuket bunga mawar merah di tangannya.


"Oh, kamu tolong kasihkan pada Daniel. Karena itu pesanannya!" titah Arend yang membuat Daniel terkesiap kaget karena merasa tidak pernah memesan bunga.


"Ta-tapi, Tuan ... aku kan tidak __"


"Bukannya tadi kamu mau membelikan bunga yang mahal untuk Rara? katamu kamu sudah memiliki banyak uang karena gajimu sangat besar," sindir Arend berusaha menahan tawanya.


"Nih, bunga pesanan kamu, Niel!" Pria yang baru masuk itu, meletakkan bunga itu langsung ke tangan Daniel dengan bibir yang tersenyum geli.


"Berani-beraninya kamu tersenyum! awas kamu nanti!" bisik Daniel pada pria yang merupakan rekan kerjanya sekaligus bawahannya.


Pria itu terkekeh, tidak merasa takut dengan ancaman Daniel yang menurutnya hanya menggertak saja.


"Aku izin keluar kembali, Tuan Arend, Ibu Alena, Mbak," ucap pria itu dan langsung melangkah keluar setelah mendapat jawaban 'iya' dari orang-orang yang berada di ruangan itu.


"Kamu tunggu apa lagi? aku udah bantuin kamu pesan bunganya. Sekarang kamu kasih ke Rara dong!" Arend mendorong tubuh Daniel ke arah Rara. Wajah pria itu benar-benar sangat pucat dan peluh sudah menetes saking groginya. Pria itu bahkan kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2